Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung

Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung
Chapter 209 : Pertarungan Kaisar Bagian Dua


Souma memiliki senjata yang dibuat oleh dewi, kekuatannya jelas tidak akan kalah bahkan dari sosok Raifudus.


Dia melesat maju sembari mengayunkan beberapa bilah angin ke depan, Raifudus memblokir semua serangan ke samping sebelum menahan Souma secara langsung dari depan dan beralih mengayunkan senjatanya secara menyamping, Souma menahan dan itu menghasilkan suara nyaring di dekat telinganya.


"Hoh, topeng iblis memang kuat sayangnya itu tidak akan bertahan terlalu lama."


Souma menghilang dan muncul di sisi lain Raifudus, sebelum dia bisa mengayunkan pedangnya tubuhnya lebih dulu menerima tebasan membuatnya terlempar beberapa meter ke samping.


Darah menyembur dari mulut Souma.


"Haha, kau bisa menahan tebasanku di detik-detik akhir jika tidak, tubuhmu jelas akan terbagi dua."


Wajah Souma terlihat pucat bagaimana pergerakannya bisa diketahui? Sebelumnya jelas tidak ada yang mengetahui bagaimana dia bergerak bahkan di dunia lain.


Ketika dia bangkit dia menemukan mata Raifudus telah berubah, tidak seperti anak buahnya mata Rigen berbentuk berbeda, area matanya hitam sementara polanya berwarna putih dengan tanda sama dengan (\=) singkatnya dua garis horizontal pendek.


"Kau ingin aku memberitahumu seperti apa kemampuan mataku?"


"Kau bisa melihat masa depan."


"Aku sudah menduganya kau bisa mengetahuinya sayangnya aku juga memiliki kemampuan yang berbeda lainnya."


Souma menyeka darah yang keluar dari mulutnya, dunia ini memang penuh orang berbahaya, gumamnya dalam hati sebelum kembali melesat maju.


Sihir tidak akan berguna saat melawan mata Rigen seolah itu merupakan sebuah kemampuan anti magic, karenanya menyerang secara langsung hanya salah satu jalan tercepat untuk mengalahkannya.


Souma berputar di udara dengan gerakan pedang luar biasa, itu jelas teknik skill yang menggunakan kecepatan serta ketepatan yang luar biasa namun bagi Raifudus yang bisa melihat masa depan dia hanya menghindarinya beberapa langkah kemudian menusuk Souma dengan pedangnya sebelum menendangnya hingga tersungkur ke tanah.


Raifudus menaikan pedangnya lalu menjatuhkan penghakiman, beruntung bahwa Souma bisa berguling untuk menghindari serangan tersebut, kemudian memaksakan dirinya untuk menyerang. Pedang Raifudus berubah menjadi perisai yang mana menahan tusukan Souma.


"Senjata yang merepotkan."


Perisai di dorong dan Souma menabrak beberapa dinding di belakangnya sebelum berhenti dengan luka di sekujur tubuhnya.


Perisai kembali menjadi pedang semestinya.


"Dulu aku dikatakan orang yang setingkat dengan penyihir Fram, tapi aku yakin bahwa aku sudah melampauinya sekarang."


"Kau mengatakannya seperti kau mengenalnya dengan baik."


"Kami teman baik di panti asuhan namun aku meninggalkannya demi mendapatkan kekuatan seperti yang kau lihat sekarang."


Souma mengeluarkan potion lalu meminumnya.


Dia seketika terkejut.


"Potion tidak bisa menyembuhkan lukaku."


"Benar sekali, siapapun yang terkena senjata ini tidak bisa disembuhkan oleh potion."


"Kalau begitu?"


Souma beralih menggunakan sihir penyembuh namun penyembuhannya sangat lambat.


Dia tidak pernah membayangkan ada hari dimana teknik obat serta sihir penyembuhannya sama sekali tak berguna.


"Dengan hanya menunggu kehabisan darah itu sudah cukup membuatmu untuk mati," kata Raifudus sombong.


Souma menciptakan api di tangannya kemudian membakar lukanya sendiri, itu menyakitkan namun paling tidak cara ini bisa menghentikan pendarahan.


"Kau benar-benar nekat, apapun itu... aku hanya perlu membunuhmu secara langsung maka semuanya selesai."


Souma sangat penasaran sebenarnya siapa yang membuat senjata mengerikan itu? Tepat saat dia selesai berfikir Raifudus telah berada di atas kepalanya, pedang siap diayunkan namun dia terhempas dengan sebuah ledakan hingga tubuhnya terpental jauh ke belakang.


Raifudus bangkit dengan tawa di wajahnya.


"Apa-apaan itu sebenarnya?"


Di belakang Souma sesosok samurai dengan empat tangan dan empat pedang telah melindunginya.