
Pernikahan di kediaman Irham, membuat suasana nampak sederhana dari orang terdekat dan relasi kantor, termasuk Zack mantan bos Asna, dan Rain yang Asna angkat menjadi CEO di PT Nusa Sakti baru.
"Kamu tau gak, Nusa Sakti akan berubah jadi Nusa Bahrain, atau PT Hasna Bahrain, aku cuma menduga duga sih." lirih Linda yang menyantap desert, dimana mendekati Rain.
"His .. " lirih Rain, ia bergeser tak peduli ke arah lain.
Apalagi memang benar nama perusahaan tersebut akan diresmikan dan diganti menjadi PT Nusa Bahrain, sebab kepemilikan milik Irham, yang Irham sendiri nampak ingin memberikan aset diam diam untuk Asna Wijaya.
Ijab kabul di KUA, berjalan dengan lancar, bahkan mereka menggelar makan bersama di kediaman Irham nampak sederhana, dan nampak sekali beberapa dari mereka nampak antusias, dimana memberi selamat kepada pasangan pengantin yang cukup serasi.
Linda kembali mendekati dan berbisik pada Rain, "Sangat cocok, bu Hasna itu sangat baik, lembut, pantas jika bu Hasna mendapat suami seperti pak Irham." lirihnya membuat Rain, nampak sedikit patah hati.
"Dia memang baik, justru pak Irham yang beruntung mendapat Asna Wijaya." balas Rain, lalu membawa minuman dan pergi.
Linda nampak terkejut aksi sikap Rain, yang mungkin membuat dirinya bertanya tanya, bahkan kini ia kembali memakan hidangan yang tersedia, tanpa memikirkan hal hal lain lagi.
"Tunggu pak Rain, apa anda mengenal dekat dengan bu Hasna?" tanya Linda kembali mendekati.
"Bukan urusanmu, yang jelas aku tahu salah satu pengantin disana, dia sahabat istriku dan teman seperjuangan." jelas Rain, dan pergi.
"Bukan urusanmu, tapi dijelaskan juga." lirih Linda yang sedikit miringkan bibirnya, dan kembali makan desert.
Sementara di berbeda tempat, nampak pasangan Asna dan Irham saling menatap, Asna mencium tangan Irham dengan penuh kelembutan dan perasaan yang penuh hormat. Bagi Asna, ia percaya hatinya pada Irham akan selalu menjaga dirinya, sebaik baik pria yang ia kenal, tidak ada yang seperti Irham, mungkin ada hanya 1 : 10 dibelahan bumi ini.
"Terimakasih sudah memilihku."
"Aku memilihmu karena Tuhan mempercayakan aku, untuk menjagamu. Jangan pernah menangis dan bersedih ya. Katakan padaku As, karena aku suamimu saat ini dan seterusnya sampai maut memisahkan aku dilahirkan kembali akan mencari dan menentukan kamu adalah jodohku." lirih Irham, membuat suasana itu haru, apalagi Asna amat senyum mendengar pernyataan Irham kali ini.
Di sana mungkin terlihat Marisa sedikit kesal, namun ia tidak tampak. Hanya saja ia punya cara sendiri untuk menghadapi orang yang tidak ia sukai, apalagi anak dari hasil ayah yang pergi entah kemana, menikah lagi dan pergi. Ibu yang bunuh diri, sungguh aib menikah dengan putra satu satunya itu. Tapi tidak dengan adik Irham dan ayah Irham, mereka nampak sumringah dan setuju, jadi Marisa hanya memasang senyum ke paksaan di ijab kabul putranya itu.
Dan untuk pertama kalinya, di kediaman Irham kali ini, membuat acara berjalan dengan semestinya, Asna mencium tangan mertuanya dan adik ipar, dimana Ayah Bahrain memberikan tiket berlibur ke singapore.
"Mah, Pah! Asna pamit."
"Hati hati ya, jaga Irham putra papa itu sangat nakal jika melihat yang cling .." goda Bahrain membuat Asna senyum.
"Papa ini, aku tidak seperti itu pah. Irham pamit pah. Mah, Dik."
"Aku pamit dulu ya adik ipar, makasih sudah datang ke acara ini." senyum haru Asna.
"Untuk kak Asna, aku pasti datang. Siapa juga yang menolak, jaga kak Irham ya kak Asna, soalnya dia itu suka gatal sama cewek cewek pramugari." bisik adik ipar, membuat Asna melirik.
