
Satu pekan telah berlalu, Ibu nya pun telah kembali dari rumah sakit, bahkan Asna meminta sang bibi untuk selalu menjaga sang ibu dan mengabarkan dirinya setiap saat.
"As, apa kamu yakin dengan keputusan kamu, operasi itu terlalu menyakitkan. Jika pria baik, dia pasti akan menerima apa adanya." ujar Ibu yang berada di kursi roda.
"Asna hanya memakai topeng bu, dan mungkin ibu akan sulit mengenali Asna, jika ibu hampiri Asna ke kantor Irham, sebab dokter yang di kenalkan oleh Irham dari Amerika, ia pasti akan menemukan obat yang bisa membuat Asna kembali seperti dahulu. Ibu jangan khawatir, jika ibu rindu tinggal telepon Asna, maka Asna akan segera pulang. Ibu sehat sehat, dan enggak usah berhubungan dengan ibu Febi atau mantan suami Asna lagi, soal mereka itu urusan Asna yang akan membuat mereka diam."
"Baiklah nak, ibu tidak bisa berkata apa apa lagi. Kalau begitu kamu juga baik baik, dan jangan sampai telat makan, ibu tidak menginginkan uang kamu, uang dari warung saja sudah cukup sebenarnya." lirih ibu Nira yang terlihat sedih, ketika Asna akan pergi ke luar negeri.
"Asna akan segera pulang, setelah semua urusan selesai. Bule .. Jaga ibu jangan capek capek, Asna juga akan selalu mengirim keperluan ibu dan Bule, ada dokter yang akan datang setiap minggu kontrol ibu ke rumah, jangan terima dokter yang lain. Selagi tidak ada Asna, tolong kabari jika ada sesuatu yang ganjil!"
"Iya Asna, kamu yang harusnya baik baik. Kerja sama sahabat yang sukses, dengar dengar keluarganya itu sukses di luar negeri, beruntung kamu Asna, tapi ingat kabari bule juga, sebab ibu kamu itu bawel selalu tanyain kamu terus."
"Hehehe.. Iya bule, Asna juga pergi ke negeri tetangga hanya tiga bulan, nanti juga bakal kembali dan akan pulang tiap hari ketemu sama ibu. Ibu doakan Asna ya!"
Asna memeluk sang ibu, sehingga pelukan mereka benar benar erat, bahkan kali ini Asna harus melepas, ketika Irham sudah datang dan menjemputnya.
"Assalamualaikum."
"Siap bu, kalau begitu Irham pamit ya bu, ngejar waktu takut penerbangan terlambat."
"Iya nak. Hati hati ya!"
Perbincangan pun sebentar, dimana kini Asna sudah melepas pelukan sang ibu, dan Asna kini berada dalam perjalanan bersama Irham. Sejak tadi ia diam saja, hal itu membuat Irham memberi waktu untuk Asna berfikir.
"Kamu lagi pikirin ibu kamu ya?"
"Bukan itu, soal ibu dan bule kamu udah kirim orang terbaik, aku harus berterimakasih. Hanya saja setelah kembali aku pelajari pekerjaan dan operasi wajah itu, apakah aku sanggup berhadapan dengan Arga. Seolah ini adalah hal terberat aku, aku bukan tipe wanita yang pendendam. Tapi aku juga enggak terima atas perlakuan mereka semua." lirih Asna yang membuat tatapan Irham yakin rasa cinta Asna pada mantan suaminya itu begitu dalam.
"Di saat kita ada di pesawat khusus, kamu boleh memikirkan masa indah kamu dan Arga, tapi setelah itu kamu ingat satu persatu kenapa mereka berubah jahat padamu, apalagi aku kaget. Kenapa Anita bisa ada di rumah kamu, dengar dengar dia datang bertamu, meminta pekerjaan lalu kamu dan tiba tiba jadi istri Arga .. Wuah apa mereka berselingkuh diam diam dari kamu As, ...?"
"Anita .." lirih Asna menoleh, dimana ia sesak dan sakit hatinya ketika Irham mengucap nama Anita.
TBC.