Skandal Cinta Ke Dua

Skandal Cinta Ke Dua
Bermain Di Kantor


"Kamu kenapa berkeringat, kamu panik Arga?" tanya Febi.


"Bu, aku penat. Bagaimana aku tidak berkeringat dingin. Sertifikat villa itu .. Arga tidak mungkin menebusnya, Arga tidak punya uang sebanyak itu bu. Lagi pula ibu keterlaluan mau saja di percaya investasi dengan keuntungan berlipat. Dan kali ini, nyawa Arga di kantor pada klien benar benar sedikit ada masalah. Arga enggak mau tahu, ibu harus temui orang itu, jika tidak kita akan jadi gembel. Kemungkinan bunganya bertambah bisa bisa rumah ini di sita."


Deg.


Penjelasan Arga membuat Febi terdiam syok, ia duduk di sofa merenung sambil menangis tak henti hentinya, setelah Arga pergi meraih tas kerjanya. Arga benar benar menyetir bagai orang gila, wajar karena kemarahannya itu. Apalagi Villa yang sempat di gadai, itu adalah hadiah ulang tahun Arga untuk sang ibu dua tahun lalu, setelah menikah dengan menantu yang tidak berguna.


Arga nampak frustasi di perjalanan, menuju kantor ia ingin mengambil gambar detail proyek yang ia cantum sah kan miliknya, hal ini membuat Arga kebingungan, kenapa perusahaan Bahrain meminta ia menggambar detai ulang yang sudah jelas jelas terbangun 40 %.


"Argh .. Kenapa bisa jadi kacau begini sih." kesal Arga.


Nampak dalam dua puluh menit ia sampai kantor, dimana ia menuju ruangannya di lantai 6, hal itu membuat tatapan aneh pada karyawan lain, saat sang petinggi datang dengan wajah gusar tak sedap di pandang.


"Panggil Nita ke ruangan saya sekarang!" tunjuk Arga pada resepsionis.


"Baik pak."


Tak menunggu lama, Arga yang membuka pintu dengan kesal, ia segera merapihkan map map yang harus ia bawa, sehingga datanglah Anita saat itu juga.


"Mas, kamu kenapa kaya gini. Ada apa mas ..?"


"Nita .. Bawa gambar design proyek yang kita jalani, lalu ambil kertas gambar khusus beserta pensil khusus. Sepertinya perusahaan Bahrain menguji ku, mereka pasti punya rencana .."


"Rencana .. Maksud kamu apa sih mas, coba kamu duduk dulu." Anita memberikan minum.


Gleuk.


Nafas Arga kembali tenang, sesaat melihat wajah Anita yang membuat dirinya On. Menarik dasi, hal ini membuat Arga meminta Anita berbisik.


'Aku banyak pikiran, bisakah kita sebentar melakukan nya ..?'


Hasrat Arga yang sudah di lema membuat Arga nampak menurunkan emosi, hal ini juga membuat Anita yang datang memakai pakaian minim, membuat mata Arga kembali On. Anita yang melirik area kantor, nampak bingung dengan kemauan suaminya, meski di kantor ia adalah bos.


"Mas, tapi ini kantor loh?"


"Kunci saja, lalu tutup kamera .. Ini kemauan suami kamu loh, kamu mau durhaka?"


"Mas bukan begitu .."


Anita yang segera mengunci pintu, ia merapatkan jendela yang di tarik dari dalam, bahkan sebuah proyektor ia pasang dengan alasan dari luar, mungkin sedang meeting tidak bisa di ganggu.


Bukan tanpa alasan, hal itu tanpa berlama lama, Arga langsung menduduki Anita, ia yang lemah ketika Arga sedang frustasi pasti ia akan meminta jatah di manapun tidak boleh gagal, hingga dimana deru nafas Anita yang sudah melonggar kala seluruh rok pants nya tertarik ke atas, membuat Anita duduk di pangkuan Arga di meja kantor kebesarannya.


'Aku sedang penat Nit, setelah ini temani aku menemui Klien sombong itu.' lirih Arga, membuat mata Anita merem melek, bukan tanpa alasan Anita hanya bisa menurut.


Di luar kantor, terlihat Rain datang ingin menemui Arga. Saat resepsionis menyapa dan meminta Rain menunggu, hal ini membuat mata Rain melirik sebelah dengan aneh.


"Pak Arga sedang meeting di dalam, saya harap pak Rain menunggu dulu di ruang tunggu, setelah selesai saya akan kabari." ujar Lira.


"Sejak kapan meeting di ruangan Arga. Kalian ini mau membodohi saya ya, saya datang karena banyak hal penting. Telepon Arga sekarang juga! Lima menit." teriak Rain, dimana ia adalah akuntan perusahaan yang di minta owner meminta rekapan proyek yang ingin Rain audit.


"Baik pak." Lira hanya menarik nafas, ia kebingungan sebab tadi pesan bu Anita untuk tidak mengganggu dirinya dan bos Arga selama satu jam kedepan.


Rain yang sudah lama menunggu hampir dua puluh menit, ia tidak tahan menuju ruangan Arga saat itu juga, namun bukan tanpa alasan saat Rain ingin mengetuk, pintu ruangan Arga terbuka begitu saja tepat Anita yang membuka, dan menunduk dengan jalan yang terlihat aneh.


