Skandal Cinta Ke Dua

Skandal Cinta Ke Dua
Pertemuan Arga & Hasna


Kali ini Asna naik mobil sendiri ke kantornya, sementara supir yang biasa sedang cuti libur. Maka dari itu, setelah Asna membeli sarapan. Tak sengaja ia melewati kediaman rumah Febi. Benar benar tidak ada yang di khawatirkan, sebab nampak rumahnya terlalu sepi. Akhirnya Asna melewati saja dan menuju kantor.


Namun dalam puluhan menit tiba ia berada di depan kantor saat memarkir, pucuk pun tiba. Yang dinantikan benar benar bertemu, ada dua wanita paruh baya yang ia temukan saat itu di belakang mobil, terlihat sedang beradu mulut. Asna yang ingin memastikan suara yang ia kenal, ia segera melangkah dan mencari tahu sumbernya. Benar saja, dua wanita sedang adu mulut yang tak biasa, sepertinya sedang banyak masalah.


"Gimana sih, Sofi. Kamu itu harus bantu aku dong, gimana ini kalau enggak sampai di temukan."


"Loh, saya mana tahu ibu Febi ikutan juga. Kalau saya mah emang kecil, dan dua modal udah kembali. Kemarin lalu anak saya sakit, jadi saya enggak dapat keuntungan. Soalnya saya tarik lagi investasi 50 juta terakhir kali, dan di potong 10 %, darurat. Jadi saya enggak tahu kabarnya. Kamu juga main pergi aja, tanpa tahu omongan aku yang komplite waktu di cafe." jelas Sofi.


"Semua itu tetep kamu loh biangnya, aku mau kamu tanggung jawab, cari keberadaan dia itu, Jeng Rita."


"Dah lah Febi, daripada kamu ribet. Mau jadi musuh pun kita ini terserah aja, aku capek dan laporin aja. Wong aku enggak terlibat, emang ada aku ajak kamu buat naro uang kamu, paksa kamu. Enggak kan, dahlah. Aku kesini mau ketemu suami aku. Jadi enggak usah ganggu aku sampe ngikutin aku ni ya!" tegas Sofi.


Deg, sesak Febi kala itu.


Hal itu membuat diam tak tentu arah, mata Febi benar benar berkeringat dingin. Dan Asna yang terlanjut senyum, ia kembali berjalan dan melewati dengan langkah yang anggun. Terlihat lagi oleh Asna saat ia menoleh kebelakang, Tante Febi benar benar frustasi karena kebodohannya sendiri.


'Hm .. Tante baru kehilangan beberapa miliar, belum dengan kejutan lainnya.' batin Asna dengan langkah yang senyum.


Tlith.


Ponsel Asna segera berdering, ia tahu siapa yang memberi pesan di pagi ini. Ia adalah Irham, Irham meminta Asna bekerja di ruangannya terkait menangani klien yang harus ia hadapkan.


( As, jam 2 siang. Tegarkan hatimu, aku yakin kamu bisa.) pesan Irham membuat Asna sedikit aneh.


( Apa yang kamu cemaskan, aku tidak mungkin di kenali, dan tidak mungkin lugu oleh masa lalu, kedatangan ku. Untuk bisnis perusahaan Bahrain untung, dan orang yang aku panah saat ini yang buntung.) balas Asna mengirim kembali pesan pada Irham.


Tanpa ada balasan, Asna menaiki lift. Lantai sebelas, ia melangkah dengan jenjang kaki yang panjang dan amat anggun.


"Pagi bu .."


"Pagi Bu Hasna."


Beberapa karyawan menyapa hormat, layaknya direktur kepemimpinan Pt Bahrain. Hanya dengan banyak kemampuan Asna, ia yang tadinya sekertaris di Amerika. Ketika sampai di ibu kota, posisinya adalah direktur tangan kanan Irham yang memiliki perusahaan tersebut.


( Kalau begitu sukses ya! Jangan terlalu pedas.) kembali Irham membalas pesan.


Asna yang membuka kembali pesannya ia tetap wibawa, bahkan setelah di ruangannya. Ia melihat papan nama miliknya, sambil berbicara kecil.


"Aku tidak pedas, tapi memberi tamparan tipis tipis setipis pisau cutter, tak terasa dan ternyata menyakitkan." lirih Asna yang tidak sabar akan bertemu Arga dan Anita.


