Skandal Cinta Ke Dua

Skandal Cinta Ke Dua
Sandiwara Menjerat Febi


"Jaka, tolong sebelum Jeng Rita sosial itu menemui ibu ibu di sana, tolong hubunginya. Saya ingin bertemunya lebih dulu."


"Ibu mau ikutan investasi, jangan lah bu! Nanti ibu rugi, kasian saya mah sama ibu." ujar Jaka dengan bawelnya.


"His, memangnya gaji ku di perusahaan Bahrain tidak cukup. Kamu hanya cukup tahu sampai sini saja, mau aku adukan ke bos Irham, kalau supir kebanggaannya ini selalu kepo kaya ibu ibu arisan."


"Hehe .. Jangan lah bu, siap saya laksanakan 86. Segera saya telepon nomor di kartu ini ya bu."


Di ledek oleh Asna, Jaka segera turun dari mobil, sementara Asna menunggu di dalam mobil, dengan menggeser beberapa layar tablet penting, pertemuan nanti sore yang harus ia siapkan.


"Bu, di meja mawar nomor 17, Jeng Rita sudah menunggu, waktunya enggak banyak. Dia hanya punya waktu sepuluh menit, sombong ya bu." cerocos Jaka.


"Baiklah, kamu di sini aja. Nanti kalau udah selesai aku hubungi kamu Jaka."


"Siap bu."


Asna segera ke meja tujuan, dimana kali ini ia melihat beberapa mata yang tajam, bahkan penampilan yang ia lihat di jejaring sosial medianya itu,


"Oh jadi kamu yang mau ketemu saya, kamu tahu kan satu menit pertemuan itu sepuluh juta. Jadi jangan buang waktu!" ujar Jeng Rita yang sedang trending di jejaring sosial, bahkan Asna sendiri sebenarnya tidak tahu dan tidak pernah menonton nya, hanya satu kali di mobil saat menunggu, Asna mencari informasi tentang Jeng Rita ini.


"Saya bisa lebih dari itu, terkait ini bisnis jadi saya to the point saja." lirih Asna, ketika Rita menarik berkas yang Asna sodorkan.


"Hah .. Gila Kamu ya! Bagaimana bisa anda tahu semua ini?"


"Sangat mudah bagi saya! Saya hanya perlu hadir sebagai klien pura pura anda yang benar tidak pernah saling mengenal, dan ini pertama kalinya saya seolah nyasar, anggap saja kebetulan keuntungan untuk anda, saya akan berpura pura sandiwara dan jika terjadi sesuatu jangan libatkan saya, atau tahu kan akibatnya ..?" ancam Asna.


Asna pun berbisik rencana yang harus dilakukan jeng Rita.


"Baiklah, awas kalau enggak berhasil ya." cetus Rita.


"Dan nyawa anda tamat sebelum menghabiskan uang tipuan itu, jika saya di libatkan! Saya akan tutup mata dimana kau pergi, kapan pergi, dan langkah apa saja saya sudah tahu." jelas Asna, membuat Rita ketar ketir.


"Oke saya setuju!" ujar Rita mendengus nafas berat.


Jeng Rita ratu sosial media itu mengerti, ia segera minum air putih. Pergi menuju meja di lantai satu, dimana sudah ada delapan orang ibu ibu arisan yang ingin melihat kesuksesan Jeng Rita yang mereka kagumi, dan berniat konsultasi. Kedatangan mereka berjumlah delapan orang, selalu menguntit kegiatan sosmed jeng Rita live di restoran tersebut.


"Eh .. Itu dia jeng Rita, bu Rita minta waktunya dong." teriak teman arisan, yang salah satunya adalah Febi di sana.


"Hello semua, sudah kenal dengan saya kan .. Salam kenal ya! Lihat saja, saya sibuk. Dan saya baru bertemu klien besar, saya buru buru soalnya. Apalagi pameran tas yang akan live nanti malam, banyak investor tas milik mereka yang akan di lelang, dan keuntungannya satu tas bisa beli rumah, jadi permisi ya bu!" ujar Rita yang akan pergi.


Febi sendiri melihat antusias temannya itu, jika ia ingin investasi jika ada modal. Sebab teman Febi sudah dua kali beruntung menaruh modal di Jeng Rita yang punya banyak kaki tangan perusahaan yang bekerja sama memakainya.


