Skandal Cinta Ke Dua

Skandal Cinta Ke Dua
Rencana Hasna


Meninjau, adalah langkah terbaik yang hari ini akan di lakukan Asna. Bukan tanpa alasan, ia akan melihat proyek yang sering di banggakan Arga. Entah kenapa buku buku kerja yang tersusun rapih itu, membuat coretan sebuah penyesalan yang akan di ucap Arga, karena telah menemuinya untuk membantu proyek PT Nusa Sakti.


Sebab tidak ada yang tahu, kedepannya kelak. Apakah hidup Arga akan baik baik saja, setelah satu persatu semua yang ia miliki dan banggakan akan lenyap karena kebodohannya, dan ketidak becus dirinya yang memimpin sebagai petinggi di perusahaan PT Nusa Sakti.


"Bu Hasna, kita harus berangkat sekarang. Sebab nanti jam tiga sore, kita akan bertemu klien penting."


"Baiklah, aku sudah siap. Pastikan jangan ada yang tertinggal."


"Baik bu."


Langkah Asna menuju proyek perumahan elite yang di bangun oleh Arga, mantan suaminya itu memang benar membuat Asna mengingat dirinya empat tahun silam, sebuah peta proyek bangunan, rangka yang pernah ia buat semasih bekerja adalah miliknya. Tidak pernah sangka, setelah di cerai oleh Arga yang membekas hingga kini, membuat Asna tidak berfikir logis.


'Empat tahun lalu, gambar proyek ini adalah milikku.' batin Asna yang melihat file, dan mencocokan itu adalah hasilnya dan di buat ulang dengan nama yang berbeda.


Saat itu Asna menjabat jadi manager. Entah kenapa setelah bertemu Arga, ia menjadi karyawan dibawahnya menjalin asmara dan menikah. Asna memilih menjadi ibu rumah tangga setelah empat bulan menikah ia mengundurkan diri dan merekomendasikan Arga suaminya itu pada owner PT Nusa Sakti, semua itu agar pencapaian Arga bisa naik, sebab suami istri tidak di perkenankan untuk bekerja bersama di perusahaan yang sama dan salah satunya harus mundur, itulah peraturannya.


'Kita lihat, apakah kamu akan menggambar peta yang kamu buat proyek yang sudah berjalan 40 % mas Arga. Apakah proyek semuanya itu di design oleh mu, atau kamu menjiplak karya orang lain. Kamu salah besar! Dan setelah ini kamu akan di penjara dengan hukuman yang berat.' deru batin Asna lalu menutup File berkas PT Nusa Sakti.


"Apa kita masih lama?" tanya Asna.


"Lima belas menit lagi, kurang lebih bu." balas Laras sang asisten.


Asna pun tak lupa mengabari Irham, dimana ia yang berada di New York. Sebab perusahaan di luar negeri, memang yang paling handal adalah Irham. Apalagi terkait keluarga Bahrain yang berkumpul, membuat Asna ingin bekerja saja di indonesia, sekaligus dekat dengan kediaman sang ibu.


"Kita sudah sampai bu." ujar Laras, hal ini membuat mata Asna, menutup pen pada layar ponsel lipatnya.


Asna pun turun, ia di datangi oleh seorang mandor dimana mereka amat ramah. Asna pun senyum tak lupa mengenalkan diri, jika kedatangannya hanya meninjau proyek yang sedikit terhambat saja.


"Selamat siang bu, maaf apakah anda owner dari PT. Nusa Sakti yang dibicarakan?"


"Owner .. Setau saya owner proyek ini .. Kenapa anda bicara begitu? Pak Lutfi, ya nama anda benar dari name tag. Kenapa anda tidak tanya bos kalian, Arga Kusuma?" lirih Asna.


"Hmm .. Justru pak Arga yang bilang, kalau owner pt ini akan kembali melanjutkan proyek yang mangkrak bu. Bahkan sudah delapan bulan, hak kami belum lunas dibayarkan. Saya kemari karena desas desus .. Dan ingin tahu kejelasan, kali saja saya bisa meminta hak kami, bahkan kami takut pak Arga memakai mandor dan pekerja lain." ujar Lutfi menjelaskan, dimana beberapa anak buahnya ikut bising.


"Bagaimana bu Hasna, baru pertama kali meninjau saja sudah begini, apa kita batalkan kontrak nya saja?" tanya Laras.


