Skandal Cinta Ke Dua

Skandal Cinta Ke Dua
Pesan Dari Siapa


Setelah sampai di Residence lantai 3, apartment milik Irham ini, lantai paling atas adalah kediaman khusus pribadi Irham, bahkan petugas yang akan menghampirinya saja perlu id card tatap wajah, bahkan tidak bisa sembarang orang mengantar barang atau sesuatu hal berkaitan dengan privasi, atau sekedar mengantar makanan ada satu orang kepercayaan bernama Deri, ia adalah keponakan Irham yang dipercayakan apartemen Residence ini, hanya wajah dia dan jika tidak ada, maka petugas hanya boleh menaruh sesuatu di loker private.


"Kalau aku makan hot pot, makanan saji lalu gimana kan ga enak harus ribet kaya gini?" tanya Asna.


"Itu aturan ketat sayang, demi keamanan. Di dalam ruangan ini, ada satu ruangan cctv, aku bakal kenalin siapa aja orang yang bertugas bulak balik ke apartemen ini! tugas nya apa aja, lagi pula aku selalu menyiapkan full kebutuhan disini tidak pernah kosong, ada petugas apartemen ini yang dipercayakan, jika mereka sampai berniat jahat. Aku punya senapan .. pistol khusus untuk langsung menembaknya."


Deg ..


"A- apa .. Senapan? S- suamiku, kamu tidak punya pekerjaan ilegal kan? gimana nanti .." terdiam.


"Hm .. ada pistol berlisensi, rekaman semuanya di ruangan ini lengkap, karena aku pernah di khianati. Di remehkan, aku selalu berjaga jaga. Dari itu aku ciptakan nama papaku Bahrain menjadi sangat berkuasa, mengenal namanya saja mereka semua enggan untuk membuat kesalahan. Semua itu karena aku dan papa berjuang hingga detik ini, jadi aku pastikan kamu akan aman, selalu aman meski aku jarang pulang atau sekalipun enggak ada di samping kamu." kecup Irham, pada kening Asna.


Asna diam berdiri, ia hanya menatap sendu dan pasrah, kala Irham sudah menyentuh ranum dengan pelan dan amat dalam, sehingga membuat Asna kali ini diam berhenti untuk bernafas.


"Kenapa aku jadi takut, takut kamu khianati aku. Secara kamu punya segalanya, gimana kalau diluar sana banyak perempuan cantik, modis, setara dengan kamu. Aku bisa apa .."


"Cup .. kamu ini mikirnya kejauhan terus deh. Udah ya, aku cuma love selamanya sama Nyonya Irham, nyonya Irham disini hanya kamu, Asna Wijaya satu satunya istri aku. Dan milik aku, kamu yang harus menahan kerinduan aku, ketika aku pergi tiba tiba."


Eh .. 'Lagi lagi ucapan itu membuat aku merinding.' batin Asna, yang mengikuti langkah suaminya yang memberi tahu letak ruangan, bahkan setiap inci tidak terlewati ia berbicara menjelaskan. Seperti sales perumahan saja yang menawarkan tanpa henti!


Irham pun mengajak Asna untuk istirahat, mereka membersihkan diri dan berencana untuk duduk di sofa, dan makan berdua tidak keluar apartemen. Lalu tatapan mata Asna tertuju pada sebuah foto, yang membuat Asna diam dan menatap foto tersebut, sehingga Irham yang merasa istrinya tidak ada, ia menoleh dan mendekati istrinya itu.


"Ini .. Foto siapa ..? Yang aku tahu, ibu kamu .."


"Nanti kamu akan tahu sendiri, ayo kita ke kamar!" senyum Irham, yang mengambil album ditangan Asna, lalu dengan melekat ia mengelus album tersebut, dan menyimpannya lagi ke tempatnya.


Asna merasa suaminya ini banyak rahasia, banyak yang tak ia ketahui sekian lama mereka berpisah lama. Hal ini membuat Asna khawatir, apakah Irham juga hidupnya sulit, tidak seperti saat ini yang sudah punya segalanya dan berkuasa.


'Ada banyak keberuntungan, ada juga banyak hal pahit yang kita jalani, hanya saja aku meminta kamu untuk tidak menyerah, tidak menyerah menunggu sampai waktunya tiba. Kenapa aku selalu inginkan kamu, karena semua itu bukan saja rasa bersalahku padamu As, tapi aku sangat ingin melindungi kamu yang berubah jadi cinta.' batin Irham, masih menatap senyum Asna.


Asna pun kini menatap isi kulkas, ia senyum dan meraih tangan Irham lalu berkata." Kamu mau mandi dulu, aku masakin sesuatu mau?"


"Boleh .. buatan kamu pasti istimewa pastinya. Jangan lelah ya sayang!" bisik Irham, dan mengecup jenjang Asna, hingga membuat Asna sedikit merinding.


Dan setelah Irham ke lantai atas, Asna terkejut bukan main ketika pesan di layar ponselnya membuat Asna, menjatuhkan pisaunya saat itu juga.


Prang ..


"A-apa .. Ini enggak mungkin kan?" lirih Asna, membuat Irham yang di atas tangga menatap Asna dengan tatapan berbeda.


TBC.