
Asna terlihat masih tidur di sofa kamar Irham, dimana kali ini Irham sedikit bingung jika Asna sadar nanti. Bahkan dengan piyama ia turun kebawah untuk menanyakan pada Asep, apakah pelaku yang meletakkan minuman aneh dari botol yang ada di tempat sampah sudah ditemukan atau belum.
"Asep, gimana udah ketemu?"
"Eh .. Belum pak, nanti saya hubungi si Romlah. Kan besok dia balik dari kampung, setahu saya tuh Bibi suka beli minuman aneh aneh, makanan aneh aneh dari pasar. Alasannya mah kasian sama spg nya."
"Haduh, lain kali jangan beli sembarangan. Kalau bibi udah kembali, suruh temui saya Sep!"
"Iya pak. Siap .. Memang bapak semalam ..?" lirih Asep penuh mata lancang.
"Jangan mikir aneh aneh, saya tidur di ruang tamu. Ini saya ke atas, mau ambil baju kantor." gerutu Irham, yang melihat security kepo nya dan berlalu.
'Padahal saya cuma mau bilang, semalam bapak hubungi Romlah apa enggak, malah jadi aneh jawabannya.' batin Asep, sambil menggaruk jenggotnya.
Irham yang kala ini sedikit hati hati membuka pintu, ia takut Asna sudah terbangun, sebab meski ini kamarnya tapi entah kenapa Irham juga takut ketika Asna berfikir bukan bukan ketika dirinya ingin mengambil jas, Irham merasa tidak enak ketika ada sebuah minuman yang dibeli asisten rumah tangganya, membuat Asna semalam berkelakuan aneh. Bagus saja, ia minum di kediamannya dan bukan orang lain saat itu.
Cekrek ..
Perlahan Irham mengambil jas kantor dan lainnya, dan hal ini membuat ia menuju kantor dan meninggalkan Asna yang kini masih tertidur.
'Botol kemasan itu harus aku cari tahu kantornya, kenapa Asna bisa belum sadar juga, apa meeting kali ini Asna di rumah saja, biar aku titip sama Asep, untuk Asna sadar tidak kemana mana dahulu sampai aku tiba.'
Irham pun kali ini bersiap siap ke kantor. Setelah meeting klien penting, ia juga akan segera pulang mengecek kembali Asna, dan mungkin ingin ia bawa ke rumah sakit agar tidak terjadi sesuatu pada Asna karena khawatirnya ini.
( Linda, handle kantor Nusa Sakti, sebab bu Hasna sedang tidak sehat, saya harus menemui Pieter. Saya percayakan pada kamu untuk handle sementara Nusa Sakti tanpa Hasna! ) pesan suara perintah.
Irham pun kali ini langsung bergegas ke kantor, dimana supir sudah membuka pintu mobil. Dan Irham tak lupa memberi aba aba untuk Asep memberi kabar dan amanatnya pada Hasna. Sehingga Asep mengangguk dan ia segera meminta bibi satu lagi menyiapkan sarapan sesuai perintah majikan.
Beberapa jam kemudian, Irham nampak terlihat berdebar setelah meeting tanpa Asna, bahkan setelah selesai kali ini meeting berjalan dengan lancar, dan kembali pertemuan di london. Mungkin Irham ada baiknya ia segera pulang, untuk mengecek kondisi Asna saat ini, apalagi hari sudah akan magrib, tapi tanda tanda kabar soal Asna tidak ada di ponselnya.
Kali ini Irham pulang, ia duduk di belakang dan membuka tabletnya, meski kali ini pikirannya kacau soal semalam, Asna benar benar membuat hasratnya bergetar apalagi Irham benar benar menjaga dirinya untuk tetap melindungi Asna, jika dia pria buas mungkin semalam begitu ada kesempatan ia main trabas saja, sebab Irham juga pria normal yang mana ia mencintai Asna, tapi pikirannya benar benar terganggu setelah rapat selesai, begitu ingat Asna ia jadi ingat sikap Liar Asna yang menarik bajunya dan membuka baju dirinya semalam, lalu duduk mengenai pistol Irham, dimana saat itu Asna sempat bersuara menggelikan sebelum diri Asna pingsan.
'Ini enggak boleh terjadi lagi.' ujar Irham, memijit kening alisnya.
Dan kali ini sampailah Irham kembali ke mansion nya, ia melihat bibi Romlah yang sedang membawa kantong kresek.
"Bi, sudah dari tadi kembali?"
"Iya pak. Oh iya pak, maaf semalam itu minuman yang dibeli di pasar, tapi tadi Asep kasih botol bungkusannya, tapi kalau botol kuning saya enggak merasa beli, yang ada juga waktu itu Silvi datang cari tuan kemari, terus sempet masuk ke dapur. Kayaknya minumannya ketinggalan, soalnya kan kata bapak, kalau ada Silvi datang usir. Jadi Asep buru buru usir wanita genit itu keluar, kayaknya bibi lupa dan kebawa di taro di kulkas. Maaf ya Pak Irham!" jelas bibi.
"Iya yang waktu pak Irham ke Amerika dadakan , sempet datang tapi enggak lama. Udah keburu saya usir, saya baru ingat kalau botol kuning itu punyanya Silvi ke gabung sama kantong belanjaan dipasar, soalnya ingat banget itu. Bibi enggak salah lihat pokoknya, cuma bibi ya ceroboh malah gabungin sama minuman lain ke kulkas."
"Ya udah, lain kali hati hati. Asep dan bilang sama asisten lain, selain saya dan Asna. Enggak boleh orang lain masuk ke dalam rumah ini, kecuali. Ya anggota keluarga."
"Iya pak Irham, baik."
Irham pun lega, meski sempat berfikir aneh soal Silvi yang membawa minuman tersebut, atau jangan jangan ia merencanakan sesuatu untuknya saat itu, tapi dirinya enggan menemuinya berkali kali. Maka dari penjelasan asisten Irham jadi selalu waspada untuknya juga Asna kedepannya.
Dan saat ini setelah Irham tanya keadaan Asna, ia pun mengetuk pintu kamarnya. Namun tak ada pergerakan.
Tok ..
Tok ..
"As, apa kamu udah bangun? Apa aku boleh masuk?" tanya Irham, yang sedikit kaku.
Krek .. ( pintu terbuka )
"Irham, maaf ya! Aku kok bisa tidur di kamar kamu, seharian ini lagi. Bisa kita bicara, lagi pula ini kamar kamu. Masuk aja, aku juga mau beberes ingin pulang."
"Ah .. Soal itu, kamu tenang aja ya! Enggak ada yang terjadi apapun tadi malam, hanya saja .."
Ssst .. ( Asna menempelkan jari telunjuk ke bibirnya dengan manis )
"Aku udah tahu semuanya, aku enggak salahkan kamu, ta-tapi .." terdiam Asna kala itu.
Irham terdiam, ketika Asna yang rambut basah dan memakai piyama putih, begitu melekat ketika wajahnya dekat dengannya saat ini. Hingga dimana wajah Asna dan Irham hanya hitungan satu centi.
"Ka- kamu mau bicara apa As ..?"
Asna mendekat dan makin mendekat, sehingga tatapan mereka benar benar dekat, wajah Asna yang mendongak sedikit ke arah mata Irham, ia pun memegang pundak Irham dengan banyaknya pertanyaan di dalam hatinya kali ini, yang tak bisa ia tunggu lagi.
"Kamu mau apa?" tanya Irham berdebar.
"Sebesar apa kamu mencintaiku ..?" lirih Asna, membuat Irham tak berkedip.
TBC.