"Heh, kalian ini benar benar mengganggu ya. Kakak tidak seperti itu tahu." membuat semua tertawa, tetapi tidak dengan Marisa hanya miring senyum sempit.
Sudah nampak tamu telah sepi, maka Irham pun dan Asna pamit, dimana acara sederhana ini telah selesai. Dan untuk kali ini, ada banyak hal yang harus Asna lewati setelah menjadi istri Irham bahrain.
"Nyonya Irham Bahrain, ayo ikut aku!" Irham mengulurkan tangannya kala itu.
Membuat Asna menggapai dan mereka masuk ke dalam mobil. Asep tak lupa ikut bahagia, sebagai supir ia mengantar hanya sampai bandara saja.
"Ir .. Kamu jangan lihat muka aku begitu dong."
"Emang aku enggak boleh lihat wajah istriku, dan aku juga punya surprise setelah sampai disana."
"Hem .. Kamu curang, kamu terus yang kasih surprise buat aku. Tapi aku, aku belum sedikit pun kasih kamu kejutan."
"Hm .. Kejutan kamu kan buat aku setelah ini, aku mau kamu yang memulai ya." bisik nakal Irham, membuat pipi merona Asna menjadi merah jambu.
Tak sedikit pun Irham melepas tangan Asna, dimana mobil berhenti dan mereka keluar menuju tujuan, Asep hanya mengeluarkan satu koper saja, sebab itu Irham berjalan menarik satu koper, dan satu lagi menggandeng tangan Asna, apalagi tas selempang milik Asna saja Irham bawa dan ia lilitkan ke tubuhnya.
"Tas nya biar aku aja, kenapa jadi aku yang tidak tega ya?"
"No .. Kamu hanya bawa tanganku aja, jangan di lepas. Biar semuanya aku yang bawa."
Mereka pun nampak pergi menuju awak pesawat dengan elegant, tidak ada yang tahu dengan fashion style mereka yang sangat santai, Irham yang hanya memakai kaos putih polos dengan celana cargo Coklat itu, membuat dirinya nampak terlihat tampan, apalagi kaosnya terlihat ketat.
Berbeda dengan Asna, yang memakai jeans putih, dengan kaos abu pekat, membuat dirinya nampak terlihat kece. Bahkan tak sedikit banyak mata yang melihat ke arah mereka nampak terpesona, dan hanya Asna yang berfikir berbeda.
"Rupanya benar, adik ipar bilang mata mata nakal, dan mata pramugari tidak berkedip melihat kamu loh." bisik di telinga Irham.
"Jangan meracau, salahkan mata mereka yang nakal. Tetap saja aku dan hati ku, hanya tertuju pada Asna Wijaya."
"Gombal."
"Entah harus gimana lagi, kamu benar benar tidak pernah percaya."
"Oke .. Aku percaya, setelah kita sampai aku mau makan manisan dulu, kamu tau kan kue terkenal di singapore?" lirih Asna, yang kala ini mereka sudah ada di awak pesawat FIRST CLASS."
"Top Cookie, kesukaan kamu itu rasa cappucino."
"Benar, aku sangat bahagia jadi selalu makan rasa itu, jika aku sebal aku selalu memakan rasa green tea agar tidak terlihat tua jika memasang wajah tidak enak." gerutunya membuat Irham gemas, mencubit hidung Asna.
Nampak Irham senyum, apalagi mereka bersebelahan dan bisa saling bergandengan tak mau lepas, hal ini membuat mata Asna malu malu.
"Udah dong, jangan kaya gini. Aku jadi salting loh, kamu bisa banget bikin aku kaya gini ya." cibir Asna, tetapi Irham tidak memperdulikan.
"Yang jelas aku bahagia, apapun itu aku akan membuat kamu bahagia, sehingga kamu tidak akan pernah berpaling, dan terus menungguku. Janji sama aku, untuk tetap tunggu aku, kesibukan aku atau apapun itu!"
"Baiklah suami ku Mr Irham, Nyonya Irham akan selalu berjanji itu, tidak akan pernah goyah dan melepas nama Irham dari nama Asna Wijaya, sebab nyonya Irham yang terakhir dan selamanya." balas Asna.
Dan nampak terlihat sebuah layar, membuat Mata Asna menatap Irham.
"Kenapa, mau coba? Aku tadi sedikit meminta pada awak pesawat ini memesan, untuk .." bisik Irham, membuat Asna termangu.
TBC.