
"Gitu aja takut sama kecoa." ujar Asna.
Yang saat itu, reflek langsung berdiri. Dimana melihat Irham ikut berdiri, dan masih merinding.
"Dari dulu kamu cewek langka, biasa cewek tuh takut sama kecoa. Parah .. Kamu itu, pak saya ikut ke kamar kecil ya!" teriak Irham.
"Ya kang, Asiaap .. Maaf soal binatang tadi ya, biasanya mah enggak pernah ada."
"Hm .. " Meringis Irham yang membuat mata nya masih bergidik, sementara melirik Asna sedang mencuci tangan.
Asna pun kembali duduk, menunggu Irham yang kembali. Setelah beberapa saat, Irham kembali bukan tanpa alasan Irham tidak jadi makan, ia meminta pemilik membungkus saja. Terlebih jus nya juga di bungkus begitu saja.
"Pak, minta di bungkus aja ya. Saya agak telat soalnya."
"Siap kang."
Asna pun memegang tangan Irham, dimana saat itu Irham panas dingin. Bukan tanpa alasan, kali ini Irham terlihat pucat.
"Ka- kamu kenapa Irham, kita pulang aja ya. Aku yang setir nanti!"
"Aku gak apa apa kok As. Beneran deh."
"Gak apa apa gimana, aku tahu kamu kaya gini pasti bukan cuma takut karena jijik, kamu phobia Kecoa ya?" tanya Asna, tapi Irham hanya diam.
"Pak di bungkus juga ya." ujar Asna, dimana saat ini ia kembali melihat Irham yang terlihat ingin muntah muntah.
"Aku duluan ke mobil ya As. U .. Week .." tersentak Irham berlari.
Dan saat ini, kala semuanya selesai. Asna mengambil beberapa pesanan mie ayam dan jus yang telah di siapkan pelayan, bukan tanpa alasan kali ini terlihat Asna mengejar Irham, dimana Irham masih mual mual di belakang mobil ia parkir.
"Ir, nih minyak kayu putih. Kamu pake ini dulu, tisue basah dan tisue kering, kebetulan di tas aku ada."
"Thanks ya As."
Dimana kali ini, Irham terlihat lemas sekali. Asna pun meraih kunci mobil milik Irham, yang ada di saku celana menggantung.
"Udah baikan belum, biar aku aja yang setir. Aku bisa kok."
"As .. Emang kamu bisa nyetir mobil?"
"Bisa .. Tapi terakhir setahun lalu." tawa renyah.
"Udah gak usah, biar kita naik taksi aja. Mobil nanti aku suruh orang yang bawa jemput."
"Aku bercanda, udah aku aja yang bawa."
Irham pun tak bisa berkutik, dimana Asna memundurkan mobilnya, dan kini terlihat pelan pelan dan berjalan dengan hati hati. Irham yang benar benar tidak nafsu makan karena kecoa, ia langsung bersandar seolah sedang mabuk layaknya ibu hamil pada trimester awal.
Dalam beberapa puluh menit, sampai gerbang yang terbuka. Asna keluar dari mobil setelah memarkir, dimana saat itu ia memanggil security.
"Pak Asep, tolong bapak ya! Biasa lagi kurang sehat."
"Wah siap bu. Dari mana ini si bapak?"
"Ketemu musuh, yang hitam itu kecil itu, tolong sekalian antar ke kamar nya ya. Biar barang barang saya bawa langsung ke ruangan kantor. Masih ada kerjaan juga soalnya." gerutu Asna, yang membuat Asep mengangguk.
Dan kali ini terlihat sekali sejak beberapa jam kemudian, Asna yang sibuk mengerjai laporan dan bahan klien dari Amerika untuk esok siang, ia segera membereskan tanpa sosok Irham yang kini di kamarnya mungkin masih tidur bagai orang pingsan.
Meletakkan pena, kali ini Asna melihat foto Irham kecil yang ditengah ada dirinya.
"Kenapa aku enggak tahu kalau kamu sebenarnya phobia kecoa ya? Yang aku cuma tahu, itupun dari tante Marisa, kamu hanya takut saja. Agak aneh, kenapa kita sahabatan tapi aku enggak tahu sisi buruk kamu seperti ini sih." lirihnya membuat Asna kecewa.
