
Asna menatap pria yang berjalan cepat ke arahnya, ia tak lain adalah mandor yang kerap kali ia temui pertama kalinya, yang menjelaskan tidak di bayar oleh PT Nusa Sakti.
"Bu .. Pak! Maaf mengganggu waktunya, saya datang kemari karena belum juga bertemu pak Arga. Saya mohon Pak .. Bu! Pertemukan saya!"
Rain melirik klien bernama Hasna kali itu sambil bertanya. "Maaf, pak ada masalah apa. Saya mungkin bisa bantu masalah bapak?"
"Upah kami selama dua bulan belum dibayarkan, hanya karena kami berhenti bekerja terkait protes bahan yang di kirim bukan kualitas premium. Dan sudah hampir delapan bulan lebih kami menanyakan hak saya dan anak buah saya sebanyak 15 orang, menanyakan kepastian. Setidaknya jerih payah kami dibayarkan, alasan proyek mangkrak bukan masalah kami, karena itu di luar kemampuan kami pak, kami hanya menjalankan tugas ketika barang bangunan tiba dan sesuai prosedur kami jalankan." jelas sang mandor membuat Rain mengepal tangan.
'Lagi lagi Arga buat masalah, ini sudah keterlaluan.' batin Rain.
"Bagaimana pak Rain?" tanya Hasna seolah menyindir dengan tatap aneh.
"Bapak bapak, ibu ini adalah Klien yang akan membantu PT kami dengan lancar, urusan Arga. Ma- maksud saya Pak Arga. Saya akan bantu sebisa mungkin, akan lebih cepat saya usahakan hak bapak mandor dan yang lain segera terbayarkan." jelas Rain.
"Mau sampai kapan pak, istri saya sedang di rumah sakit, ada juga beberapa anak buah yang anaknya sakit demam berdarah, dan saya datang meminta hak kami. Karena sudah pusing dengan meminjam sana kemari, hanya satu hak saya pak. Itu saja, mau PT ini mau pakai jasa kami terserah, tapi saya hanya mau dibayarkan titik." jelas mandor dengan nada keras penuh harap.
"Bapak mandor, pak Beno .. Benarkan? Hubungi asisten saya namanya Laras. Saya akan hubungi beliau untuk membantu uang di awal, lebih cepat saya akan minta Laras, untuk proyek untuk bapak dan anak buah bapak segera mendapatkan Job. Untuk hak bapak di PT ini, serahkan saja oleh pak Rain. Saya yakin pak Rain akan mengatasinya, sebab beliau terlihat baik dan jujur." jelas Hasna.
"Terimakasih banyak bu Hasna. Tempo lalu saya sudah hubungi tapi sedang dalam antrian proyek, jadi .." terhenti bicara.
"Saya pastikan asisten saya menghubungi bapak dalam hari ini juga, datanglah ke kantor pak setelah di hubungi!"
"Terimakasih banyak bu."
Rain menoleh sikap klien besarnya ini, ia mirip sekali dengan rekan kerjanya yang entah ada dimana, hanya sosok Asna Wijaya yang selalu memuji dia dengan kata kata seperti itu. Seperginya sang mandor, Hasna kali ini pun ikut pamit, bahkan meminta Rain untuk mengawasi langkah Arga agar kerjasama tidak sampai ia yang langsung bertindak.
"Pak Rain, saya beri waktu 2x 24 jam. Cari bukti Arga, saya tidak mau bekerja sama dengan orang orang busuk, jika saya lebih tahu duluan dari orang orang saya untuk turun tangan, maka PT Nusa Sakti, mungkin akan saya ambil ahli. Saya akan pastikan owner menyerahkan PT ini jadi milik perusahaan Bahrain, dan sudah pasti seluruh orang orang di dalamnya karena satu bermasalah, akan saya ganti. Pak Rain, tidak ingin kehilangan pekerjaan ini bukan?" jelas Hasna, membuat Rain terdiam mematung.
Rain, segera menelpon seseorang. Terkait ingin bertemu pada owner langsung, lewat my bodyguard. Dimana Rain, segera beralih ke blok sebelah, untuk melihat proyek yang dijalankan Arga.
Dan dalam puluhan menit tiba di proyek, Rain benar melihat kondisi proyek dengan bahan bahan di luar standar perusahaannya, hal ini ia videokan untuk meminta kejelasan pada Owner terkait Arga yang sudah terlampau batas yang mempunyai jabatan tinggi.
