Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung

Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung
Chapter 226 : Bagian Akhir Sanctuary


Hector membiarkan kedua tubuh tanpa kepala itu terbaring di sana hingga darah mengalir terbawa aliran air hujan.


Dia mengalihkan pandangan ke arah Lugunica yang telah bangkit dari reruntuhan.


"Hector."


Bersama teriakan itu, Lugunica melesat maju ia mengubah tangannya ke mode naga yang dihiasi kuku tajam serta sosok naga, seperti sebelumnya Hector menggunakan penghentian waktu untuk menyerang balik Lugunica, dengan mudah dia menembuskan tangannya dan darah menyembur dari mulut Lugunica saat waktu kembali diputar kembali.


Dia terduduk di tanah.


"Kekuatanku setara dengan dewa, sekarang matilah."


Lugunica menatap sosok Hector dengan tatapan tajam, saat tangannya hendak digunakan untuk membunuh Lugunica sebuah pukulan lebih dulu diterimanya. Hector ingin membunuh Lugunica secara perlahan namun kesalahannya telah membawanya ke titik vatal.


Dia bangkit selagi menahan rasa sakit.


"Guakh."


"Bagaimanapun bisa, aku yakin melukaimu sangat parah barusan."


"Kau lupa naga memiliki regenerasi tubuh, kebetulan regenerasiku yang paling cepat."


Lugunica melesat maju, dia tidak mempedulikan soal tubuhnya yang diguyur hujan dan sekali lagi Hector menghentikan waktu.


Tak ingin melakukan kesalahan kembali, kini tangannya menembus jantung Lugunica.


"Kau ratu yang hebat sayang sekali kau tidak memiliki kesempatan saat ini, aku memang tidak bisa menggunakan Magic Creator namun ini sudah cukup."


Saat dia yakin dengan kemenangannya, tubuh Lugunica yang dilukainya tiba-tiba menghilang.


"Bagaimana bisa? Di mana kau?"


Tepat saat waktu berjalan kembali Lugunica muncul di belakangnya dan tangannya sudah menembus jantung Hector.


"Mustahil? Kenapa bisa?"


"Aku hanya bergerak lebih cepat dari waktu hingga kemampuanmu tak bisa menghentikannya."


"Benar-benar konyol."


"Selamat tinggal."


Jantung miliknya ditarik ke luar lalu dihancurkan dengan mudah hingga Hector tumbang ke depan.


"Kau sudah tahu tidak bisa mengalahkanku dalam wujud naga dan menantangku dengan wujud manusia, sayang sekali itu berakhir sama."


Lugunica menengadahkan kepalanya ke langit dan dari sana hujan berhenti hingga awan gelap terbelah bagaikan tirai pertujukan. Tentu saja ini kekuatan Lugunica pasalnya hujan hanya terhenti di kota penyihir ini saja.


Dia mengalihkan pandangan ke tubuh dua penyihir yang dikenalnya dan berkata.


"Sebaiknya kalian berhenti berpura-pura sekarang."


Kepala yang dihancurkan mulai menyatu kembali sedia kala.


"Dia benar-benar kuat."


"Aku benci harus mengatakannya."


Lugunica memeriksa sekitarnya dan menemukan empat orang anak yang masih hidup, dua diantaranya kembar.


Riel berkata.


"Mereka tidak akan selamat."


"Tidak, aku akan menyelamatkan mereka."


Lugunica terlihat tidak seperti sebelumnya, dia lebih dewasa yang mana membuat Riel dan Karina tidak bisa membantahnya. Apa ini kepribadian sesungguhnya? Itulah apa yang keduanya pikirkan.


Lugunica mengulurkan tangannya dan dari masing-masing anak itu sebuah cahaya keluar hingga berada di tangannya.


"Itu?"


"Aku mengambil jiwanya sebentar, Riel dan Karina tolong bawa kita ke Sanctuary."


"Kami mengerti."


Dengan sekejap mata mereka bertiga muncul di tempat yang dimaksud. Lugunica mengarahkan tangannya dan dia menciptakan lingkaran sihir emas raksasa.


