Skandal Cinta Ke Dua

Skandal Cinta Ke Dua
Gara Gara Kecoa


"Lihat saja, tak lama lagi dia akan kacau cari mangsa baru." ujar Irham, dimana Asna menoleh.


"Kamu tahu dari mana sih, kok kamu kaya kenal Anita saja, jangan jangan kamu kenal dia udah lama."


"Kamu cemburu?" goda Irham.


Helaan nafas, membuat Asna berkata."No problem, aku tahu semua pria punya rahasia."


"Hey, aku enggak pernah punya rahasia rahasia ya, aku cuma tahu Anita pernah jadi pacar sepupuku. Yang jelas, aku tahunya dia selingkuh sama pengusaha batu bara, aku sampai enggak sangka kalau dia jadi selingkuhan suami kamu."


Deg.


Ada rasa kelu di bibir Asna, sebab kali ini semua masalahnya selalu berhubungan dengan Irham, sehingga Asna senyum pada sahabatnya itu.


"Aku mau coba menjauh dari kamu, tetap saja kamu sejak aku kecil selalu tahu, masalah seperti semut pun kamu lagi lagi tahu soal tentangku, ini enggak adil. Serasa aku ketergantungan terus sama kamu Irham. Apa seperti ini rasanya sahabat, harusnya aku juga tahu semua soal percintaan kamu, kaya kamu ini tahu soal aku." jelasnya membuat Irham tertawa.


Asna pun dan Irham kembali melaju, ketika lampu merah kembali berubah, Asna menatap Anita yang jalan seolah frustasi, ada rasa kasihan. Bahkan ia melihat kaca spion arah Anita yang entah akan kemana.


"Kamu mau ikuti Anita, setelah apa yang dia lakuin?" tanya Irham, masih mode menyetir.


"Tetap aja, kayaknya dia kebingungan. Apa kita ikuti aja, ...?" tanya Asna.


"Dia ke arah gang, udah pasti ke kontrakan petak. Tinggal sama bu Febi, emang kamu udah siap ketemu mantan Bumer."


"Bu - Mer?"


"Iya, mantan Ibu Mertua."


Asna mencebik bibir bawahnya, kala ucapan Irham ada benarnya juga.


"Kita makan aja deh, lupain soal tadi. Aku kenapa selalu peduli ya, padahal terus aja dan tahu mereka nyakitin." lirih Asna celos begitu saja.


"Karena itu keistimewaan kamu, kamu itu langka As. Sikap kamu, yang sangat spesial dan cantik hatinya dari dulu. Hanya pria bodoh yang nyia nyia in kamu."


"Mulai deh gombal."


"Kamu tuh ya, aku enggak gombal masih aja dibilang menggombal. Eh, bentar lagi kita sampai."


Irham belok ke arah mall, dimana jalan itu menuju rumah makan mie ayam. Sebab bukan di dalam mall mereka makan, namun tempat langganan mereka adalah di dekat parkiran mall, sejak lama Irham dan Asna selalu makan di tempat itu, selain enak memang nyatanya banyak kenangan yang tak bisa Irham lupakan, dan Asna hobi makan di mie ayam tempat tersebut.


"Pak, dua mangkok kaya biasa, yang satu banyak sayur. Yang satu enggak pake sayuran! Pake sambal dua sendok aja. Es nya jeruk satu sama teh tawar hangat satu." pesan Irham, yang duduk di meja.


"Asiiiap .. Segera." teriak penjual.


"Kenapa lihat aku kaya gitu As, aku bisa geer nih."


"Ih kamu itu ya, baru di liatin gitu aja udah ter ter .. Gimana gitu? Jangan jangan sama cewek lain ..?"


"Jangan mulai As, cuma sama kamu aku tuh kaya gini. Oh iya, nanti malam aku kirim progress klien di Amerika. Kamu pelajari ya, karena nanti kamu yang utama maju." jelas Irham membuat Asna mengangguk.


"Siap Bos Irham." mode senyum manis, yang membuat Irham tidak ingin jauh an ingin melihat wajah Asna terus.


Pesanan datang!! Teriak pelayan itu amat ramah pada Asna dan Irham.


"Kita makan dulu ya!"


"Hemp .. Siap bos Irham." senyum Asna, membuat Irham semakin berdebar saja, apalagi duduk di bangku kayu panjang saling berjajar membuat Irham membayangkan hal lain.


"Kok senyum senyum? Mau makan mie ayam, apa mau khayal?" tanya Asna, menyenggol lengan Irham kala itu.


"Heh .. enggak apa apa kok."


"Mending kamu duduk di depan aku, biar enak. Aku ngerasa pikiran kamu melayang jauh deh, ayo duduk di depan!" ujar Asna, membuat Irham memanyunkan sedikit bibirnya.


"Oke bu Hasna Bahrain. Irham akan laksanakan." bisiknya membuat Asna, mengerutkan salah satu alisnya.


Dan mereka pun akan makan bersama, namun tatapan mata Asna yang saat ini sedang makan mie ayam, ia tersentak melihat sesuatu di rambut Irham yang akan berdiri.


"Tunggu! Kamu diam disitu, jangan gerak Ir .."


"Kenapa .. Ada apa sih?" kaku Irham, yang kala itu terlihat sesuatu berjalan ke keningnya.


Sreth ..


Tercengangnya Irham, membuat Asna menepuk menyingkirkan kecoa terbang kala itu, dimana langkah Asna saat itu juga tersentak bangku dan menindih tubuh Irham, pasalnya saat Irham hendak pindah, Asna menghentikan Irham dimana ada kecoa terbang dari arah kipas angin, ke atas rambut Irham, yang membuat Asna refleks ingin menyingkirkannya.


Argh .. ( Teriak Irham ketakutan )


Uups ..


Bragh ..


( Asna terjatuh, dimana Irham melihat wajah Asna, yang kala itu berada di atas tubuhnya. )


TBC.