
"Kamu siapa?"
Anita berjalan mundur, perlahan dengan berat rasanya ia segera menurunkan tasnya dengan gemetar. Dimana pria yang ia temui di kuburan mendongak, dan melihatkan wajahnya setengah rusak.
"Ha- Hantu ... " teriak Anita, ia berlari sekencang mungkin, dimana lupa melepas tasnya yang dijatuhkan begitu saja.
"Dasar wanita bodoh, baru gitu aja udah takut. Masih coba sentuh Orang penting bagi kami, hidup kalian tidak akan tenang." ujar Deri, yang mencopot kulit palsu di sebelah pipi kanannya.
Anita yang sudah berjalan lari entah sudah ada dimana, ia benar benar letih mengitari pemakaman, tanpa menoleh kanan kiri yang ia inginkan adalah keluar dari gerbang pemakaman, dan menemukan banyak rumah rumah atau jalan raya. Setelah beberapa puluh menit, lelahnya Anita ia segera melihat gapura pintu keluar, ia senyum dan sampai juga di tempat yang ia rasa aman dari suasana seram.
"Ah itu taksi .. taksi .. Berhenti!"
Sinar mobil taksi begitu saja berhenti, dan saat Anita ingin masuk ia baru sadar jika tasnya benar benar tidak ada di tangan atau di selempang oleh tubuhnya saat itu.
'Astaga .. Tas ku?' terdiam Anita keringat dingin, lebih seram ketika semua miliknya di dalam tas terjatuh.
"Mbak .. Mau jadi naik apa enggak?" teriak supir taksi.
"Hah .. Begini pak! Tas saya terjatuh sepertinya di dalam, gimana bapak juga ikut saya. Nanti saya bayar lebih, saya mohon pak!"
"Hadeuh .. Modus. Cari aja taksi yang lain mbak." teriak supir taksi, melajukan sebuah mobilnya dan berlalu pergi.
Anita pun mau tidak mau ia diam meratapi tangisan yang sudah terlalu, dan benar benar hari ini ia penuh kesialan, setelah dari rumah sakit jiwa. Apalagi ingin pulang, supir taksi anggap dia pembohong dan menipu.
'Argh .. '
Pagi itu, terlihat wajah sembab Anita yang masih saja menangis, dimana matanya gelap dan merah akibat kurang tidur dan menangis semalaman setelah sampai kontrakan petaknya.
"Nit, udah dong. Jangan nangis terus, coba kamu cerita sama ibu!" ujar Febi, ia yang mengulurkan susu jahe pada Anita.
"Argh .. Semua karena Arga, pastinya setelah jenguk saat itu aku jadi sial tahu enggak bu, mana dompet, atm dan ponsel mahal semua disana, uang tunai sebesar 3 jutaan, termasuk gede buat biaya sehari hari. Coba ibu pikir, gimana buat kedepannya." teriak Anita histeris.
"Bukannya Arga bakal di keluarkan sesuai yang kamu bilang kan? Kamu lihat dia kan Nit, jangan bikin was was. Biar bisa antisipasi gitu kalau putra ibu bebas." jelas Febi.
Dimana Anita masih sebal kejadian malam itu yang membuat ia pulang jalan kaki sepanjang malam, hingga 30 kilo ia dapati ojek pangkalan yang bisa membayar esok esok nya. Eh, saat ini mertua tuanya itu malah meracau pikiran nya sendiri.
Febi yang merasa sebal akan sikap Anita yang tak menjawab, ia memilih pergi untuk berjalan jalan keluar. Sebab mood Anita sedang tidak baik, yakni nampak sial tas dan seluruh isinya belum di temukan di pemakaman.
"Ibu ke luar dulu deh, sekaligus cari info ke makam tersebut. Kali aja tukang gali kubur nemuin, bukannya ada cctv ya? Hantu enggak mungkin mencuri lah." gerutunya.
Dan hingga selangkah Febi ingin pergi dari rumah, seseorang dengan tampilan lusuh serta topi rimba membuat mata Febi terkejut siapa yang datang, apalagi tampilan yang dekil bak orang gila atau tidak mandi selama berminggu minggu.
"Eh .. Kamu siapa?" teriak Febi, membuat Anita di ruang tamu melonjak ke arah luar.
Pria itu pun segera menaikan wajahnya dimana masih celingak celinguk ke arah lain, dimana hal ini membuat ia nampak ketakutan saat ini. Dan saat ini terlihat seseorang nampak membuat Anita menutup mulutnya karena pria itu meminta untuk tidak berisik.
"Mas Argaaaa ... "
Deg ..
Sssst .. "Ibu aku putramu, aku datang untuk kita beri perhitungan karena hidup kita seperti ini!" bisik Arga, membuat Febi lemas pusing tak berdaya.
"Kau masih di kurung Arga, jangan buat ibu seperti ini. Mati enggan, hidup pun tak enak."
"Ssst .. Bu! Ibu ingat bos besar proyek bernama Hasna Bahrain, dan orang yang sengaja datang ke rumah pertama kita dengan alasan salah alamat?"
"Hm .. Ada apa memangnya?"
"Dia Asna Wijaya bu, setidaknya Arga bisa menghirup nafas, dan membuat perhitungan dengannya. Karena Asna Lah, hidup kita begini."
"Ta-tapi .. Arga .. Bagaimanapun?" terhenti Febi bicara.
"Ssst .. Udah ibu, diem aja di rumah. Bilang aja kalau di rumah ini adalah keponakan ibu yang dari kampung, urusan ini aku dan mas Arga yang bakal buat kehidupan mantan mantu tak guna ibu itu jadi sengsara. Jaga sikap ibu untuk tidak bilang PUTRAKU! Mas Arga, ayo mandi dulu sana, aku bakal permak tampilan kamu biar enggak dikenali." perintah Anita, membuat Febi diam duduk lemas saat itu juga bahkan Arga terlihat menurut.
Febi duduk menahan sesak, sebab ia merasa putra satu satunya sudah melewati batas, namun ia tidak bisa berkutik untuk saat ini.
Anita yang menunggu Arga mandi, ia segera merapihkan tampilan Arga dengan pakaian yang ia bolong kan saat ini juga. Membawa spidol permanent, membuat Anita mempunyai ide untuk kehidupan dirinya lebih baik.
'Aku punya ide rencana, mari kita buat Arga yang menjadi pelakunya, aku hanya ide saja. Aku bisa ngelak kalau sewaktu waktu ketahuan .. Haha .. haha ..' batin Anita seolah tertawa.
Krek .. ( Pintu Kamar Mandi Terbuka )
"Aku udah beres mandi Nit, aku mau pakai baju dulu, ada baju yang bersih kan?"
"Nih, udah aku siapin." senyum Anita.
"Baju aku Nit, masa yang ini?" tatap Arga, membuat Anita berdiri dan berbisik.