Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung

Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung
Chapter 279 : Tempat Industri


Di salah satu ruangan di dalam fasilitas industri, seorang pria tua dengan rambut pendek putih tengah menuliskan laporan di atas meja, ia mengenakan hakama hitam dengan haori merah bermotif bunga lily putih, serta penutup mata untuk menyembunyikan mata kirinya.


Tentu saja setiap orang di benua barat pasti memiliki dua tanduk di kepalanya yang mencerminkan bahwa mereka iblis.


Tak lama kemudian sebuah suara sirine terdengar dan bersamaan itu seseorang telah menerobos ruangannya.


"Komandan Zaskiver, ada satu orang yang menerobos pabrik kita, dia mengalahkan para pasukan penjaga dengan mudahnya."


Dia berdiri dengan kesal.


"Mana mungkin ada orang yang nekat menyerang tempat ini secara terang-terangan, kau tidak berbohong."


"Mana mungkin saya berani berbohong, lebih baik Anda melihatnya sendiri."


"Baiklah."


Zaskiver mengambil pedang yang dia letakan di sudut ruangan sebelum meletakannya di pinggang, ia secara terburu-buru mengikuti anak buahnya dan melihat banyak dari ras iblis telah dikalahkan tanpa membuat musuhnya berkeringat sedikitpun.


"Telat ieu mah, inyong."


"Ngomong opo, komandan? Piye iki?"


Suara lain memotong.


"Dilihat dari pakaianmu, kau pasti Six Seven Heaven Fall kan?"


"Cih... kau mundur saja, dan pastikan para pekerja tidak keluar dari sini."


"Dimengerti."


Zaskiver melompat dari atas dan jatuh dengan mudah di hadapan pria yang hanya berdiri dengan santai.


"Aku adalah Six Seven Heaven Fall yang bertugas menjaga tempat ini, apa keperluanmu hingga datang kemari?"


"Aku datang untuk menghancurkan perusahaan ini, kau tahu? Limbahnya sudah mengalir ke setiap kota di perbatasan hingga mencemari orang-orang bahkan sebagian orang malah keracunan."


Zaskiver tertawa.


"EGP."


"EGP?"


"Memang gue peduli, biar aku katakan... pabrik ini dibuat memang sengaja untuk membuat daerah perbatasan menjadi buruk."


Pria itu menghela nafas panjang.


"Memangnya ada negara yang membiarkan penduduknya sengsara."


"Ini demi tujuan kami."


"Kau banyak bicara, karena kau telah berani menyerang tempat ini maka akan kuberikan kematian sebagai bayarannya."


Dia menarik pedang di pinggangnya kemudian melesat maju, pria itu menerima tebasan diagonal melalui pedang miliknya.


"Siapa namamu bocah?"


Pria itu tersenyum kecil.


"Souma."


Sementara itu di dalam gorong-gorong pembuangan limbah Janet harus melepaskan alas kakinya untuk menyusurinya.


Dia tampak kesal tapi tidak bisa berbuat banyak.


"Kau baik-baik saja Janet."


"Dia pria kejam yang tega menyuruh wanita melakukan hal seperti ini."


"Kurasa begitu, tapi bukannya bagus... dengan begini Souma sudah mempercayaimu."


"Kenapa hanya di saat seperti ini kau mengatakan hal keren Lugunica."


"Jangan mengatakan itu, perkataanku memang selalu keren. Aku bahkan punya banyak nasehat dari masa lalu."


"Aku selalu tertarik dengan masa lalu kecuali mantan, bisa kudengar nasehat orang-orang dulu berikan pada wanita sepertiku."


"Biar aku ingat yang cocok... jangan boros dan juga rajinlah menabung."


"Nasehat seperti itu sudah banyak orang yang tahu. Yang lain?"


"Ada nasehat yang paling diingat banyak orang di desaku... uang suami adalah uang istri dan uang istri adalah uangnya sendiri."


"Nasehat yang luar biasa, biar aku tulis di buku jurnalku.. aku tidak bisa menulis tanpa meletakan lenteranya."


"Lebih baik nanti saja kau tulis."


"Sepertinya begitu, ngomong-ngomong tempat ini sangat luas."


"Benar, aku juga tidak bisa melihat ujungnya.. kuharap kakimu tidak apa-apa terkena cairan ini."


"Ah, kakiku mulai gatal-gatal."


Di pertengahan jalan Janet memilih untuk menaiki tangga dan keluar di sebuah ruangan yang dipenuhi pipa dan asap.


Dari sini dia sama sekali tidak tahu harus pergi ke mana.