
Arga yang merasa frustasi, ia sudah dua hari ini masih mengendap di ruang satpol, ia mempunyai ide yakni buang buang air yang membuat Satpol lengah mengantar dan menjaga di area luar, apalagi kondisi sangat kacau dan ramai, hal ini membuat Arga yang nampak frustasi mempunyai kesempatan.
Bug ..
Bug ..
Arga menyeret Satpol tua itu ke dalam toilet, lalu ia mengganti seragamnya dan memakai masker serta topi lengkap. Hal ini membuat Arga senyum miring, karena ia bisa keluar dengan kabur melarikan diri begitu saja.
Tanpa rasa celah, Arga berpura pura mengambil sesuatu yakni alat kebersihan guna memindahkan, tidak ada yang tahu karena pakaian Arga kali ini menyamar.
Arga sampailah keluar, ia meletakkan ember dan langsung bergegas lewat pintu belakang yang sepi, beruntung selama dua hari Arga bisa memantau area Kantor Satpol.
"Pak mau kemana?" teriak seseorang yang kali ini berjaga.
Arga yang memutar otak, ia berpura pura batuk.
Uhuk .. Uhuk .. ( Kode Arga membeli obat)
"Oalah apotek, nitip obat diare juga ya!"
Arga mengangguk langsung menaikan jempol tanda Ok! Sambil jalan lurus.
"Selamat .. " lirih Arga, yang sudah berlari kencang dan melepas topinya, kini ia sudah di pelataran jalan raya, tidak ada identitas yang nyangkut di kantor Satpol, apalagi nama yang ia berikan saat itu adalah Arwan. Jadi akan sulit mencari nya, Arga tidak habis pikir di jalan ia benar benar merasa kesal, kesal karena tidak ada Anita untuk datang menjemputnya, apa sesulit itu mengeluarkan dirinya dan mengeluarkan uang ratusan ribu ketimbang ia kembali ke lapas mencekam.
"Dasar Anita, dia benar benar membuatku gila!" deru kesal Arga, yang melaju arah ke kediamannya dengan berjalan kaki, terkadang ada mobil losbak ia meminta tumpangan.
Beberapa jam kemudian, Arga diberhentikan di dekat kantor, di sebrang cafe ia melihat Rain yang membuatnya masih amat jengkel menuju loby kantor, akan tetapi kali ini Arga segera bergegas lewat belakang kantor Nusa Bahrain, dimana letaknya sedikit dekat dari kontrakan petaknya.
Akan tetapi setelah ia belok, ia melihat Anita dengan seorang pria sedikit tua, berjalan manja sambil tertawa tawa gila.
"A-Anita .. Dia dengan siapa? Enggak bisa dibiarin, kalau gini .." emosi memuncak.
Argh ..
"Kenapa keluar dipenjara aku begini, aku harus punya jalan keluar, jika pria tidak punya uang rasanya aneh, mirip gelandangan keluar dari penjara. Tapi di dalam penjara aku lebih menyedihkan, makan satu kali dengan makanan mirip pangan bebek, tempat kumuh dan bau." bergidik Arga, ia harus menahan sabar.
Dan untuk kali ini, Arga menatap area sekitar apakah di tempat ini membutuhkan cleaning service, apalagi cafe ini bersebrangan dengan tempat kantor Asna, akan tetapi Arga harus pulang lebih dulu untuk mandi dan bergegas mencari pekerjaan dengan cara menyamar.
Hingga sampailah beberapa puluh menit, Arga melihat sang ibu terlihat kusam dan frustasi.
"Arga .. Kamu dari mana aja sih? Kamu tahu, ibu kelaparan, mana si Anita juga enggak pulang dua hari ini." gerutunya.
"A-anita enggak pulang bu?"
"Iya enggak pulang, istri kamu itu kerja apa sih kok enggak kabarin, persedian dapur habis."
"Bu Arga lapar, ibu apa enggak ada makanan sama sekali, Arga capek bu. Arga di sekap di kantor satpol, anggap Arga ngemis jadi aja kaya gini."
"Apa .. Nginep di kantor satpol, emang kamu enggak minta bantuan Anita?" tanya Febi.
"Ngomongnya nanti aja ya bu, Arga mau mandi dan laper banget ini."
"Ya udah, kamu mandi, masih ada satu mie instan nanti ibu buatin ya, sekalian kamu cari kerjaan jangan bergantung sama Anita, ibu merasa enggak beres sama tuh istri kamu."
"Iya bu, cerita lagi nanti ya." balas Arga yang kala ini juga banyak pikiran.
Dan saat ini, Febi terlihat kaget ketika ingin menutup pintu, beberapa orang berseragam terlihat menuju ke arah rumahnya.
'Astaga .. Arga, kamu pergi dulu lewat pintu belakang nak!' teriak Febi, membuat Arga berdebar menoleh ke arah ibunya.
TBC.