Skandal Cinta Ke Dua

Skandal Cinta Ke Dua
Kedatangan Irham


Arga yang kini di kantor polisi, ia merasa kesal akan sikap Anita yang memberikan saksi memberatkan dirinya kelak di penjara.


"Pak tolong pak polisi, ini tidak seperti yang bapak kira. Ini banyak kesalahan, saya tidak bersalah pak polisi!" teriak Arga, dibalik jeruji besi sementara.


"Tolong kerjasama nya ya pak Arga! Sebab kasus anda masih berlanjut, jadi tolong jangan teriak teriak."


Arga nampak beringsut, apalagi kali ini ia menoleh kebelakang, terlihat lima pria duduk seram menatapnya tajam, apalagi salah satunya sedang di pijat bagai bos yang memerintah anak buahnya.


Woy, berisik!! Mau bos gue cekik elo biar diem!! Teriak pria yang memijit, napi berbadan besar yang kala itu melihat Arga tajam bagai pisau.


Arga pun menunduk, lalu ia terasa mual dengan apa yang ada di dalam penjara, bahkan bau pesing, serta lembab kotor itu sangat menjijikan bagi Arga yang manja.


"Maaf, saya tidak cari keributan. Saya hanya sedang difitnah!" ucap Arga, membuat napi berbadan besar itu menghentikan anak buahnya tidak lagi memijit.


Arga nampak ketar ketir, kala pria tubuh besar itu mendekat dan melihatnya dengan tatapan tajam dan bau badan yang melekat di hidung penciuman Arga saat ini.


"Lo kena pasal berapa? Bunuh orang, atau hami-li perempuan?" tanya pria itu.


"Bu-bukan dua duanya bang, saya tidak seperti itu." gugup Arga saat ini menjawab.


"Terus apa ..?"


"Gue di fitnah korupsi dana kantor bang, tapi bentar lagi gue pasti keluar dari penjara jorok ini." lirih Arga, tanpa rasa bersalah padahal ia sudah menyinggung.


Hah ..


Haha ..


Hahahaha .. ( Di ikuti napi lainnya, saat narapidana di depan Arga tertawa meledek )


"Go-Be-Lo-g!! Mana ada maling ngaku, orang korupsi mah awalnya begitu dia kagak ngaku, padahal lebih jorok kelakuan dia ini. Hahaha .. Parah ni orang, dahlah. Cepet .. Kasih sambutan dia!" ujar Napi ketua memerintah.


"Siap bos!" teriaknya membuat Arga gelagapan.


"Tu-tunggu. Kalian semua mau apa? Ja-jangan. Aaaaak .." teriak Arga pasrah.


Bug.


Bak.


Big.


Bug.


***


"Kenapa rasa sakit ini begitu menyiksa, ada seseorang yang sangat mencintaiku dengan tulus, tapi hatiku terpaut pada sosok Arga Wijaya yakni pria yang begitu terus saja menyakitiku. Aku juga harus tahu diri, aku hanya cantik kali ini karena operasi, mana ada keluarga yang akan menerima menantu punya penyakit kelainan yakni progeria." lirih Asna, yang duduk menatap kolam air mancur.


Tanpa sadar seseorang sudah ada di sampingnya, yang selalu mendengar keluh kesahnya sejak kecil, bahkan dia adalah Irham yang tidak pernah berhenti mencintai Asna, dalam keadaan apapun.


"Nangis Lah! Teriak Lah, ambil ini .. As!" Irham berbicara, sambil memberikan sapu tangan.


"Ir-Irham .. Kamu kenapa disini?"


"Aku hubungi kamu, yang jawab Linda. Kamu minta berhenti di sini, kenapa ponsel kamu berikan sama Linda?" tanya Irham.


"Itu kan ponsel kantor, jadi siapapun bisa memegangnya. Apalagi Linda beroperasi nanti, di Nusa Sakti dengan generasi baru, sebaiknya aku pulang saja!"


"As .. Jangan malu, aku ada disaat apapun itu kamu butuhkan, jangan pedulikan dengan kata kata orang, atau kata kata yang menyakiti hatimu lebih dalam lagi, kamu berhak bahagia. Kebahagian kita, bagaimana kita jalani. Jangan dengarkan kata orang, sampai kapan kamu bersikap seperti ini?" tanya Irham, membuat Asna semakin berlinang saja.


"Irham .. Apa kamu dengar apa yang aku bicara sendiri tadi?"


"Eum .. Aku sedih jika kamu sedih seperti ini, aku tetap akan menunggu kamu! Tidak ada yang mau kamu terlahir dengan kelainan progeria. Kamu berhasil berubah karena operasi pun, itu kata orang yang ingin kamu tidak bahagia, tolong untuk kamu bisa kembali percaya diri seperti dulu. Asna Wijaya yang Irham kenal, tidak putus asa seperti ini."


Asna tak dapat berkata kata, bukan lagi dirinya yang merasa tidak tahu diri, tapi apa pantas seorang pria baik seperti Irham, dan belum pernah menikah menyukainya.


"Aku tidak pantas untuk kamu Irham, aku punya banyak kekurangan. Kelak nama kamu akan malu nantinya, dan ada nama keluarga yang harus kamu bawa, kamu anak orang terpandang yang akan jadi bahan gunjingan jika menikahi ku. Apalagi dengan masa laluku yang rumit."


"Itu katamu, aku cuma mau bilang. Aku udah bicara sama keluarga, jangan pedulikan omongan orang. Aku menunggu kamu, sampai kamu benar benar bisa menerimaku dan melupakan Arga si brengsek itu! Cinta itu bisa tumbuh seiringnya waktu As." lirih Irham, membuat Asna tak sanggup berkata kata lagi.


Irham pun memberikan mantel pada Asna, lalu mengajaknya untuk masuk ke dalam mobil. "Aku antar pulang, jika besok kamu ingin cuti, maka ambilah cuti. Besok aku handel Nusa Sakti bersama Linda."


"Memang kamu owner sesungguhnya, untuk apa kamu izin denganku Irham." senyum Asna, yang nampak membuat Irham kembali senang, saat melihat wajah Asna sedikit senyum.


"Gitu dong, senyum. Mau makan dulu gak? Aku laper, tapi kalau kamu enggak ikut makan, aku tahan aja sampe besok." ujar Irham, membuat Asna menggeleng kepala.


"Dasar manja! Ya udah, aku mau makan kaya biasa, di tempat biasa." balas Asna, membuat Irham mengangguk.


"Oke .. Siap bos Hasna Bahrain." goda Irham, membuat Asna kala itu mencubit pinggang Irham reflek.


Auw ..


Auw .. "Sakit tahu, tapi karena kamu yang cubit aku jadi mau lagi." kembali Irham menggoda, membuat Asna tak percaya.


"Gombal .." cibir Asna, yang mana kala itu mereka berhenti di lampu merah, dan mata Asna tertuju pada seseorang yang ingin menyebrang namun nampak berantakan sekali.


TBC.