Skandal Cinta Ke Dua

Skandal Cinta Ke Dua
Amarah Tante Marisa


"Kamu percaya enggak sama pepatah omongan penjual tadi, bukan satu orang aja loh. Tapi dua sekaligus .. Aku .. " terpotong Asna, kala Irham sudah langsung bicara.


"Kenapa, kamu mau percaya sama takhayul? Please deh, hidup ini kita yang tentukan bahagia. Memang kita express aja mau cepat nikah, tanpa kompromi. Soalnya kita udah saling kenal, dari sejak kecil. Bukan ABG labil yang pacaran setahun, dua tahun lalu aku ajak nikah. Jadi aku harap, kamu tetap berfikir positif!" senyum Irham, nampak menghiasi wajah Asna.


"Udah dong, fokus nyetir. Kasian kan, mobil satu lagi nganggur."


"Aku suruh Asep yang datang jemput mobil kantor, siapa suruh kemana mana sendiri. Ke Lubang semut pun aku pasti tahu tempat kamu berhenti dimana! Jadi, jangan sendiri terus. Kamu bisa ngomong sama aku, jangan tinggalin aku aja begitu."


Mendengar ocehan Irham tanpa henti, membuat Asna gigit jari. "Siap pak bos, kamu tuh cowok kok kaya ibu ibu mau antri sembako aja sih, gak ada rem nya kalau nasehatin aku." goda Asna, membuat Irham tertawa saja.


Perjalanan mereka kali ini membuat Asna merasa terasa tenang, entah mengapa ia sudah sering pergi pergi an bersama Irham, tapi berdua kali ini membuat hati perasaan Asna berbeda sekali.


"Beda ya, kok aku merasa perjalanan kita ini sedikit aneh, apa karena gombal kamu ya aku jadi begini?"


"Hahaha .. Aneh aneh aja kamu, aku mana pernah gombal." balas Irham.


"Gombal sikap, kamu itu bikin perasaan aku jadi goyah tahu gak." ujar Asna, membuat Irham merenggut memegang tangan Asna, mengecup berkali kali tangan wanitanya.


"Udah dong, fokus nyetir. Mau aku yang bawa?" tanya Asna.


"Oke .. Siap, siap Nyonya Irham." balas Irham, mode senyum, menggoda Asna.


Mereka pun menuju rumah kediaman Irham, namun Asna meminta ke apartemen dirinya dulu dengan kata lain, Asna akan mengambil beberapa pakaian, sebab ia akan ada di kediaman Irham, dimana kediaman Irham 2 rumah besar satu pagar. Hingga dalam beberapa jam kemudian, sampailah mereka di apartemen Sun.


"Ir, kamu tunggu disini aja ya!"


"Iya aku enggak naik ya, aku mau di loby kirim laporan buat Linda urus kerjaan yang di tunda."


"Iya, kamu kan udah jadi owner nya Ir, buat apa repot repot. Paling enggak Linda handle sama Rain."


"Iya juga ya, duh enggak kepikiran deh aku tadi." senyum Irham meraih laptopnya.


Sementara Asna meninggalkan Irham di loby parkiran, yang mungkin Irham menuju ruang tunggu di cafe coffee shop. Sementara Asna yang sudah ada dilantai kamar apartemennya, ia ingin membuka pintu. Namun terkejut langkah seseorang yang datang, memakai kacamata dengan tas mewah merah menyala ke arahnya.


"Kenapa terkejut?" lirih ibu paruh baya, membuka kacamatanya.


"Tante Marisa .. Kenapa ada di sini?"


"Eh .. Kenapa ya, kenapa juga kamu terima anak tante, kenapa kamu ingkar janji kamu Asna Wijaya."


"Tante .. Maaf! Tapi .. Maaf karena Asna melanggar janji itu, karena .. "


"Alasan kamu mencintai Irham, atau jangan jangan kamu sudah ketergantungan dengan anak tante, sehingga kamu punya kuasa membalas dendam nya? Bagaimana pun pernikahan ini, Tante akan anggap kamu orang Asing!"