Bahkan dengan link kekuatan Irham, kini dirinya bisa handle dengan cara cantik, yakni membuat mereka menyadari kata Maaf saja tidak cukup, untuk mengobati lukanya.


***


Sementara di tempat lain, Anita kali ini sedikit kepusingan jadwal yang bentrokan dengan Pt Bahrain dari cabang Amerika tepat jam 2 siang, bahkan ia juga ada rapat yang tak bisa di tunda terkait kerjasama klien yang sudah lama hanya punya waktu hari ini saja, di tempat yang berbeda di jam yang sama.


"Mas, ini gimana. Masa aku datang sendirian?"


"Kamu yang bodoh! Kalau kita pilih pt Baru, apa kamu yakin enggak kehilangan klien lama kita, gini aja kamu datang ke pt Bahrain sekarang!"


"Enggak bisa mas, di sini kepala divisi bilang pt Bahrain direkturnya langsung mau ketemu hari ini juga, jika tidak perjanjian batal. Mas, kita udah lama loh menunggu hari ini tiba."


"Ya udah aku coba untuk hubungi perusahaan Bahrain sekali lagi deh, semoga mau ulur jam sore."


Hal itu pun membuat Arga meninggalkan ruangannya, dimana Anita akhir akhir ini bekerja sedikit tidak becus, selalu saja pertemuan dengan rapat bersamaan, bisa bisa ia kehilangan banyak klien jika seperti ini terus.


Anita nampak menghubungi perusahaan Bahrain, namun sepertinya tidak mendapat jawaban dimana sambungan perusahaan yang Anita hubungi selalu di luar jangkauan, mungkinkah sangat sibuk.


Anita segera ke ruangan lain, ia melihat Arga sedang menunjuk bawahannya, hal itu membuat Anita profesional.


"Pak Arga maaf." menyapa.


"Baiklah Jodi, tolong segera benahi ya! Jangan sampai terlewatkan." titah Arga, membuat Jodi berlalu.


Lalu Arga melihat Anita untuk segera ke ruangannya.


Sepuluh menit berlalu."Jadi bagaimana?"


"Maaf, mas. Sulit .. Tapi udah coba menghubungi, masih aja sulit." terdiam Anita.


"Hah, jika bukan dana ratusan miliar, aku tidak akan datang. Lagi pula, seperti apa sih pemilik nomor satu itu, kenapa tidak ada jejak pemiliknya."


"Private mas. Seharusnya sih owner berkelas dia akan private, sehingga banyak yang memburunya."


"Kamu hubungi sekertaris Mr Ken. Dan pastikan pertemuan dengan Mr. Ken tidak gagal. Aku akan berusaha pertemuan itu dua jam kemudian, tolong cegah Mr. Ken untuk menunggu."


Anita pun mengangguk paham, hanya saja dua jam menahan klien, merasa tidak benar. Kenapa tidak dengan menjelaskan yang sebenarnya saja.


Anita pun segera bersiap, merapihkan berkas untuk menuju pertemuan Mr. Ken, sebab kali ini ia berhasil membujuk Arga untuk menuju Perusahaan Bahrain, hal itu membuat ia menghela nafas, semoga pertemuan ini berjalan lancar, sebab perusahaan Arga sedang menurun drastis.


RUANGAN PRIVASI.


Beberapa jam kemudian. Arga sudah sampai di gedung tinggi, naik ke lantai sebelas yang menyatu pada lantai sepuluh, kantor dengan dua sisi kiri dan kanan. Para staff wanita dan pria dibedakan, hal ini membuat Arga terpana akan seisi kantor tersebut, setiap sudutnya membuat design interior kenyamanan para pekerja yang selalu di temani monitor.


"Sebelah sini pak Arga, ruangannya di sebelah kanan! Ini dia ruangan direktur."


"Baik terimakasih."


Laras mengetuk pintu ruangan direktur, dimana ia juga di pindahkan ke ibu kota oleh Irham, untuk mengawal pekerjaan Asna lebih mudah.


Arga pun masuk, dan melihat nama papan direktur yang ia kira pria ternyata adalah seorang wanita.


"Permisi bu Hasna. Pemilik PT Nusa Sakti, ini pak Arga Kusuma yang akan bertemu." ujar Laras, membuat mata Asna menaikan wajahnya.


Dan kala itu Arga cukup terkejut, terlebih nama direktur itu adalah nama yang sedikit mirip dengan masa lalunya, meski hanya bagian depan saja.


'HASNA BAHRAIN.' lirih Arga tak berkedip.


TBC.