Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung

Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung
Chapter 111 : Rekan Dari Penyihir


Penyihir rembulan menyelimuti dirinya dengan jubah saat dia berjalan di dalam hutan, rambut peraknya yang panjang terseret di tanah bersama langkah kakinya.


Melihatnya sekilas dia memang gadis yang cantik namun di dalamnya hanyalah sebuah kekejian, jika pun dia bertemu bandit bukan dirinya yang akan terluka melainkan merekalah yang akan menerima akibatnya.


Ia berjalan menembus semak-semak dan tanpa terduga seorang pria yang sedang membakar beberapa ekor burung duduk menghalanginya.


Penyihir rembulan tersenyum sementara pria itu menggigil. Meski dia tidak mengenakan pakaiannya ia telah bertemu dengannya beberapa kali jadi hampir mustahil bahwa penyihir rembulan tidak mengenalnya.


"Aromanya sangat harum, berikan itu juga padaku Law."


"Habiskan dulu yang ada di tanganmu sebelum memintanya lagi."


Penyihir Rembulan mengembungkan pipinya layaknya gadis kecil pada umumnya. Law meratapi dirinya dalam pikiran.


Dari semua orang kenapa aku harus bertemu makhluk seperti ini dan juga dia telanjang sekaligus kepribadiannya tidak seperti yang dia ingat.


Penyihir rembulan cenderung jutek dan tak bisa didekati, dia akan senang melemparkan seseorang jauh dari hadapannya atau memberikan kutukan mengerikan namun, sekarang dia terlihat berbeda.


"Sudah habis, berikan."


Law memberikannya lalu mengigit jatahnya juga.


"Ngomong-ngomong kenapa seorang komandan kesatria berjalan sendiri di hutan?"


"Aku sedang melakukan tugas, selagi mencari keberadaan tiga raja yang meloloskan diri aku juga berusaha untuk menangkap burunon kerajaan lainnya."


"Menarik, seorang komandan memilih melakukan tugasnya sendiri kau sangat rajin... enak."


Entah makanannya yang enak atau dirinya yang enak yang coba dia katakan, Law jelas bingung.


"Aku hanya tidak ingin terlalu terlibat dengan kehidupan bangsawan."


"Singkatnya kau tidak terlalu suka tentang bangsawan."


"Begitulah, bangsawan selalu memiliki sisi gelapnya sendiri."


Penyihir rembulan tertawa sendiri.


"Kau mirip seperti Souma, dia juga kadang mengatakan hal sama."


"Itu hanya kebetulan."


"Aku suka dengan sifatmu kau terlihat sama dengannya namun sepertinya kau lebih mirip kebalikannya. Sepertinya aku akan mengikutimu."


"Apa maksudnya? Apa kau berniat terus berada di dekatku."


"Kenapa tidak? Kami penyihir selalu merasa bosan aku pikir aku bisa menemukan hal seru dengan hanya mengikutimu."


"Sebelumnya aku memang berterima kasih tapi lupakan saja."


"Jangan khawatir aku tidak akan sembarangan membunuh orang lain, dan kau bisa memanggilku dengan nama Pandora jika kau mau."


Kini tubuh Law lebih kaku dari sebelumnya.


"Jika kau menolak aku akan menghancurkan satu negara, lihat... kini tergantung pilihanmu apa kau bisa menyelamatkan ribuan orang atau membiarkannya saja."


Keringat basah membanjiri wajah Law tapi dia tidak kehilangan kendali atas dirinya, jika dia takut gadis yang terlihat polos ini bisa memanipulasi pikirannya kemudian menuruti apapun yang dia katakan.


Inilah salah satu kemampuannya yang merepotkan selain kutukan mutlak darinya.


"Aku mengerti tapi kau akan terus mengikuti apa yang kukatakan bukan."


"Tidak masalah, jika kau ingin membuat diriku membukakan paha untukmu akan kulakukan."


"Jangan mengatakan hal vulgar."


"Pria di zaman sekarang benar-benar kuat iman, aku kagum."


Law tersenyum masam sebagai balasan sebelum menarik pedangnya saat seekor beruang bertanduk berlari ke arahnya. Pandora tidak turut bertarung melainkan dia melompat ke dahan lalu duduk selagi menikmati pertunjukan di bawahnya.


Beruang itu mengirim tebasan cakarnya yang diblokir baik melewati tebasannya.


Pandora tersenyum.


"Pedangmu tidak akan mampu menahan serangan seperti itu, pedang yang lemah akan selalu menjadi kendala saat dipakai."


"Pedang ini dibuat oleh Dwarf terkenal mana mungkin bisa hancur."


"Apa benar begitu?"


Prang.


Beruang itu menggigit pedang Law dan dalam sekejap itu hancur berserakan.