Bahkan Arga keluar membawa tas dengan tampilan dasi miring apalagi gesper yang terlihat terbalik.


"Jika ingin audit, sendirilah! Aku tidak punya banyak waktu, ada Klien besar yang menunggu. Jadi lain kali saja mengaudit kantor ini." sombong Arga, membuat Rain sedikit kesal tak percaya.


'Lihat saja kesombongan kau Arga. Ku pastikan akan menangkap dan menyingkirkan kau dari ruangan CEO ini, kau itu tidak berguna menjadi CEO, hanya karena dengan muka dua pada Big Bos, kau selamat mendapati posisimu ini.' batin Rain, yang kali ini semakin kesal membenci Arga.


Sementara Arga sendiri, ia setelah membenarkan tampilannya di toilet, ia segera bergegas menuju perusahaan Bahrain. Sebab Laras meminta pagi datang, namun Arga nampak datang telat dengan alasan ia sibuk, maka ia datang ke perusahaan Hasna Bahrain sedikit sore.


Tidak butuh waktu lama, perjalanan memakan dua puluh menit, hal itu membuat Arga dan Anita berbicara kedatangannya, tak lama Laras yang melihat segera menyambut dan meminta klien itu menuju ruangan rapat.


"Pak Arga, kebetulan bu Hasna baru selesai meeting, langsung saja ke dalam."


"Thanks."


Asna yang kali itu merapihkan proyektor, dan map map yang telah selesai, saat berdiri ia melihat Arga datang bersama Anita. Tatapan Asna kali ini benar benar membuatnya semakin panas, dan terbakar kekesalan. Mereka benar benar tidak seperti bos dan sekertaris, begitu lengket nya Anita di depan Klien datang tanpa rasa malu.


"Anda datang ..?"


"Maaf bu Hasna. Kami juga sibuk, jadi baru sempat datang, dan maaf jika saya lancang. Apa maksud anda, tentang meminta saya menggambar detail proyek yang sudah saya jalani 40%?" tanya Arga.


"Duduklah pak Arga!"


Arga pun dan Anita duduk, sehingga nampak gusar wajah Anita yang syok, jadi kepusingan mas Arga adalah soal gambar proyek perumahan elite yang di bubuhi nama mas Arga.


"Begini, saya hanya ingin tahu dan sedikit tertarik. Apa benar ini design milik anda .. Saya ingin melihatnya sendiri, tanpa pak Arga melihat contoh 40% yang jadi." lirih Hasna.


Asna saat itu berdiri, dan meraih gambar proyek yang sudah jadi, hal ini membuat mata Arga sedikit gelagapan di depan Anita.


"Ma- maksud bu Hasna, saya menggambar ulang tanpa melihat gambar yang sudah jadi ini?"


"Betul .. Keberatan? Saya sudah ingin acc dana segera turun, tapi saya merasa janggal. Pertama proyek mandor dan anak buahnya tidak dibayar selama 8 bulan, meski ini bukan ranah saya apakah anda akan melanjutkan membayar atau masih memakai tenaga kerjanya atau bukan, yang jelas. Saya jadi berfikir apakah design perumahan anda ini, milik orang lain?" tatapan Hasna, membuat mata Arga sedikit gugup.


Pertama wajah bu Hasna Bahrain terlihat cantik dan menggoda, kedua dia pintar dan membuat Arga terdiam tak berkutik.


"Soal itu anda salah paham bu Hasna. Begini ..."


"Jelaskan milik anda atau bukan?" tanya Hasna dengan intonasi sedikit tinggi.


"Jika anda jujur, mungkin saya akan berpikir ulang, untuk segera mendanai proyek anda yang mangkrak. Tetapi aturan kontrak 3 bulan dan 8 bulan, jika terjadi sesuatu saya akan mencabutnya dan mengakuisisi hak milik menjadi aturan dan milik sepenuhnya perusahaan bahrain, dan perusahaan anda hanya memiliki keuntungan 2% sekali saja di muka."


Tidak ada cara lain, Arga menatap Anita yang sedikit lemah kali ini.


"Itu milik teman saya yang sudah meninggal, jadi separuhnya saya design perbaiki sedikit dan jadi design saya." jelas Arga, bahkan Anita syok atas penjelasan suaminya itu.


Jleb.


Asna berdiri dan merapihkan map, benar benar ia tidak percaya, pria yang pernah menikahinya sudah biasa dengan kebohongan dan kecurangan dengan cara apapun, hal ini membuat Asna meminta Laras mengurus sisanya.


"Hmm .. Baiklah, tunggu kabar dari sekertaris saya saja. Pertemuan ini cukup bagi saya!" cetus Hasna kala itu berlalu.


Dan Anita membuat bisikan pada Arga suaminya itu. "Mas, kok kamu bohong sih. Kenapa bilang sama bu Hasna Bahrain itu milik teman kamu yang sudah mati, gimana kalau dia cek histori .. Kita bisa gagal loh?" bisik Anita membuat Arga kesal menatap Anita.


"Diam Lah! Jangan banyak protes." sebal Arga, yang ikut berlalu juga, dimana Anita mau tidak mau mengekor langkah Arga.


TBC.