Deg ..


Bisikan tante Marisa membuat Asna diam mematung, ia benar benar tak bisa berbicara apa apa lagi, hal yang tante Marisa katakan memang benar adanya, namun untuk kali ini ia tidak tahu sebesar apa cintanya untuk Irham, sebab yang ia tahu Irham selalu membuat ia nyaman, dan membuat ia jadi ratu merasa dicintai dan dihargai untuk tidak pernah lagi terluka hatinya.


"Tante .. Apa yang harus aku lakukan agar tante menerima Asna. Apa sebenci itu tante pada Asna ..?"


Marisa pun senyum miring, lalu pergi meninggalkan langkah Asna yang masih mematung diam di depan pintu. Dimana hal ini, membuat hidup Asna bagai tersambar petir.


'Jadi ayahku meninggalkan ibu karena kesulitan ekonomi, sehingga ibu bunuh diri. Jadi penyakit progeria ku itu turunan dari Ibu, dan penyakit langka ini benar benar mengocek biaya besar untuk wajah seperti ini.' batin Asna masuk, yang kini ia dibelakang pintu ia menoleh ke arah cermin.


Tangan Asna menempel pada wajahnya dengan bergetar gugup, ia melihat banyak hal yang membuat dirinya ketakutan, bahkan koper masih belum Asna buka, dan memindahkan pakaian selama satu jam ini. Ia hanya terdiam memikirkan apakah ia pergi jauh saja dari hadapan Irham.


Tok ..


Tok ..


Ting Nong! ( Bel Berbunyi )


Dreth .. ( suara getar ponsel )


Asna melihat ponselnya dengan nama Irham, hal ini membuat Asna meraih ponselnya dan berbicara. "Masuk saja Ir, aku masih di dalam!"


Asna memencet tombol otomatis, yang mana kunci pintu terbuka begitu saja.


"As .. Kamu sedang apa, udah sejam lebih loh?" tampak raut Irham khawatir saat ini.


"Aku enggak apa apa kok, aku hanya bingung. Apa besok kita tetap harus ijab kabul, sebab benar juga karena aku wanita berbeda. Aku akan membuat kamu kesulitan nantinya." sedih Asna.


"Kamu ngomong apa sih As, proses kita udah selesai tinggal ijab. Jangan berubah pikiran lagi, aku enggak mau kamu bicara kaya gini!" memeluk Irham refleks.


"Irham, tapi penyakit langka aku ini. Akan membuat kamu, harta kamu menyusut untuk mengobati aku, gimana kalau keturunan kita nanti ambil dari sakit aku ini. Aku engga mau kamu susah karena aku." jatuh air mata Asna bergetar.


"Aku menerima kamu apa adanya, penyakit kamu itu bukan kemauan kamu, enggak ada yang mau lahir berbeda. Aku akan terus mencari uang untuk keluarga kecilku bahagia tercukupi, aku mohon agar kamu selalu happy setelah menikah denganku, terbuka selalu aku akan selalu mendengarkan."


"Maafin aku Ir. Aku kayaknya tidur di sini aja, biar besok orang kamu jemput aku."


"Serius .. Kamu enggak mau ikut, kenapa enggak di rumah aku aja. Agar aku suruh bibi urus keperluan kamu."


"Enggak usah, aku mau tidur disini aja, untuk terakhir kalinya."


Irham terdiam, ia duduk sebentar dan meraih ponselnya saat itu juga, hal ini membuat Asna berfikir keras. Kala Irham terlihat menghubungi seseorang dan memberi punggung berdiri.


( Oke .. Kita akan bicara mah! Tolong jangan halangi kebahagiaan Irham! )


Deg.


"Ayo .. Ga ada waktu lagi, aku kemasi semua pakaian kamu ya satu baris ini aja ya!" meraih pakaian satu tumpukan.


"Ja- jangan biar aku aja, kenapa semua kaos sih."


"Aku mau kamu tidur di rumah aku, aku tahu apa yang buat kamu berubah pikiran." jelas Irham, membuat Asna membisu.


TBC.