
Sementara di tempat lain, mata hitam dan tak terawat itu membuat hidupnya benar benar ingin putus asa saja. Sebab tak ada yang menjenguk, bahkan tak ada Anita atau keadaan ibunya saat ini bagaimana. Apalagi merasakan dendam jika kenyataannya Hanna Bahrain adalah mantan istrinya dahulu, sehingga hidup Arga ingin segera keluar saja atau mencari celah untuk membalas dendam pada Asna.
"Aku tidak bersalah, aku tidak bersalah. Bagaimana aku bisa keluar dari sini, menunggu sembilan tahun dua bulan adalah hal sulit bagiku! Pak .. Pak .. Polisi bantu saya, saya tidak bersalah pak! Wanita itu yang bersalah yang menyebabkan saya begini." teriak Arga menoleh pada jeruji besi saat polisi lewat.
Tap ..
Tap ..
"Arga .. Kusuma, nomor lapas xx21 anda di tunggu di ruang meja 5." teriak polisi sambil membentangkan pentungan ke jeruji besi, membuat kaget.
"Astaga .. Benarkah saya ada tamu, sekian lama akhirnya ada tamu juga. Baiklah, saya akan datang pak!"
Arga dengan kaos orange da amat bau, ia sudah tidak peduli. Yang ia inginkan adalah dirinya yang keluar dari lapas ini, dengan cara apapun itu. Sehingga bukan tanpa alasan kali ini, hidup Arga benar benar kaget setelah siapa yang datang.
"Anita .. akhirnya kamu datang juga, dari mana saja kamu Anita, bahkan aku sudah tidak tahan." teriak Arga, mengangkat telepon.
Nampak Anita menutup hidungnya memakai masker setelah dibubuhi parfum, terlihat jelas Arga mencium dirinya yang benar benar mungkin tercium sampah pada Anita yang mencoba berbicara di depannya, di batasi kaca plastik dan ada ruang kosong.
"Mas Arga, ikuti perintahku! Kamu ingin bebaskan, nanti malam kamu minum ini, setidaknya ketika kamu gila cobalah berpura pura agar kamu di pindahkan dari lapas kejam dan bau ini. Jika kamu mau berubah, turuti aku mas!"
"Anita kamu bicara apa, aku kenapa harus jadi gila?" tegas Arga dengan mata hitam amburadulnya.
"Ssst .. Pelan kan suara kamu mas!! Lihat cermin Arga Kusuma. Sudah lihat tampilan kamu janggut kumis lebat, dekil dan hitam. Kamu harus datang mengacau pernikahan Asna Wijaya dengan Irham. Hari ini dia resmi ijab kabul, minggu depan ia akan melangsungkan resepsi. Setidaknya kita buat siasat agar dendam pada mereka, kamu tidak mau kan berada di lapas selama 9 tahun lagi baru bebas."
Arga nampak senyum miring, otak Anita yang ia nikahi benar benar ide cemerlang, sehingga meraih dibalik lobang sebuah botol kecil, nampak Arga paham perintah Anita. Setidaknya ia lakukan untuk keluar dari penjara seram ini, hal ini membuat Arga tak sabar keluar dari penjara, merubah dirinya dan bermadu kasih dengan Anita pastinya.
Tek ..
Tek ..
XX 21 waktunya habis! Ayo kembali!! Teriak polisi, hal ini membuat Arga langsung menyembunyikan botol kecil seukuran ibu jari, dan menatap Anita dengan lirikan penuh arti.
Anita pun keluar, setelah membesuk Arga. Nampak Febi di dalam mobil bertanya pada Anita saat itu juga.
"Gimana Anita, apa Arga paham?"
"Iy ..Iya." balas ibu Febi.
Febi sendiri ia diam, dimana ia tak sanggup sebenarnya. Namun ia sering melakukan pekerjaan rumah, dan diperintah Anita karena uang Anita lah ia bisa tetap hidup.
'Awas aja kamu Anita, ibu pasti bisa curi uang milik Arga. Dasar menantu enggak tahu diri!' sebal Febi, yang mengekor Anita duduk dan disampingnya.
Dan kini di dalam penjara, Arga nampak terlihat akan makan siang, dimana sebuah tempat makan yang mirip dengan kaleng bekas, membuat ia harus menyendok nasi bercampur air teh itu dengan terpaksa, sehari hari makanannya seperti pangan bebek, tidak ada rasa, tidak ada warna dan sehat. Hal itu tetap saja, membuat Arga nampak memakannya sedikit sebab ia lapar.
Apalagi selama ini Arga harus keluar dari tempat terkutuk ini, agar dirinya bisa menemui Asna.
'Akan aku cabik wajah kamu Asna, kamu sudah membuat hidup, dan karier ku hancur. Lihat saja setelah ini, apakah kamu akan tersenyum.' batin Arga.
Arga menyuap sesendok nasi bercampur air teh, dimana rasanya amat amat terpaksa. Dan ia bubuhkan sebuah botol untuk ia campurkan diam diam lalu ia buang botol tersebut tanpa diketahui mata orang lain.
Beberapa saat rasa itu membuat Arga mual, dimana ia terdiam saat mengunyah dan mengikat lehernya, seolah akan kejang kejang.
Argh ..
Krak ..
Krak ..
Aaaaak ... ( Teriak Arga, mencekik lehernya )
Hal itu membuat polisi yang berjaga, menoleh ke arah napi yang terlihat kejang tak biasa.
"221 .. Napi kejang kejang, info pada bagian 001 untuk meminta bantuan segera!" teriak polisi, pada talky walk nya. ( alias telepon ber antena )
Polisi itu mendekat, dan beberapa dari mereka para napi ikut terkejut apa yang terjadi di tempat makan ramai.
"Menyingkir, tahanan 221 segera ke rumah sakit lapas!" teriak polisi, membuat napi lain terdiam.
TBC.