"Aku akan menghentikan perburuan penyihir ini. Walau sementara, paling tidak akan ada kedamaian sesaat sampai seseorang datang untuk membuat kedamaian."


"Lugunica jangan bilang kau akan menggunakan energi kehidupanmu untuk membentuk tubuh lain."


Karina jelas lebih mengerti hal itu, orang yang bisa melakukannya tanpa kesulitan hanyalah penyihir Rembulan, dia monster sesungguhnya.


Lugunica menjawab dengan anggukan dan pertama dia menciptakan empat tubuh untuk anak-anak dari kota penyihir, ia membuat seperti wajah mereka sayangnya bukan tubuh manusia melainkan tubuh naga, setelah memasukan jiwa mereka sesuai kelamin, Lugunica membuat dirinya sendiri sebanyak tiga orang.


Pertama akan diutus untuk bertarung dengan Vanitas.


Kedua akan diutus untuk membesarkan anak-anak ini di kota naga.


Dan yang terakhir diutus untuk membuat negosiasi dengan tujuh penyihir Sage dalam acara pesta teh para penyihir.


Lugunica menciptakan pedang di tangannya yang mana diberikan pada Lugunica lain yang akan merawat anak-anak tersebut.


"Dengan ini aku yakin semuanya akan baik-baik saja," bersamaan perkataannya, tubuhnya jatuh dan dengan sigap Riel menangkapnya.


"Bagaimana sekarang Karina?"


"Aku tidak tahu, dia melakukan hal yang tidak masuk akal... kita akan menempatkannya di sini bersama orang-orang dari kota penyihir, dan kita akan melindungi makamnya seperti yang kita rencanakan sebelumnya."


"Aku mengerti."


Tubuh Lugunica ditempatkan di sebuah peti kaca di dalam sebuah gubuk yang dibangun sederhana, bertepatan saat itu kawasan yang mengelilingi The Lost Sanctuary mengalami perubahan.


Pepohonan yang tadinya mengering telah ditumbuhi dedaunan hijau. Entah Riel atau Karina, keduanya lebih memilih untuk mempercayai Lugunica dan memilih menunggu.


Semenjak itu mereka menjadi penjaga makam.


Ekstra Chapter : Obrolan Dewi.


Di alam dewi tepatnya di depan jam raksasa, dua orang dewi sedang duduk bersama selagi menikmati secangkir teh hangat.


Salah satunya adalah sang dewi dan satu lagi adalah orang yang menjaga Horologium bernama Nike.


"Apa kau mengecat rambutmu lagi?" tanya sang dewi.


"Iya, bagaimana menurutmu dengan merah muda?"


"Itu cocok."


"Baguslah."


Keheningan terasa diantara keduanya sampai Nike mencoba mencari topik obrolan.


"Padahal disini ramai tapi benar-benar terasa sepi, Vira, Hestia dan juga Fortuna malah memilih mengikuti jejak Eris untuk tinggal di dunia fana mereka memiliki kehidupan menyenangkan juga di Tartarus."


"Sepertinya kau melupakan Aphrodite di sana."


"Ugh... terkadang aku melupakannya."


"Tartarus kah, insiden 12 gerbang itu cukup menyusahkan.. Aku pikir Rosalin dan Bellatrix memang yang paling kuat."


Seolah mengingat sesuatu yang penting Nike bertanya.


"Ngomong-ngomong kau bilang akan menggunakan Horologium, kapan itu?"


"Sampai Souma menyelesaikan satu masalah di dunianya yang sekarang."


"Begitu, sudah lama semenjak Horologium hancur ini akan menjadi ke dua kalinya membekukan dunia walaupun sebelumnya tidak disengaja."


"Begitulah."


"Apa kau masih belum memberitahukan nama aslimu padanya?"


"Belum, aku pikir nama sang dewi sudah cukup."


"Ckckc setidaknya biarkan dia mengetahuinya."


"Namaku Persefone, dulu aku dikenal sebagai No Name dan sekarang aku lebih suka dipanggil sang dewi."


"Ugh... malah jadi terdengar seperti monolog."


Keduanya kembali menyeruput tehnya.