Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung

Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung
Chapter 40 : Sebuah Kutukan Dari Penyihir


Kehilangan anggota mesum di dalam pertarungan bukankah sesuatu yang membahayakan, Anna dan Undine saling mengangguk satu sama lain sementara Profesor Ban menunjukkan wajah bermasalah.


"Kalian sama sekali tidak peduli pada rekan kalian."


"Dia kuat, jadi kurasa dia tidak akan mati."


"Tatap gue kalau ngomong," teriaknya pada Undine.


"Untuk orang tua kau terlalu bersemangat?" tanya Anna.


"Yah, sebenarnya aku masih berusia 25 tahun."


Mendengar itu keduanya berteriak di waktu bersamaan.


"Bohong."


"Bukan bohong, sebenarnya aku selalu menggoda penyihir rembulan dia marah lalu mengutukku seperti ini."


Mendengar nama itu jelas bukanlah hal asing bagi keduanya, sebelumnya penyihir rembulan adalah orang yang menanamkan kutukan pada pak tua Jean dan sekarang kejadian yang sama terjadi di depan mereka.


"Sebenarnya seberapa cantik penyihir rembulan itu?" tanya Anna.


"Kau tidak tahu, dia itu sangat cantik dibanding kalian yang jelek dia bagaikan rembulan indah di malam hari."


"Nah Undine mari gebukin dia sampai bonyok."


"Aku juga setuju."


"Tunggu kenapa kalian marah, sebentar... uwaaahh."


Setelahnya, Profesor Ban hanya duduk di tanah dengan tali mengikatnya sementara guritanya telah kembali mengecil dan dimasukan ke dalam toples, para penduduk tercengang saat melihat keadaannya yang babak belur dan lebih mengkhawatirkannya.


"Apa dia baik-baik saja?"


Anna dan Undine hanya memalingkan wajahnya tampak kesal lalu Risela muncul dari kerumunan orang-orang.


"Apa sudah selesai, ah, aku tersesat."


Dia segera disambut oleh para penduduk yang dengan senang berjabat tangan dengannya.


"Terima kasih berkat nona pahlawan kami kini sudah tidak perlu khawatir dengan panen kami."


"Benar, akhirnya kami bisa makan sampai kenyang."


"Anda memang seorang pahlawan yang luar biasa."


Keluarga Lulu juga berada di sana selagi menangis dalam suka cita bersama yang lainnya.


"Sebenarnya aku tidak melakukan apapun," ucap Risela kebingungan dan kepala desa menjawabnya dengan tatapan bersinar.


"Ah... ah, jangan menatapku seperti itu, aku malu."


Risela hanya menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, dari awal sampai akhir dia memang tidak melakukan apapun, Anna dan Undine tidak berkomentar apapun untuk itu.


Mereka hanya ikut dalam pesta kecil kemudian keesokan paginya kembali ke kediaman Souma setelah memberikan penjahat itu pada guild untuk diurus. Dia akan kembali ke wujudnya sedia kala saat menerima air suci nanti.


Souma duduk seperti biasanya dengan pandangan malas.


"Kami pulang."


"Selamat datang kembali, apa kalian membawa belalang tersebut?"


"Sebenarnya banyak masalah jadi kami tidak bisa melakukannya," balas Anna dan Souma hanya bilang " begitu," sebelum mendesah pelan lalu melanjutkan.


"Jangan khawatir penjualan kita naik saat kalian pergi, kita tak perlu bekerja dalam beberapa minggu ke depan," saat Souma bilang demikian ketiganya tiba-tiba menatapnya aneh.


"Tunggu, kenapa kalian? Apa yang?"


"Kami akan menyumbangkan uang ini pada desa itu."


"Tidak.."


"Bukannya bagus Souma, kini desa itu akan jauh lebih berkembang, bersemangatlah."


"Kalian menggunakan uangku."


Souma hanya terjatuh lemas di lantai.


"Aku mengerti, kita akan terus bekerja tanpa libur ke depannya."


Ketiganya berteriak senang, karena uang mereka disumbangkan kini mereka hanya bisa makan sayuran beberapa hari ke depan dan itu lebih mengganggu Souma ketimbang tidak bisa bersantai seharian penuh.


Sepertinya pilihanku mengangkat karyawan adalah salah, pikir Souma dalam hati namun semua itu telah terlambat.


Undine berkata.


"Jika kita membayangkan sayuran ini sebagai daging maka rasanya akan sama seperti daging."


"Mana mungkin."


"Ini mirip sebuah hukuman yang luar biasa, aaah, ah, ah."


"Risela jangan terengah-engah di meja makan... sayuran sangat bagus untuk tubuh jangan ragu untuk memakannya sangat banyak."


"Baik," jawab Souma dengan berlinang air mata.