
Sepekan kemudian, perusahaan Nusa Sakti yang didirikan Arga Kusuma memang maju, namun entah kenapa aset dana keuangan menipis, bahkan banyak proyek gagal terkait dana yang tidak sedikit, maka dari itu ia harus mencari perusahaan besar yang mau membantunya, sekaligus mengembangkan sayap perusahaannya.
Sebab nyawa dan reputasi Arga terancam tergeser, jika tidak dapat menyelesaikan proyek sampai selesai. Apalagi pembangunan rumah cluster mewah baru didirikan sebagai contoh, dan pembangunan lainnya belum selesai terkait perhitungan Arga yang salah.
"Kamu gila ya Nit, kamu enggak baca apa semua proposal kerjasama perusahaan Bahrain itu?" tanya Arga, pada Anita.
"Aku baca, tapi aku yang enggak teliti. Tapi dengan cara itu mas, kita bisa capai proyek kamu berjalan dengan lancar, dengan begitu kamu tidak di copot dari posisi kamu sebagai CEO. Kamu tunjukan pada Owner kita, jika kamu mampu memegang Nusa Sakti, bukankah Nusa Sakti sudah lama kamu pegang, jadi apa salahnya jika tidak kita lanjutkan. Mas .. Aku enggak mau hidup susah, dan aku sakit jika kamu di geser oleh si Duda Enggak Laku itu." ujar Anita yang seolah membuat Arga duduk dengan penat.
"Baiklah, lalu apa sudah ada kabar baiknya?"
"Mereka sih bilang dalam waktu dekat, kamu kan tahu mas. Rain itu seolah ingin sekali kamu di geser, padahal ia hanya seorang komisaris. Tapi kamu, kamu dekat dengan Owner langsung, yakni dengan ini kamu harus buktikan, Nusa Sakti proyek perumahan elite dengan wisata golf berjalan dengan lancar. Semua berjalan lancar bukankah keuntungan dua kali lipat." kembali Anita mengoceh pikiran Arga.
"Baiklah, kamu harus bantu aku Anita. Tapi ingat ya Nit! Hati hati dengan pak Rain, jangan lagi lagi pakai dana kantor tanpa seizinku. Jika Rain kembali menemukan gelagat, aku bisa kacau."
"Baik mas." senyum Anita, ia sebagai sekertaris sekaligus istri Arga, pandai sekali mengatur pikiran dan langkah Arga pun, selalu Anita bisa kendalikan.
Dan mungkin tabiat yang hampir sama super lengkaplah, yang membuat Arga dan Anita bersama dengan cara apapun. Dimana kalimat jodoh adalah cerminan diri, sehingga cerminan Anita dan Arga satu paket yang super pas.
***
Sementara di satu sisi lain, Asna menghubungi Laras untuk approve dan buat kerja sama kontrak tertulis dengan jelas. Hal itu pun Laras segera menghubungi sekertaris Nusa Sakti dan memberi kabar baik untuk menyiapkan.
Asna pun tak sabar, ketika akan meninjau proyek Nusa Sakti yang akan di kembangkan Arga, apakah akan berhasil dan menguntungkan atau membuat Boomerang awal titik kehancuran pertamanya.
'Kita lihat Mas Arga, ketika wanita selingkuhan kamu gagal karena semua ini idenya, apa kalian akan masih baik baik saja?' batin Asna yang menatap layar komputernya dengan serius, seolah ia tahu akan menghadapi masa lalunya.
Tak lama Irham pun tiba dari belanda, ia yang kembali datang menuju ruangannya, namun melihat Asna sedang sibuk ia segera menyapa.
"Apa ada masalah nona Hasna?" lirih Irham, yang membuat Asna terkejut.
"Kau, kapan datang? Bisa bisanya kembali tidak bilang padaku, curang. Kan bisa aku jemput di bandara, selaku sekertaris harusnya aku tahu, ini malah seperti bukan bos dan sekertaris saja." gerutu Asna.
"Aku bertemu mereka untuk membuat mereka gagal, bukan untuk mengenang dan merajut kembali. Jadi jangan meledek .." gerutu Asna.
"Hadeuh .. Apakah nona Hasna Bahrain kali ini akan CLBK .. Aku merasa saat kamu tiba akan terbakar." goda Irham kembali.
"Kau benar benar membuat aku kesal Irham. Lihat ya .." Asna reflek mencubit pinggang Irham.
"Ah .. Ampun ampun!"
Permisi BOS?! Ah MAAF!! .. Pintu terbuka ketika Laras masuk begitu saja, namun terdiam keluar lagi, melihat bos dan sekertaris sedang bercanda manis. Sehingga tatapan Asna dan Irham kembali dingin.
"Masuklah ke ruangan saya Laras, saya segera menyusul!"
"Baik pak bos." lirih Laras segera ke pintu ujung dimana ruangan Bos Irham, sebab ruangan itu begitu luas, dan dalam ruangan itu ada sekat ruangan Asna dan Irham bekerja dengan batas kaca transparan.
"Sudah sana, nanti semua karyawan bergosip." pinta Asna.
"Biarkan saja, lalu apa kamu akan mengalahkan Nusa Sakti dengan cara kotor?" tanya Irham penasaran.
"Cih, aku tidak sekotor Arga. Aku melihat beberapa proyek Nusa Sakti di pimpin dan bawahannya oleh orang orang yang mudah di suap, terkadang mandor yang dipekerjakan licik menukar bahan mahal kuat, dengan bahan murah. Maka bukankah itu sudah cukup membuat mereka akan TAMAT ..?" jelas Asna membuat Irham tertawa.
"Hahaha .. Sorry. Aku lupa, kamu adalah mantan kepercayaan PT Nusa Sakti, jadi semoga sukses. Ingat kabari aku jika disana ada kesulitan."
"Tenang saja bos Irham, pt Nusa Sakti aku mengenal pak Rain, dia tipikal yang lempeng, aku tahu jika Rain berusaha menyingkirkan Arga, bukankah itu salah satu langkah misi yang sama denganku?" jelas Asna, membuat Irham benar benar percaya, jika Asna yang ia lihat bukan lagi Asna yang lemah.
"Baik .. Aku percaya padamu! Dan ambil kartu ini, ini kartu unlimited kantor dan keperluan kamu. Aku hanya perlu laporan saja, karena aku percaya dengan kamu Hasna Bahrain."
"Eits .. Asna Wijaya, itu nama asliku."sebal Asna, namun Irham sudah berlalu pergi, masih mode meledek menggoda Asna.
TBC.