Skandal Cinta Ke Dua

Skandal Cinta Ke Dua
Asna Menghasut Rain


Anita yang telah sampai kantor, ia menghampiri Arga kali ini. Sehingga hal itu membuat mata yang melirik lirik jika tidak ada karyawan lain yang melihatnya, atau tidak sebatas mendengar pembicaraannya.


Krek ..


"Mas Arga, kamu yakin mau gadai sertifikat rumah ibu, apa kamu gila mas?" tanya Anita.


"Ssst .. Nit, udah deh. Kamu itu enggak usah sok kasihan sama ibu, ketimbang nanti ibu yang gadai buat bayar bunga villa puncak, kalau enggak ditebus bukan nya sama aja. Lebih baik aku gadai, atau enggak jual cari rumah lebih kecil untuk sementara waktu, atau sewa rumah sementara aja kita tinggal, sampai proyek kita goal selesai bisa ke beli rumah lebih besar." jelas Arga dengan wajah muram.


"Tu- tunggu mas! Maksud kamu apa, bunga Villa yang di puncak?"


"Iya .. Ibu terlilit hutang, villa puncak ibu gadai sebesar 5,5 M, belum lagi tabungan ibu dikuras, hanya karena terperdaya investasi bodong. Kamu tahu berita yang lagi viral sekarang, nah ibu salah satu korban paling besar. Sebanyak 7,5 miliar. Dan ibu bilang saat ini saldo ibu tinggal lima juta saja, aku suruh nebus dari mana uangnya coba, benar benar ini buat mas gila."


Deg.


"Apa .. Mas .. Kamu jangan gila dong, ibu kan bilang setelah aku hamil punya anak, Villa puncak akan jadi aset anak kita nanti. Kamu lagi bercanda kan mas? Kalau rumah di jual, terus kita tinggal dimana. Dan satu lagi .. Mas, kamu mau jual rumah satu satunya buat apa?" cercah Anita tanpa henti.


"Rain, si biang keladi itu bikin aku terancam Nit, dia curigai dana Global yang enggak masuk akal dan proyek kantor di ambil ahli sama dia, di acc lagi sama owner, kamu tahu kan setahun lalu aku pakai dana buat beli rumah, aku rubah seluruh dana investasi pengeluaran masuk, dan kali ini gara gara Rain, aku bisa mati. Owner pak Dirga mau kroscek ke kantor kalau benar ada dana yang kurang, sementara saldo di kantor enggak sesuai, ah. Bisa gila .. Argh .." teriak Arga sedikit frustasi.


"Jadi kamu bener cuci uang pt global mas, hah .. Aku kira .. Ah, kenapa jadu begini sih. Aku harus apa." lirih Anita sedikit lemas.


Arga mendekat ke arah Anita, lalu memegang dua bahu Anita sejajar pada tatapannya. Seolah meminta Anita untuk mendukung dan membantunya.


"Nit, demi kita .. Aku mohon kamu bantu aku, aku suami kamu. Semua aku lakukan untuk kita punya segalanya, aku lakukan demi membaik baik karyawan lain tetep dukung aku, enggak ada yang lain. Nikahi kamu secara besar besar dan pesta, itu demi kamu dan cinta kita." rayu Arga.


Anita yang merasa kasihan ia merasa telah ditipu, jika selama ini Arga tidak lah tajir seperti yang ia pikir, rasanya menyesal pun sudah tak ada guna, dan mungkin Anita berusaha bertahan sampai waktu tiba.


"Baiklah mas, nanti aku selidiki soal pak Rain. Aku akan cari berkas yang mau dia kasih ke owner. Aku juga enggak mau kamu di pecat dari jabatan kamu."


"Gitu dong, itu namanya Nyonya Arga." senyum Arga, yang kala itu Anita pun pamit kembali kepada pekerjaannya di ruangannya.


'Aku harus bantu mas Arga, Villa puncak di ambang tersita jika mama mertua tidak bisa membayarnya, dan rumah. Astaga .. Aku harus apa? Aku enggak mau sampai hidup miskin tidak punya apa apa, menyesal aku dinikahi Arga Kusuma yang nyatanya dia kaya dari hasil korupsi tiap proyek.' batin Anita mengoceh.


