Skandal Cinta Ke Dua

Skandal Cinta Ke Dua
Pria Dekil Menatapku


"Maaf tuan, saya mengganggu ada undangan dan bucket, saya letakkan di meja ya!" asisten mengetuk dari balik pintu kamar luar dan pergi.


Asna yang menghela nafas, ia segera senyum menatap Irham. Irham pun berdiri, lalu segera membuka pintu dan melihat bucket bunga dan sebuah pesan serta undangan. Hal ini membuat Irham tersenyum membacanya.


"Dari siapa?" tanya Asna.


"Mr Brian, ia kirim ucapan selamat karena tidak hadir, juga mengundang kita lusa nanti. Hm .. Artinya ..?" melirik Irham.


"Jadi aku harus ikut, kantor nanti gimana?" tanya Asna.


"Besok minta Rain dan Linda handle dulu, tidak ada salahnya bukan. Kita bertemu klien besar, sekaligus undangan tanda hadiah pernikahan kita. Mr Brian orang sibuk, mangkanya dia sempat tidak hadir di acara kita."


"Hm .. Baiklah, kamu memang terbaik kalau soal begini, aku tidak bisa menolak. Jadi artinya aku akan ketemu keluarga Bahrain, mertuaku dan Tika lagi."


"Hehehe .. Tika pasti akan protes, karena dia bawel dan cemburu jika kakaknya sudah sold out. Biasanya dia akan terlihat manja, menggelendot di bahu aku. Sekarang rada canggung."


"Hm .. Aku tidak permasalahkan karena dia adikmu, suamiku. Kecuali yang gelendot itu wanita lain."


"Ciye .. Udah ada yang cemburu, aku jadi senang lihat Asna Wijaya seperti ini."


"Mulai deh goda aku." malu malu.


Asna pun kali ini terlihat merona, dimana Irham mulai kembali memeluk sang istri, dan saling menatap dengan rasa penuh gairah memuncak.


Muuach ..


"Suamiku, tutup dulu pintunya! Jangan lupa di kunci."


"Ah .. hampir saja aku melupakan itu, baiklah oke sayang."


Kembali Irham memeluk Asna, dimana tali piyama entah sudah berapa lama terlepas, apalagi helai pakaian milik Irham pun sudah sama sama membulat, dimana Asna melakukan ibadahnya untuk selalu saling mencintai dan selalu setia menunggu dalam keadaan apapun.


Pagi Harinya :


Terlihat sudah pukul sepuluh pagi, di kantor Asna masih mengecek data data yang ia harus tanda tangani, apalagi saat ini Irham sedang pergi bersama owner owner besar entah itu untuk urusan apapun, Linda yang membantu Asna menginput di buat kaget ketika baru masuk ruangan Asna.


"Panggil pak Rain ke ruangan saya setelah ini ya Linda, semua sudah saya tanda tangani. Tinggal print dan cek ulang data yang kamu input hari ini, terimakasih."


"Baik bu."


"Eh iya, jangan lupa panggil tukang service Ac disini mati segera ganti, juga tolong minta OB cari tukang untuk mengecek kabel telepon yang rusak, kalau enggak bisa digunakan kamu belanja ganti telepon kantor. Cek juga di ruangan karyawan lain ya, biar sekalian!" pinta Asna.


"Baik bu,"


"Pagi pak Rain, hm .. Maaf di minta menemui bu Hasna pagi ini."


"Oke .. Eh .. Iya Linda, kayaknya sambungan telepon banyak yang mati kamu .."


"Ya pak, saya sudah mintai OB untuk cari tukang, jika tidak bisa digunakan bu Hasna sudah minta saya untuk mengganti yang baru, kalau begitu saya permisi." jelas Linda dan pamit.


Rain pun diam, ketika Linda mematahkan ucapannya sebelum ia selesai berkata. Hingga untuk kali ini, Rain pun ke ruangan owner.


Tuk ..


Tuk ..


"Masuk Rain, silahkan duduk!"


"Maaf bu Hasna ada apa ya?"


"Beberapa hari kedepan dan seterusnya saya minta bantuannya, karena saya akan jarang di kantor. Saya minta kamu dan Linda handle. Jika ada sesuatu kabari saja saya!"


Deg ..


"Kenapa begitu .. Maaf saya lancang?"


"Rain, ayolah kamu ini sudah jadi manager. Dan Linda Asisten manager yang akan membantu kamu, jika tahun ini ada kemajuan, aku mau kamu duduk di kursi ku nanti. Sudah tahu kan, kenapa ..?" senyum Asna melihat rekan baiknya itu.


"Ah .. Saya merasa tersanjung, ketika dapat penghargaan jabatan naik pesat singkat karena anda mengenal saya."


"Itu karena kamu pantas, bagaimana anak anak sehat?"


Pembicaraan pun sedikit santai, karena Asna dan Rain telah mengenal lebih dulu, sementara Rain ikut senang sudah lama tidak mengobrol jarak dekat seperti ini, namun rasa perasaan ini harus ia buang jauh jauh karena Asna Wijaya sudah menjadi bagian keluarga Bahrain yang sangat berkuasa, jika dibandingkan dengannya mustahil.


"Sangat sehat, yang pertama sudah mau masuk Smp, yang kedua dan ketiga kelas 5 dan 4, yang terakhir Tk. Semua berkat anda saya bisa sekolahkan mereka satu sekolah di sekolah bergengsi dan terbaik di ibu kota. Bahkan antar jemput dan menggaji 4 nany."


"Hm .. Baguslah, itu karena kau ayah yang hebat. Jangan lama lama sendiri, Mia pasti bangga melihat kamu seperti ini Rain, di atas sana dia juga mau kamu bahagia, baiklah aku cuma sampaikan itu saja, satu jam lagi saya akan pergi. Karena sore nanti saya harus ke eropa bersama pak Irham. Jadi saya titip kantor perusahaan dengan baik ya." senyum Asna, melihat Rain.


"Terimakasih Bu Hasna." pamit Rain dari ruangan Asna.


Dan beberapa saat kemudian, mata Asna menatap sebuah pesan di ponselnya. Yakni itu adalah dari Irham, namun saat tepat di lantai bawah Asna berdiri menunggu mobil Irham, matanya dikejutkan dengan pria dekil dan sedikit pincang, yang membuat Asna sedikit syok karena menatap terus ke arahnya.


TBC