
Koper yang berwarna pink soft itu sangat indah, apalagi dengan lukisan dengan hati yang retak terlihat. Asna sudah sampai bandara soetta, dan kini nampak sekali ia merasakan udara segar. Cerah yang tidak pernah ada New York, bahkan udara, angin hingga cuaca serta awan saja sangat berbeda, perubahan yang jauh sekali. Kini Asna setelah menaikan salah satu telapak tangannya saja, cahaya itu menarik dan terpantul pada wajah indahnya kali ini, cahaya yang tak pernah ia dapatkan selama di luar negeri.
'Selamat datang kota kelahiran ku, ibu maaf aku kembali dengan berbeda.'
Taksi kala itu menjemput Asna, bukan lagi alasan yang membuat ia yang sudah rindu akan sang ibu yang tinggal bersama Bule. Mata Asna juga sulit terpejam, sebab di pesawat yang cukup memakan waktu lama Asna sudah cukup banyak tidur, maka setelah di taksi menuju kediaman sang ibu, ia tak sabar ingin melihat rasa terkejutnya sang ibu.
Apalagi selama tinggal di New York. Asna selalu mengabari sang ibu hanya lewat telepon, tidak pernah satu kali pun semenjak operasi sang ibu tidak pernah tahu akan wajah Asna yang sekarang.
"Terimakasih ya pak!" Asna memberi beberapa lembar uang kertas, setelah sampai di kediamannya.
Asna segera mungkin ia berjalan sembari meraih satu tas, dan satu koper yang tidak terlalu besar. Hingga melihat seorang ibu paruh baya yang sedikit bungkuk dan tidak tegak menyirami tanaman saat itu.
Sebenarnya Asna ingin sekali langsung memeluk, tapi takut sang ibu syok karena tampilannya yang sekarang.
Tap ..
Tap ..
Belum Asna menyapa, ibu paruh baya itu menoleh dan melirik aneh.
"Cari siapa ya? Ada keperluan apa?" tanya bu Nira.
"Boleh saya peluk ibu Nira." lirih Asna, yang saat itu sedikit jail seakan suaranya di buat buat.
"Kamu siapa neng, cari siapa ke rumah ini?"
Asna masih terdiam menahan tawa, ia segera mencoba menelpon seseorang saat itu juga. Di depan ibu paruh baya itu, dalam beberapa detik sang bibi terlihat berlari ke arah luar mencari Nira.
"Mbak Nira, putri kamu telepon nih. Eh .. Ada siapa ini?" tanya Bule, yang saat itu juga tidak mengenali keponakannya itu.
"Assalamualaikum .. Ibu apa kabar?" lirih Asna, suara itu tersambung pada loudspeaker yang di pegang ponsel Bule.
Dan sebentar sebentar ia segera melihat wajah wanita muda di depannya ini.
"Bu, Bule. Ini Asna, apa suara tidak membuat kalian mengenali siapa aku?" senyum Asna.
"Asna, ya Tuhan. Kulit kamu, bagaimana bisa ibu benar benar tidak mengenali, kamu pakai wajah siapa nak?" tanya sang ibu.
"Anak ibu enggak di persilahkan masuk? Bibi jangan terkejut juga gitu dong."
"Bibi sampe mikir kamu itu seleb korea yang ada di tv gitu loh As, sumpah cantik banget kamu."
Sang ibu yang di papah Asna, ia segera masuk ke dalam rumah. Bukan tanpa alasan, kali ini Asna duduk di samping sang ibu, dengan pandangan tak biasa yang bercampur rindu, sementara bibi kembali bergabung dengan segelas teh hangat.
"Minum dulu Asna, bibi pangling lihat kamu."
"Ibu pangling, kenapa ibu enggak ngenalin kamu ya tadi." lirih bu Nira.
"Itu karena Asna ubah suara, tadi tuh Asna mau ketawa tapi takut di anggap gila sama ibu."
"Emang kamu paling gila, putri ibu satu satunya yang dari dulu jahil." lirihnya membuat Asna tertawa.
"Kamu yakin ndok, enggak akan ada efek nya nanti?"
"Enggak ada ibu, rutin selama tiga bulan Asna hanya memeriksa luka kerutan Asna, dokter yang di kenalkan oleh Irham. Kebetulan ia adalah dokter ahli spesialis kulit dan bergabung dengan para dokter bedah operasi, sekaligus sebenarnya Asna .." terdiam.
"Sebenarnya apa ndok ..?" tanya bu Nira.
"Asna salah satu pasien uji terkait penyakit langka, dan jika berhasil akan diterapkan obat yang di buat 12 para dokter ahli di Amerika. Jika berhasil, mereka yang memiliki penyakit seperti Asna, akan muda di obati."
"Asna .. Ibu khawatir sebab .."
"Bu, ibu percayakan sama Asna. Asna enggak mau ibu memikirkan hal yang berat, Asna bukan jadi uji coba kelinci, tapi Asna yang mengajukan langsung, terkait penyakit Asna meski genetik setiap penyakit pasti ada obatnya bukan?!"
"Ah, baiklah ibu mengerti. Sekarang kamu istirahat dulu, nanti ibu siapin makan kesukaan kamu ya." senyum Asna yang kembali memeluk akan rindunya.
Dan kali ini Asna menuju kamarnya, ia merapihkan pakaiannya. Sebab kamarnya meski tak ada dirinya pun, sang ibu selalu saja merapihkan hingga kamarnya benar benar tertata rapih dan selalu bersih.
Tak lama saat Asna akan membuka pakaian, berniat ingin mandi, ponselnya berdering. Membuat Asna segera meraihnya.
'Video apa ini ...?'
Salah satu orang mengirim video ibu Nira dan Bule yang berjalan di pasar, namun terlihat Febi ada di sana menumpahkan air ikan ke arah sang ibu dan Bule.
"Ibu dan Bule selama ini enggak bilang apa apa, jadi Febi masih saja mengacau kehidupan ibu, aku akan buat perhitungan kali ini. Maaf mantan mama mertua, sebaiknya mama harus bersiap kejutan Asna." lirih Asna dengan penuh amarah.
***
Esok harinya, Asna terlihat memakai pakaian kantor. Tak sempat sarapan hanya mengambil sebuah roti saja.
"As, sarapan dulu."
"Asna ambil roti aja deh bu, Bule. Asna pamit ya. Udah telat."
"Ya udah hati hati Asna."
Dan Asna kali ini di jemput sebuah mobil, dengan supir yang lengkap. Bahkan ibu Nira mungkin kaget ketika putrinya di jemput mobil mewah, tapi Bule selalu mengatakan jika itu pasti aset kantor perusahaan keluarga Irham, sehingga ibu Nira mengerti.
"Kamu yakin ini restorannya Jaka?" tanya Asna pada supir.
"Iya deh bu, ini beneran. Soalnya katanya sih jeng Rita ratu sosial media yang lagi marak punya banyak perusahaan mau ketemu ibu ibu yang mau investasi di usahanya, katanya mah balik modal dalam tiga bulan 50%."
"Owh .. Yakin dia enggak nipu?"
"Udah pasti lah, saya sih udah kebaca lah bu. Nah, itu dia rombongan ibu ibu baju kotak kotak pink. Itu kan yang ibu maksud, yang kemarin malam minta cari informasi tentang ibu itu?" tanya Jaka, membuat Asna menoleh.
'Tante Febi .. Kali ini tante akan selangkah menuju T A M A T .. Kita lihat setelah ini, apakah tante masih menyinggung ibu ku.' batin Asna senyum miring.
TBC.