***


Sementara di tempat lain, sudah pukul sore Asna kini berada di proyek Nusa Sakti, dimana ia melihat properti di blok F, dengan tema kantor elite bergaya eropa. Asna melihat para tukang dan mandor sedang menjalani tugasnya masing masing, yang sudah hampir selesai tahap demi tahap.


"Selamat sore, apa anda Bu Hasna dari perusahaan Bahrain?" tanya Rain, yang baru melihat ada seseorang memperhatikan proyeknya di depan mobil mewah, masih memakai topi proyek untuk keselamatan.


"Ya. Saya Hasna Bahrain. Saya sengaja melihat proyek kantor elite sepertinya berbeda dengan blok C. Rumah eropa disana terlihat masih belum beres, apakah masih satu perusahaan?" tanya Hasna, seolah basa basi, pasalnya ia tahu siapa Rain.


"Ya, memang kami masih satu perusahaan tapi berbeda divisi, kebetulan kantor blok F ini. Sedikit berbeda, karena kualitas bahan paling kokoh bisa sampai puluhan tahun. Terlebih design ini saya dan rekan saya dahulu yang sudah berhenti satu tim, lebih banyak rekan saya sih model ide design ini, hanya saja entah lah sekarang dimana. Apalagi banyak bentuk yang saya rubah, hanya saja kualitas bahan kokoh selalu saya utamakan, demi keselamatan pemiliknya kelak."


"Semoga setelah selesai, semua berjalan dengan baik dan cepat laku, melihat mandor dan tukang anda juga teliti dan gerak cepat ya. Berbeda dengan blok C, lebih lambat dan terlihat ogah ogahan. Apa .. Pak Rain, tidak mau tahu kualitas bahan di perumahan blok C. Saya rasa meski beda divisi, anda harus tahu. Bukankah proyek ini satu tim, bagaimana jika proyek itu gagal karena ada sedikit kesalahan." pancing Asna.


"Maksud ibu Hasna apa ya?"


"Entahlah. Saya hanya merasa ada yang kurang saja, sebab saya itu salah satu investor yang tidak mau rugi, apalagi yang pertama pak Arga saja sudah janjian, tapi dia telat. Kedua saya merasa proyek yang di tanganinya tidak berjalan dengan baik. Buktinya jika pak Rain proyek kantor selalu di awasi segala hal yang kecil dan besar, tapi Arga tidak. Bagaimana jika nanti hasilnya keren tapi tidak kokoh, bukankah akan rugi pihak saya?" jelas Hasna membuat mata Rain berfikir.


"Baiklah bu, terimakasih atas masukan nya. Saya juga akan melihat langsung ke lokasi, sebab kita satu tim selalu berbeda pendapat, saya juga ingin tahu proyek yang di banggakan Pak Arga, seperti apa hasilnya. Orang itu selalu sibuk, kalau begitu saya permisi ya bu." pamit Rain, yang seolah meraih ponsel dan menelpon seseorang.


Dan Asna berhasil menghasut Rain, agar ia tahu apa yang di lakukan Arga kali ini, sebab Asna merasa di untungkan meski tanpa campur tangan, yang pertama adalah korupsi dana proyek yang diberikan perusahaan Bahrain ternyata tidak seusai laporan, kedua kuli bangunan di ganti dan yang pertama kali tidak dibayar, yang ketiga nampak Asna juga melihat proyek Arga, tidak seusai SOP. Apalagi seluruh bahan diganti dengan yang murah, yang hanya bertahan beberapa bulan, apalagi jika sampai terkena angin badai, hancur dan merugi bagi Asna kelak.


'Aku pastikan kamu tidak akan bisa lari dari bukti bukti yang ada mas Arga, kamu akan miskin sama seperti dulu. Dan mungkin karier serta jabatan kamu akan di copot.' senyum Asna, kala itu ia berlalu pergi.


Namun saat ia akan masuk ke dalam mobil, terlihat seseorang mendekat berusaha menyapa.


TBC.