"Hmm .. Kedatangan kita memang tidak memberi kabar Arga bukan. Jadi biarkan saja, beri pengakuan dokumentasi pada Lutfi dan rekan lain sebagai bukti, jika proyek mereka gagal kita bisa tuntut sebagai tambahan." jelas Asna.


"Baik bu."


Dan langkah Asna kembali pada pria paruh baya itu, dengan berkata dengan jelas.


"Kami hanya investor yang mendanai saja pak Lutfi. Untuk hal anda saya tidak bisa banyak menuntut, jika ada kesempatan datanglah pada perusahaan saya. Mungkin saya bisa membantu anda untuk mendapat Job dari PT yang amanah." senyum Asna.


"Oh .. Maaf kalau begitu, saya salah sangka. Terimakasih atas kelapangan hati bu .. "


"Bu Hasna namanya pak." sambar Laras.


"Sama sama, datanglah! Mungkin dengan ini saya bisa bantu anda dapat job. Semangat dan saya tahu, pak Lutfi orang baik dan amanah, maka dari itu saya berkata spontan seperti tadi." lirih Asna yang kemudian meninjau melihat lihat lagi seluruh bangunan mangkrak.


Sebab Asna mengenal pak Lutfi, dia orang jujur dan kompeten. Hanya saja masalah tidak dibayar, apakah Arga kemungkinan korupsi atau ada oknum lainnya, jadi kemungkinan jika proyek kembali lanjut, Arga tidak akan memakai pak Lutfi, dan kemungkinan kecurigaan korupsi ada pada pimpinan yang bermasalah.


'Pernah dengar kan Pimpinan bermasalah, maka ke bawahnya akan ikut bermasalah juga.'


Asna melangkah dengan melihat bangunan yang benar benar mirip design miliknya. Suatu hari Asna pernah bicara pada Arga, jika bangunan yang ia design pasti akan merubah kota menjadi kota paling ramai dan paling indah, impian itu pun hancur ketika mereka bercerai, dan tak sangka Arga mencuri design impiannya dengan merubah nama pemilik aslinya yang membuat.


"Laras, tolong hubungi Arga. Bicara padanya untuk mendesign proyeknya di ruangan meeting besok, saya ingin tahu klien seperti apa dia, sudah tidak membayar hak orang lain, apakah ada kebohongan lagi." cetus Asna kali ini.


"Baik bu Hasna, saya segera hubungi."


***


Sementara di tempat lain, Arga yang pulang makan siang pada sang ibu. Ia melihat ibunya berbeda, hal ini membuat Arga nampak bertanya banyak.


"Bu, aku makan siang di rumah kenapa ibu masam begitu, apa ibu enggak suka?" tanya Arga.


"Apa kamu sedang kesulitan uang, sampai sampai makan di rumah hah?" teriak Febi.


"Loh, bukannya kalau Arga makan terus di restoran. Ibu selalu ngomel menyuruh Arga pulang, untuk makan siang di rumah. Ibu akhir akhir ini aneh deh, kenapa sih bu. Bicara sama Arga."


Argh ... "Arga, ibu kena tipu investasi bodong, ibu gadaikan villa di puncak sebesar 5,5 miliar Dan ibu bingung mencarinya kemana .." teriak Febi, membuat Arga yang makan menyemburkan makanannya.


Byur .. Semburan nasi dan lauk begitu saja membuat Arga tersedak.


"A-apa .. Ibu gadai kena tipu orang?" tanya Arga.


"Maafkan ibu Arga. Villa pemberian kamu ibu gadai, tolong tebus sertifikat Villa itu. Ibu tahu ibu salah nak."


"Hah .. Bu, 5,5 miliar. Arga dapatin uang segitu dari mana, dan berapa bunganya. Gila .. Ibu benar benar membuat masalah." teriak Arga, yang kali ini tidak nafsu makan.


Tlith.


Tak lama nada dering ponsel Arga, membuat mata Arga langsung mengangkatnya juga, padahal marah nya pada sang ibu belum selesai.


"Iy bu Laras .."


"Apa ... ?" lemas Arga, ia benar benar tidak berkutik saat ini.


Masalah kejujuran ibunya membuat ia syok, kali ini permintaan bu Laras dari Perusahaan Bahrain, meminta satu hal yang membuat Arga sedikit panas dingin.


TBC.