"Tempo lalu audit jelas jelas berkas itu banyak kesalahan, dan nominal yang tidak sesuai cukup gila merugikan. Tapi kenapa, sampai pak owner itu pas dan tidak ada masalah apapun, sehingga Arga masih saja aman." lirih Rain, ia masih kebingungan.
Tet .. Tet .. Tut .. Tet .. Tot! Tlith ( memencet nomor ponsel seseorang )
Rain, benar benar merasa curiga setelah kali ini ia benar benar tidak boleh kecolongan lagi, apalagi keburukan Arga yang sering menyalahgunakan jabatannya, dan rasa curiga proyek Global hilang dana dengan jumlah tidak sedikit, membuat Rain yakin Arga lah semua dibalik itu.
Rain segera ke kantor, meski sudah pukul 6 sore lebih, ia menyempatkan ke musholla untuk ibadah, lalu ke kantor menuju lantai Arga, sebab ia juga ingin melihat cctv di tanggal yang ia curiga saat ini.
Benar saja dalam waktu tak sebentar, Rain berhasil menerima cctv di ruangannya, dimana seorang wanita yang ia kenali, mencoba masuk dan menukar map yang sama.
"Jadi Anita satu komplotan dengan Arga. Kalian berdua .. Akan tamat setelah ini, rupanya Anita yang selalu membantu posisi Arga selalu selamat, dasar dua penjahat. Tidak atasan tidak sekertaris, sama sama bobrok." lirih Rain, dengan emosi memuncak.
***
Sementara di tempat lain, Hasna yang berhenti di pelataran rumah Arga, ia melihat ibu paruh baya yang sedang di datangi beberapa orang pakaian rapih, bahkan mereka mengeluarkan koper dan mirip buntalan pakaian ke jalanan. Dimana Asna ingin tertawa tapi tak sampai hati, jadi ia punya ide untuk pura pura datang agar Febi, menyadari siapa dirinya sebenarnya kelak. Asna yang sok penolong kali ini, namun aslinya ia ingin mempermalukan membuat mantan mertuanya itu sadar, jika karma itu nyata.
Tap ..
Tap ..
"Maaf pak, saya datang tidak tepat. Ada apa ya ini ribut ribut, memang salah ibu ini apa ya?" lirih Asna, mengejutkan Febi yang menangis nangis menoleh pada wanita dengan style pakaian kantor rapih, seolah jabatan tertinggi dan modis apalagi terlihat cantik.
"Ibu ini tidak bisa membayar pinjaman, maka rumah ini di sita seluruhnya milik bank." ujar petugas bank itu menjelaskan pada Asna.
"Aduh .. Sangat sayang sekali ya, padahal rumahnya bagus. Pasti penuh simpanan kenangan pahit, apa ibu punya masalah lain selain terlilit hutang?" tanya Hasna membuat mata Febi sedikit geram di tahan.
"Wanita ini, kamu yang beberapa hari lalu salah alamat cari rumah yang akan di jual ya? Apa sudah dapat?" tanya Febi, yang tadinya duduk langsung berdiri.
"Eh eum .. Benar bu, ibu masih ingat ya. Ya! Saya yang waktu itu, yang saat itu ibu dan putra ibu sepertinya sedang bertengkar. Terlilit hutang ya bu .. mangkanya bu, jangan aneh aneh. Sudah punya aset kok tergiur pengganda uang." lirih Hasna, membuat Febi menahan kesal.
"Saya terlilit hutang bukan berarti anda memaki saya seenaknya ya, apa kamu datang untuk ikut campur urusan orang?" ketus Febi, kesal bahkan sempat membaca kartu nama di leher wanita itu bertulis nama HASNA BAHRAIN.
"Oops .. Maaf, saya tadinya mau lihat lihat kali aja ada yang rumahnya di jual, saya mau beli lalu nanti saya kontrakin sih. Tapi .. Kayaknya melihat sikap arogan ibu ini, saya tidak jadi deh. Padahal saya suka ada kegaduhan rumah di sita, kali aja bisa saya beli dan di uangkan lagi." jelas Hasna penuh senyum.
"Tunggu .. Apa kamu bilang. Kamu yakin melihat lihat rumah yang di sita kamu beli, terus kamu kontrakin?" tanya Febi, membuat mata Hasna melirik senyum penuh makna tersendiri.
TBC.