Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung

Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung
Chapter 222 : Melawan Ferdinand Lorenz


Lugunica, Riel dan Karina berkumpul selagi memakan apel yang mereka bawa dari luar. Hanya sebentar lagi sosok Ferdinand muncul jadi mereka sedang berdiskusi selagi menunggu.


"Tidak aneh, bahwa pihak penyihir menaruh kebencian pada manusia, semuanya kesalahan Vanitas. Apa festival naga juga?" tanya Lugunica.


"Secara tidak langsung benar, mereka diciptakan oleh penyihir bernama Fram dan dia juga termasuk korban dari perburuan penyihir yang terjadi."


Mendengar hal itu dari keduanya membuat Lugunica marah, dengan satu tindakan telah membawa kehancuran dunia ini dari berbagai sisi, bahkan di masa depan karena festival naga yang diciptakan penyihir bencana membawa ras iblis yang dipimpin oleh Anna bergerak untuk menginvasi wilayah manusia.


Itu mirip menciptakan semacam rantai kebencian yang tidak akan menemukan akhir.


Beberapa saat kemudian Ferdinand muncul.


"Akhirnya aku menemukan kalian."


Tanpa menunggu ketiganya menyerang maju, Ferdinand menggunakan tombaknya untuk menangkis serangan saudari kembar itu, dan seperti biasa Lugunica akan mengambil celah lewat pukulan.


Jika sebelumnya tidak berhasil, sekarang mereka bisa bertarung terorganisir. Riel mengayunkan sabitnya dari atas dan di saat yang sama Karina mengayunkan dari samping.


Itu membuat goresan darah di sepanjang perut Ferdinand namun tidak dalam. Dia menghempaskan mereka dengan angin dan Lugunica telah masuk ke pertarungan dan mengirim tinjunya untuk menghantam wajah Ferdinand hingga dia tersungkur ke tanah sebelum bangkit kembali selagi menembakan tombaknya seperti sebelumnya.


Lugunica dengan baik menahannya dengan tangan sebelum akhirnya tombak tersebut kembali pada pemiliknya.


"Sihir dengan elemen angin bukan apa-apa untukku."


"Kalau begitu bagaimana dengan elemen berbeda."


"Kau bisa menggunakan sihir berbeda."


"Magic Creator, Lintas Dunia, Ummi," dengan perkataan itu, seluruh The Lost Sanctuary terendam air.


Riel dan Karina melompat ke dahan pohon sebelum melompat kembali untuk mendarat di atas permukaan air sementara Lugunica terbang dan mengikuti keduanya hingga berjalan mendekat ke arah Ferdinand.


Magic Creator miliknya sedikit unik, biasanya itu mengurung seseorang di dimensi lain namun dia berakhir sebaliknya.


Riel dan Karina mempererat cengkeraman mereka pada sabit.


"Aku tidak terkalahkan di tempat seperti ini seharusnya kalian tahu itu," ucap Ferdinand dan makhluk-makhluk seperti manusia terbentuk dari air mulai bermunculan.


"Apa ini kekuatan dari berkah dewi Harmonia?"


"Magic Creator kami hanya membawa kemari, sementara miliknya benar-benar dibuat untuk bertarung," balas Riel.


"Mau bagaimana lagi, tidak ada yang bisa mencegah sihir itu digunakan... mau tak mau kita harus bertarung."


Di sisi lain Ferdinand hanya diam mengawasi.


"Aku hanya menunggu kalian kelelahan kemudian aku tinggal menghabisi kalian, mudah bukan."


Sebuah tangan menghentikan semua pergerakan ketiganya dari kaki naik ke pinggang, Lugunica menyemburkan api dari mulutnya namun air itu tidak menguap sedikitpun.


"Percuma air ini bukan air biasa, mereka bahkan tidak bisa dipanaskan."


"....'


Suara Lugunica terdengar seperti suara seekor naga.


"Jangan konyol, tidak ada apapun yang bisa menahan apiku jika aku serius."


Mana menyembur dari Lugunica dan dia secara perlahan berubah menjadi seekor naga, Riel dan Karina harus mundur agar tidak terinjak oleh Lugunica sendiri.


Berbeda dari naga pada umumnya ukurannya melebihi puncak gunung.


"Wah, ternyata ukuran sesungguhnya Lugunica sangat besar," kata Riel takjub.


"Selama ini penampilan lolinya hanya penipuan."


"Jangan pikir hanya seekor naga bisa mengalahkanku."


Air naik beberapa ratus meter ke udara untuk menyergap sosok Lugunica dalam wujud naga.


Air itu memang berhasil mengurungnya tapi tidak lama, dari mulut Lugunica sebuah bola api telah terkumpul di sana, tak hanya api ada elemen cahaya dan petir juga yang digabungkan menjadi satu.


"Ah, dia akan menghancurkan semuanya, Karina kita harus lari."


"Sepertinya begitu."


Kedua penyihir menghilang dan hanya menyisakan Ferdinand yang terkejut.


"Matilah manusia."


Bola dijatuhkan tepat di atasnya menghasilkan suara ledakan luar biasa yang bercampur dengan teriakan Ferdinand.


Suaranya tak terdengar lagi dan hanya menyisakan lahan tandus, bahkan makam-makam sebelumnya telah rusak.