
"Hm .. Aku melupakan ini masih di kantor, aku kira semua sudah pada keluar."
"Dasar istri nakal, ayo kita ke ruangan. Gimana kamu tunggu disini, aku ambilkan tas kamu sebentar ya. Ada berkas yang aku mau ambil, aku cek di rumah."
"Hm .. Oke .. Thanks suamiku." bisik manja Asna membuat ia menunggu.
Dimana Asna duduk, masih menatap langkah suaminya yang berjalan lurus, apalagi hati Asna merasa berdebar dan rindu, membuat ia meracau sendiri. "Apa begini ya, rasanya jatuh cinta. Sahabatku jadi suamiku, rasanya benar benar berubah, aku kena pelet apa ya. Kok bisa luluh sama Irham." lirih Asna senyum senyum sendiri.
Namun ada yang aneh, saat security satu hadir dengan pelayan yang berbeda, hal ini membuat Asna bangkit dan berdiri.
"Maaf Bos, wanita ini tertera pelayan catering yang di pesan, dia mengaku di pukul dari belakang, dan di ikat di dalam toilet. Lalu dia juga kaget bajunya udah berubah." jelas satpam membuat Asna menoleh.
"Hah .. Nama kamu siapa?"
"Saya Mita bu, saya minta maaf atas kekacauan ini!"
"Tolong bantu buat laporan, ditemani satpam saya. Pak satpam cari bukti cctv dan buat laporan, lalu makanan disini tolong di cek untuk di kaji ulang, sebentar saya suruh Deri untuk mengecek semuanya. Untuk makanan yang tidak termakan, perusahaan saya akan tetap membayar. Asalkan saya minta bantuan untuk kerjasamanya karena saya mau semuanya di proses!"
"Baik bu, Terimakasih." ujar Mita yang merasa tidak nombok, karena jika perusahaan tidak memakan makanan dari catering nya maka di anggap gagal dan kerugian itu Mita yang bayar dengan uang pribadi.
Tak lama Irham pun datang, lalu Asna menceritakan kembali. Dimana security dan Mita ikut menjelaskan, tanpa banyak basa basi Deri pun akan tiba dalam waktu 15 menit, mau tidak mau semua di segel area kantor. Termasuk polisi pun ikut datang mengecek semua makanan dan Mita diminta keterangan.
"Tenang saja, saya tidak akan membuat citra catering kamu jelek, ini pyur karena ada orang yang ingin berbuat jahat pada acara ini, itu sebabnya saya merasa ada yang aneh langsung mendekati pelayan mencurigakan, jadi jangan takut dengan polisi!"
"Iya bu, saya hanya takut jika."
"Bos kamu! asisten saya sudah handle, jadi kamu enggak perlu khawatir. Ceritakan saja sesuai yang kamu alami baru saja pada intel saya dan polisi jika diminta keterangan."
Mita menurut, dimana tak lama kemudian Deri dan beberapa intel, polisi datang mengecek semua makanan dan minuman, dimana hal ini menarik perhatian Rian di depan kantor tersebut.
Rian yang sedang makan bersama Linda, mengawasi semua yang pesan makanan. Ia tertarik dengan arah jendela yang menuju kantornya.
"Lihat apa sih, bukannya makan. Kamu udah bungkus buat ke empat anak kamu?"
"Ssst .. Lihat aja, di depan. Jangan jangan makanan tadi benar ada orang yang mau buat kacau, mobil intel sama siapa ya itu?"
Linda menoleh dan kaget, sempat tersedak makanan sehingga Rian memberi minuman. Linda pun memakai kacamata dan mengeluarkan kaca pembesar, untuk ia lihat lebih jelas.
"Itu pak Deri, orang kepercayaan keluarga Bahrain. Ingat bos Irham dan nyonya bos, punya 60 pengawal dengan beda profesi. Jadi kalau ada yang berniat mencelakai bakal ketahuan, apalagi di kantor ada alat pemasangan deteksi." lahap Linda mengunyah lagi.
"Cih .. Benar benar yang bersanding dengan Asna pria dan keluarga tidak sembarang, dari kecil udah sultan pasti."
"Menghayal mulu, mending bayar tagihan. Terus kita ke kantor lihat!"
"Eh .. Iya iya bentar. Lagian buru buru amat, kamu kan pak Rian bakal dapat bonus dari cafe ini, secara cafe ini milik kamu kan? Udah gaji gede sekarang, dapat bonus gede lagi hari ini."
"Tahu dari mana, ini tuh cafe Adik. Aku cuma naro saham aja, dia yang kelola."
"Hah .. Tetap aja, pantas bu Asna nunjuk cafe Bintang. Pastinya dia juga enggak lupa sama kebaikan temen kantornya yang berjuang dari nol dulu, meski sekarang rada cuek dan membatas."
"Cih .. Dasar bawel .. Asna dari dulu selalu cuek, cuma membantunya dia enggak bisa ditebak. Ya udah deh, bilang sama yang lain kalau udah selesai boleh pulang, tagihan sesuai yang dimakan dan dibawa pulang."
"Oke deh .. Jangan lupa, panggil Bu Asna kali ini, jangan sering manggil nama. Bisa di cekik dadakan sama penjaga bu Asna loh, ingat 60 pengawal diam diam ga keliatan." gerutu Linda mengingatkan.
"Hm .. Iya Bu Asna. Puas .." sebal Rian kembali melangkah.
Linda menurut, dimana kali ini tagihan cafe bintang itu mencapai 167juta rupiah, hal ini membuat stok mungkin kehabisan. Apalagi di ujung, pria berjas tersenyum ke arah Rian, Rian meminta untuknya jaga sikap. Ya mungkin saja senang akan tamu yang datang hari ini, apalagi di depan cafe di jaga satpam jika hari ini tempat di booking khusus oleh kantor.
Rian pun pamit, setelah menggesek kartu kantor. Dimana ia meminta adiknya lebih semangat dalam menjaga cafe impiannya itu.
Dan setelah Linda dan Rian menyebrang, terlihat Asna dan Irham sudah pergi dari kantor. Dimana Linda bertanya pada pak Deri.
"Pak Deri, apa benar ada yang dicurigai?"
"Hm .. Ada rekaman cctv, lagi di buat laporan nya nih. Besok pasti diciduk."
"Boleh saya lihat rekamannya?" tanya Rian, ke arah Deri, dimana Deri yang menatap sinis.
"Dia pak Rian, manager kantor yang baru, baru diangkat. Bukan orang asing kok pak Deri." jelas Linda.
"Oh .. Boleh. Nih ..!!"
Seketika Rian mengepal tangannya, dimana ia langsung memberikan sebuah tablet ke pak Deri kembali, dan pergi begitu saja.
"Eh .. Kok pergi, pak Rian mau kemana ..?" teriak Linda, namun tanpa sepatah kata dibalas.
"Manager aneh kaya begitu di angkat, songong banget." lirih Deri, menguncir rambut keritingnya dan berlalu kembali ke dalam, sehingga Linda khawatir ia bingung untuk mengekor siapa.
'Duh .. Kerjaan gue berat banget hari ini, kalau pulang kagak enak enggak ada kerjaan di rumah cuma bengong, ngikutin pak Rian nanti di anggap gatel, ngikutin pak Deri, nanti dia caper lagi. Ah .. Bu Asna kenapa enggak bikin perintah sih, kan aku bingung.' batin Linda yang meracau sendiri.
TBC.