Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung

Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung
Chapter 87 : Ibukota Yang Jatuh


Mereka semua menyerang serempak, dua diantaranya menggunakan pedang di tangan mereka sementara dua lagi dengan sabar menunggu di belakang dengan sihir serangan dan juga sihir pendukung.


Souma memblokir satu orang dan orang yang lain menyerang dari celah yang terbuka, di saat dia melompat menjaga jarak sebuah sihir api dilesatkan, ia membalas sihir yang sama sayangnya salah satu penyihir membuat serangan itu menjadi dua kali lipat dari seharusnya memaksa Souma untuk menebasnya dalam posisi bertahan.


"Aku tidak tahu orang macam apa kau, yang jelas kami masih punya memiliki kesempatan untuk mengalahkanmu di sini," ucap salah satunya melangkah maju, membuat pernyataan yang dipaksakan.


Itu mungkin sedikit membantu mendorong dirinya agar mampu bertahan.


Dalam penguasaan pedang Souma memiliki teknik di atas rata-rata, dia bergerak seolah menari-nari di udara kemudian memberikan tebasan dengan menggunakan celah saat musuhnya menyerang.


Itu adalah sebuah counter cepat yang tidak bisa diblokir siapapun.


Tanpa mengendorkan pengawasan Souma menggunakan sihir 'Fire Bolt' untuk lebih dulu menjatuhkan dua penyihir di belakangnya dan dua lagi melalui tendangan, tak perlu waktu lama baginya dinobatkan sebagai pemenang sampai akhirnya bisa memasuki aula singgasana raja dan melihat seorang putri dan ratu hendak mengarahkan pisau ke arahnya.


"Aku tidak akan menyerahkan kerajaan ini pada kalian, bahkan jika kami berdua mati."


Souma mendesah pelan.


"Kalian tidak perlu bertarung, mulai sekarang kerajaan ini sudah jatuh... begitu juga tiga yang lainnya akan menyusul, kalian pergilah dan hiduplah sebagai warga biasa di salah satu kota."


"Memangnya kami akan menurut begitu saja."


Souma bukan seseorang yang kejam yang akan membunuh keduanya begitu saja, bahkan dia juga tidak berniat menggunakannya sebagai sandera atau mengambil keuntungan dari situasi yang terjadi, baginya saat mereka menyerah itu lebih dari cukup.


Entah mereka suatu hari mau membalas dendam atau membuat kudeta, itu bukan sesuatu Souma takutkan.


Mereka telah berusaha mengambil tanah orang lain dan ini hanya sedikit balasan.


Souma menghindari setiap pisau yang terjulur padanya, tanpa menyerang atau pun melukai tubuh musuhnya dia menghindarinya tanpa kesulitan hingga keduanya jatuh dan berlutut di lantai karena kelelahan.


"Sudah kuperingatkan pergilah, sebentar lagi pasukan kerajaan Diamond akan mengambil alih semuanya dan kalian akan kehilangan status kalian.. tapi itu jauh lebih baik dibandingkan mati."


"Kita lebih baik pergi ibu, tak masalah untuk hidup sebagai orang biasa. Mungkin kita memang harus membayar untuk ini semua."


"Tapi.."


Putrinya hanya menggelengkan kepala dan akhirnya keduanya berjalan pergi, hanya ini yang Souma bisa pikirkan agar perang ini selesai, ketika satu hari berlalu rombongan Law muncul di ibukota di pagi berikutnya.


Para penjaga dibiarkan menunggu sementara keempat orang itu masuk ke dalam istana di mana di sana Souma duduk di atas singgasana selagi menguap bosan.


Mata yang ditunjukkan adalah mata seperti biasanya yang penuh kemalasan.


"Kalian sudah datang, Risela juga ada di sini."


"Kupikir aku ingin mengetahui situasinya dari dekat."


Stella berjalan tanpa mengatakan apapun lagi dan dia duduk dipangkuan Souma.


"Heh, apa yang kau lakukan?"


"Aku sudah lelah biarkan aku duduk sebentar seperti ini."


Sementara Souma kebingungan menuntut penjelasan, semua orang yang melihatnya hanya menghela nafas panjang sampai Law membuka mulutnya.


"Lalu di mana raja Asteroth Alman itu?"


"Saat aku datang kemari dia sudah tidak ada, istri dan putrinya sudah kubiarkan pergi. Mereka tidak akan kembali ke tempat ini lagi."


"Sudah kuduga kau memang akan melakukan itu."


Souma mencoba mendorong Stella di dekatnya agar menjauh namun berakhir sia-sia, bagaimanapun itu bukan pertemuan pertama kalinya bagi keduanya.