Skandal Cinta Ke Dua

Skandal Cinta Ke Dua
Tatapan Tante Marisa


"Kamu enggak apa apa kan?"


"Hemh .. Aku enggak apa apa kok, cuma sedikit syok aja. Kenapa bisa bu Febi begitu, ta- tapi kok ada yang aneh ya. Kamu tadi merasa enggak sih, kalau gelagat ibu Febi aneh pas kita bilang soal putranya yang kemungkinan jadi DPO."


"Ehm .. Iya juga sih, coba nanti aku bicarakan lagi. Menurut orang orang Deri, Arga masih di kota ini. Cuma aku takutnya Dia nyamar, tapi orang aku bakal selidiki banyak hal sih supaya dia cepat ketangkep."


"Sudah sepantasnya dia itu sadar, berada di penjara apa tidak membuat dia nyesel ya, kok bisa bisanya kepikiran kabur. Atau jangan jangan di lapas ada oknum yang bersekongkol?"


"Aku enggak mau banyak berasumsi, sekarang kita langsung ke butik ya. Nanti malam kita makan malam bersama bareng mama papa dan Tika."


Asna hanya mengangguk, dimana kegiatan mulai saat ini mungkin akan kembali seperti awal, dimana kegiatan dirinya sebagai pemilik PT Nusa Bahrain. Dimana Irham memberikan posisi dirinya sebagai dirinya yang berada di ibu kota ini. Bukan tanpa alasan, hal ini membuat kehidupan Asna merasa beruntung di nikahi pria tajir yang mana ia sudah kenal sejak kecil, hanya saja perasaan mereka bersatu sedikit terlambat.


"Kok bengong sih, masih mikirin Arga?"


"Ih .. Apa sih, ngapain aku mikirin dia. Aku tuh mikirin .." terdiam seolah membuat penasaran.


"Mikirin apa .. Kok ngomongnya berenti, bikin penasaran aja deh."


"Hehe .. Aku tuh mikirin kenapa kita terlambat. Harusnya dari dulu kita seperti ini."


"Hati kamu yang terlambat, aku mah sejak dulu juga udah suka. Cuma mungkin takdirnya aku jadi yang kedua."


"Eh .. Kok ngomongnya gitu, kenapa jadi yang kedua. Kamu tetap nomor dua .. hahaha .." ledek Asna membuat perasaan Irham mengerucut bibir.


"Jadi yang kedua ya ..?" kembali Irham.


"Iya kedua yang aku amat sayang .. " puji Asna membuat hati Irham senyum malu malu.


Sehingga sampailah di sebuah rumah, hati Asna berdetak hebat. Apalagi di rumah kediaman Irham kali ini ada tante Marisa yang sudah jadi ibu mertuanya. Iya dia adalah anak yang kurang beruntung, ibu yang telah tiada dan ayah yang entah ada dimana keberadaannya. Tetapi keluarga bahrain termasuk Irham sangat peduli dan mengkhawatirkannya, selalu membuat merasa aman. Hanya saja pembatas mata elang yang berada di pintu besar, terlihat masam tak sedap menatapnya ketika kami baru saja sampai, membuka pintu.


"Duh .. Yang baru honeymoon. Bawa oleh oleh enggak?" sindir Tika.


"Kamu ini, tahunya oleh oleh aja."


"Dih .. Emang enggak boleh ya?" ujar Tika yang langsung menyapa, memeluk iparnya itu yakni Asna.


"Hm .. Bawa apa enggak ya ..?"


"Yah .. Udah satu frekuensi sama kak Irham nih, gak asik." celotehnya membuat Asna ikut tertawa.


"Bawain dulu nih! Berat tahu, hai mah. Hai pah, kami pulang."


"Haha .. Ayo masuk, segera bersih bersih gih! Tika udah jangan ganggu kakak kamu dan kakak ipar kamu, mereka capek pastinya di perjalanan." ujar Bahrain, namun hanya tangan Marisa yang tidak mau menyentuh tangan Asna kali ini, membuat semua terdiam.


"Pah .. Mah .." lirih Asna, yang membuat mata Irham mengelus bahu Asna, berharap Asna tetap tersenyum, kala tangan Asna tetap tak di sentuh malah di tinggal masuk lebih dulu.


"Tangan tante Marisa, lagi keseleo. Asna kamu masuk gih, Irham ajak Asna ke atas!" ucap Bahrain yang membuat suasana kembali senyum.


"Oke .. Irham ke atas dulu ya, bentar lagi kita makan malam kan."


"Iya dong, pastinya .. pokoknya pengantin jangan telat." bisik Tika, membuat tawa kembali, dan Irham mengacungkan jempol.


Hingga beberapa saat, sampai lah di lantai atas, hal ini membuat kehidupan Asna yang wajahnya murung, Irham pun mendekat lalu memberi suport.


"Mama kan sudah dari dulu begitu, kamu jangan ambil hati ya!"


"Apa karena ibu ku gantung diri, mama Marisa enggak suka dan belum bisa terima aku jadi menantunya ya."


"Ssst .. Bukan itu, yang jelas masalah itu bukan hak kamu As .. Bukan salah kamu, dan kamu enggak perlu ungkit atau cari masalah baru, dengan membuka kasus mama kamu yang dulu, oke! Kita tutup masalah ini, sebaiknya kita mandi. Udah lengket nih .." goda Irham, yang mana mata Asna membulat saat Irham sudah melepas pakaiannya itu.


Eh ..


Tok ..


Tok ..


Mata Asna dan Irham menoleh ke arah pintu kamarnya.


TBC