
Asna merasa iba, ia memberikan selembar uang biru. Dimana tak lama, mobil Irham tiba begitu saja. Jadi Asna tidak sempat berkata kata hanya memberikan uang pada pria dekil, dengan sebuah tongkat di sebelah kaki yang diperban begitu.
"Sayang, maaf lama menunggu!" ujar Irham, mendekat.
"Enggak kok, kebetulan banget ini baru juga keluar. Udah siap .. aku enggak mau kamu terlambat."
"Iya sayang, kalau begitu ayo .."
Irham membuka pintu mobil, dimana tangan kiri terlihat berjaga di atas kepala Asna, agar ia tidak terbentur. Asna yang duduk ia sempat menoleh ke arah jalan, dimana Irham juga langsung menutup jendela kaca, dan Irham segera menyalakan mobilnya. Dan hal ini, membuat mata Asna melupakan pria yang berdiri kaku melihatnya.
"Kamu lihat apa sih?"
"Aku .. Tadi sedikit kasihan aja, pria tadi itu kayaknya habis kecelakaan deh. Jadi aku enggak sengaja kasih sesuatu, juga roti yang aku beli kamu aku kasihin dia. Kayaknya lapar, maaf ya."
"Hm .. Mulianya hati istriku, yang mana sih. Aku enggak kepikiran, yang mana. Soalnya tadi aku hampiri kamu cuma sendiri."
"Masa sih, mas Irham beneran enggak lihat?"
"Hm .. Mungkin aku selalu merhatiin mata dan hatiku sama kamu aja, jadi aku enggak perhatiin ada yang lain."
"Kamu nih, pandai gombal."
"Kok gombal sih, orang aku muji istriku."
"Iya iya deh, aku tahu. Makasih ya suamiku .. Cup." kecupan kilat, begitu saja membuat Irham sedikit naik dan merinding.
"Sayang, kita mau ke bandara loh. Jangan bikin aku putar pulang, atau melipir ke hotel sejenak."
"Hahaha .. Aneh deh kamu ini, udah ah. Jangan bikin aku terus malu."
"Beneran, mangkanya kalau kecup tuh jangan dadakan gitu, kasih kode dong. Biar aku juga ikut nyambut." balas Irham.
"Hiks, itu namanya kamu mau yang lebih, udah ah. Ayo nyetir yang fokus!"
"Siap bu bos." senyum Irham membuat tatapan mata, tawa Asna pecah.
Mereka memang akan ke bandara, akan tetapi menyempatkan pulang untuk membawa yang tidak terbawa, apalagi menuju bandara ia di antar oleh supir, dimana mereka sampai kali ini di kediaman Irham hanya 15 menit saja.
Berbeda tempat, Arga yang kali ini merasa tidak berdaya, ia melihat uang pecahan lima puluh ribu yang diberikan Asna, saat itu. Dimana hal ini dirinya ling lung ingin membalas dendam, begitu manis melihat pria yang Meratukan mantan istrinya itu.
"Tunggu-tunggu .. Pak! Anda ini siapa, main tarik tarik aja!"
"Ayo ikut saya ke kantor! Gelandangan tidak dibolehkan berada disini!" ujar Satpol begitu saja melintas.
"Eh .. Saya bukan ngemis, saya bukan ngemis! Lepasin saya!" ujar Arga yang menolak.
"Boleh saya lihat ktp anda pak, nanti kita urus di kantor. Sekarang bapak naik ke atas mobil!" perintah satpol membuat Arga jantungan.
A-apa Ktp?!
Arga yang menolak ia ingin sekali berlari, namun jika ia lari sama saja nanti ia akan di kejar dan mendapat masalah baru, bukan kebetulan penyamarannya akan terungkap. Sehingga Arga kali ini nampak frustasi ikut di boyong oleh mobil Satpol PP.
Hingga beberapa jam kemudian, Arga yang sudah berkumpul dengan para orang yang menggelandang ia berusaha memutar telepon untuk menghubungi Anita. Akan tetapi perlu beberapa kali tersambung, hingga kelima lah ia berhasil mendengar suara Anita.
'Hm .. Ah, siapa sih ini. Ganggu aja?'
'Anita .. Kamu lagi apa, Sayang bantu aku! Aku di geledah satpol di kira gelandangan, tolong jemput aku Nita!'
Deg ..
'Mas Arga .. Di gondol Satpol? .. '
'Iya Soalnya .. ' terputus Arga belum selesai bicara, sudah dimatikan.
Tut ..
Tut ..
"Argh .. Cowok gak guna, keluar malah di gondol Satpol. Pake bilang sayang lagi, bego banget deh. Gimana ini .." lirih Anita, yang terlihat frustasi.
Aw ..
"Ayo lagi, kamu terima telepon dari siapa sih?"
"Eh .. Bukan siapa siapa sih." lirih Anita yang senyum ke arah sampingnya, melupakan sosok Arga.
TBC.