Pegal .. Membungkuk badan, dan berdiri. Asna pun bersiap untuk pulang ke apartemennya, sebab melihat jam sudah pukul 7. 30 malam, Asna berencana shalat isya lebih dulu agar sampai di kediamannya ia langsung tidur.
Jlegeur ..
Asna yang kala itu segera bersiap ke musholla di lantai bawah, ia segera menunaikan ibadah, berharap setelah ini hujan segera berhenti atau sedikit reda.
"Bu Asna udah mau pulang?" tanya Asep.
"Iya nih, udah jam 8 lewat juga. Pak Irham enggak usah dibangunin, saya udah pesen taksi kok."
"I- Iya bu Asna hati hati. Tapi apa enggak sebaiknya nginap di rumah sebelah aja bu, hujannya deras Loh."
"Enggak usah, takut tetangga bising. Udah ya Asep, saya berangkat dulu. Taksi nya udah dateng juga." ramah Asna.
Jalan Matah, apartemen Castil ya bu? Tanya supir.
Iya pak!! Balas Asna.
Namun saat Asna akan membuka pintu taksi, sebuah tangan tiba saja menghentikan, membuat Asna menoleh kala itu.
"Ir .. Kamu udah bangun?"
"Aku masih butuh bantuan kamu, besok bareng aku aja!"
Pak Supir! Ini ongkos nya, Penumpangnya batal, saya minta maaf! ( Irham memberikan beberapa lembar uang, dimana supir pun mengangguk.)
"Perasaan tadi aku udah kerjain semua deh emang kamu udah cek ada yang salah?" tanya Asna.
"Aku mau kamu temani aku, biar aku cek agar besok siang enggak ada kesalahan." bisik Irham, membuat Asna mematung.
Entah bagaimana mata Asna sedikit tak percaya, apalagi kini si supir pergi. Dan Asep seolah kembali ketempat nya sambil berteriak.
"Pak Irham, 8 kg kan. Saya berangkat dulu." teriaknya meraih kunci mobil seperti akan pergi.
"Iya, makasih pak Asep."
"Asep mau kemana Ir .. Kok dia pergi?" tanya Asna.
"Biar aja, dia kan kerja. Tadi katanya istrinya ngidam pengen lemon sama mangga muda, terus aku juga kepingin asem asem. Jadi beliin aja yang banyak, aku paling minta beberapa buah aja. Sekalian kasbon si Asep mah."
"Ooh .." manggut Asna, seolah percaya saja.
Dan beberapa saat kemudian, Asna yang duduk disebelah Irham yang kini serius mengecek laporan, seolah membuat mata Asna terpaut tidak beres, karena saat ini matanya berkunang kunang melihat Irham.
'Ssst ... Kok aku pusing ya?'
"Yang ini As .. Kamu kayaknya sal .." menoleh Irham, terdiam melihat Asna memegang tangannya.
"As .. Asna .. Kamu kenapa?"
Bahkan suara Irham terlihat manis, entah mengapa Asna merasa panas di sekujur tubuhnya, hal ini membuat Asna berdiri dan membuka dua kancing kemejanya.
"As .. Astaga .. Kamu kenapa?" tanya Irham.
"Aku enggak tahu, apa aku salah makan ya. Padahal tadi aku belum makan apa apa, cuma tadi sempat minum yang di kulkas, kopi yang suka kamu minum deh kayaknya. Aku nyoba .. Apa karena sakit ini, aku enggak boleh minum kopi ya. Pusing banget Ir."
Asna benar benar pudar melihat Irham, bahkan nampak sekali melihat Irham yang pergi menjauh, nampak sekali terlihat eksotis bagi pandangan Asna kali ini.
Irham yang mengecek makanan dan minuman yang ia beli, nampak sekali masih utuh, Lalu melihat isi kulkas minuman semuanya masih utuh miliknya.
"As .. Kamu minum kopi apa, kopi di kulkas aku masih utuh. Jangan bilang kamu minum punya .." terdiam Irham.
Irham kaget, ketika sosok tangan lentik itu sudah memeluknya dari belakang, hingga tatapan Irham sedikit kaku.
TBC.