"Hebat ya Jeng Rita, padahal dulu dia itu kaya kita begini. Lalu gimana kamu Sofi ..?"


"Saya pamit duluan ya Sofi, ada urusan mendadak." tegas Febi membuat rekan teman lainnya mengangguk.


"Cepet banget sih Jeng Febi ini, oke deh See You."


Febi seolah ingin mengejar Jeng Rita, namun ia terkejut akan wanita yang ada di depan mobil, terkait memberi sebuah amplop dan ikut mendengarkan.


"Ini uang untuk DP. Sisanya saya transfer 1 miliar, semoga kerja sama dan usaha Jeng Rita lancar seperti sebelumnya." ujar Asna saat itu sedang bersandiwara, sebab ia tahu mantan mama mertuanya itu sudah masuk perangkapnya.


"Tentu Nyonya Hasna, saya makasih juga loh." tawa penuh dengan banyak arti.


Melihat wanita itu sudah pergi, Febi yang melihat Jeng Rita akan pergi, Febi pun segera mengejarnya.


"Jeng Rita, maaf jika saya ingin ikut berinvestasi bagaimana?" teriak Febi, membuat Jeng Rita menoleh.


"Anda siapa ya bu."


"Kenalkan saya Febi, teman baik Sofi. Saya sudah lama sih sebenarnya, tapi sepertinya saya mau ikut investasi. Buat tambahan hari tua, apa boleh?"


"Sepertinya slot nya sudah penuh, lain kali mungkin ketika ada yang kosong ya bu! Maaf, saya buru buru."


Mendengar penolakan Febi pun mencegah jeng Rita, sebab dia benar angkuh dan meyakinkan Febi jika ini real.


"Saya ada dana cash 500 juta, sisanya 500 juta saya transfer bertahap besok. Apa yang saya akan dapat keuntungan setelah 3 bulan?" jelas Febi, membuat mata Jeng Rita berwarna mendengar nominal itu, benar benar ide wanita tadi berhasil membuat ia bisa menarik investor yang bodoh.


"30 % sebab hanya ada slot 3 miliar yang kini kami jalankan jadi 50%, tahu kan usaha tas Hermes saja bernilai miliaran hingga puluhan miliar?"


"Baik saya akan gadaikan sertifikat Villa, itu nilainya cukup fantastis seharga 4,6 miliar, bagaimana .. ?"


Perjanjian tarik ulur Rita dan Febi saat itu terjadilah sebuah kesepakatan, sehingga kala itu Febi benar benar merasa terhipnotis memberikan seluruh tabungannya untuk menjadi ganda.


***


Hari pun sudah berlalu dengan amat panjang, sudah tiga pekan ia bekerja di ibu kota dengan begitu lancar, tanpa hambatan atau kesulitan apapun. Asna mendengar kabar soal Jeng Rita yang sudah kabur ke negara lain, terlebih berita di televisi baru muncul jika Jeng Rita kali ini dianggap sebuah ajang live penipuan berkedok investasi


Asna yang melihat berita itu sedikit tertawa, apalagi ia mendengar Ibu Febi terakhir lalu mendanai uang senilai 5,5 miliar dalam waktu 32 jam saja, minggu pertama Rita membayarkan bunga di muka sebesar 110 juta, tanpa sadar tiga pekan telah berlalu, Ada kabar burung Jeng Rita menghilang dari ibu kota, dan pengrebekan di kediamannya di kebun jeruk sudah tidak di huni, dan itu hanya kontrak sewa dirinya bekerja bukan rumah asli.


"Ha .. Ha .. Ha, apakah mantan mama mertua ku itu bisa sedikit tenang, tidur nyenyak setelah berita ini sampai ke telinganya." senyum Asna, ia menyeruput sebuah teh hangat, sambil tertawa satu langkah.


"Hah .. Ada harga yang harus mama mertua bayar, ups ... Mantan mama mertua. Ini baru tahap awal, kita akan lihat anda dan putra anda bernasib sama sama dengan kerugian. Apakah anda akan masih membanggakan menantu anda yang baru itu membawa keberuntungan ..?" senyum Asna, yang melihat tiga buah foto sebagai sasaran empuk, sebab Asna kembali selain pekerjaan dan bisnis, yaitu ada tiga foto yang harus Asna ingin lakukan padanya bak sebuah tamparan cantik.


TBC.