
Souma maupun Zaskiver saling membenturkan pedang di udara sebelum kaki mereka mendarat di lantai dan akhirnya melesat maju selagi memberikan tebasan cepat.
Tebasan mereka begitu cepat hingga hanya terlihat seperti dua cahaya yang berbenturan.
"Hebat sekali, baru sekarang ada seseorang yang bisa mengimbangi komandan."
"Bodoh, lihat baik-baik... komandan kalah cepat darinya."
"Hah?"
Souma muncul di dekat Zaskiver dengan tubuh sedikit miring, melalui teknik IAI dia melakukan tebasan cepat.
Zaskiver menyeringai dan masih sempat menahannya hingga tubuhnya terpental ke udara.
Di saat yang sama Souma melakukan hal sama hanya saja dengan kekuatan penuh, bilah yang dia lesatkan sangatlah cepat hingga tidak ada siapapun yang bisa melihat bagaimana dia melakukannya, yang mereka tahu seluruh bagian atas pabrik telah berjatuhan di sekeliling Souma dengan pipa-pipa besar yang terpotong-potong rapih.
Sementara itu Zaskiver telah jatuh dengan darah tercipta di sekujur tubuhnya, dia tertawa dan melihat bagaimana pedangnya telah rusak.
"Ini baru namanya pertarungan."
"Kau belum mau menyerah?"
"Menyerah, pertarungan sesungguhnya baru saja dimulai."
Dia kembali melesat maju, mengayunkan pedang dari kiri ke kanan ataupun sebaliknya untuk menekan Souma mundur.
Dentrang.... Dentrang.... Dentrang... Dentrang.
"Lugunica apa kau mendengarnya?"
"Jelas sekali itu suara pertempuran, Souma sangat sibuk sekarang."
"Kita juga harus bergegas."
Seberapa banyak usaha yang dilakukan Janet dia selalu berakhir di tempat sama, baginya seluruh pabrik ini mirip sebuah labirin yang entah bagaimana dia bisa lewati.
Semuanya diisi oleh berbagai pipa besar menjadikannya sebagai ular raksasa tanpa ujung, tak lama kemudian dia menemukan seorang anak laki-laki yang tengah membawa kunci.
"Apa yang kau lakukan?"
"Apa kau tidak lihat, aku sedang mencoba memperbaiki kebocoran."
"Kau masih kecil tapi bisa melakukannya."
Ketika pandangan keduanya bertemu akhirnya Janet menyadarinya.
"Kau bukan anak kecil, kau punya kumis dan jenggot di wajahmu."
"Kau membuatku kesal, kami bangsa kurcaci memang seperti ini."
"Ah."
Dia mengatakan yang sesungguhnya.
Anak kecil lebih tepatnya kurcaci itu mengangguk mantap.
"Seharusnya kami bekerja sebagai pengrajin bukan sebagai montir seperti ini, sial."
Lugunica memotong.
"Kau tampak frustasi di sana."
"Apa perasanku atau pedang di punggungmu bisa bicara?"
"Dia ini naga suci, aku tidak tahu rinciannya tapi dia terjebak dalam pedang."
"Naga suci maksudmu naga yang telah hidup sejak lama jauh dari ras lainnya."
"Benar, dia kadal pertama yang bisa berevolusi."
"Aku bukan seekor kadal."
"Tokek?"
"Tokek jidatmu, naga adalah naga mereka tidak melewati siklus seperti makhluk amfibi atau apapun."
Dwarf itu mendesah pelan.
"Namaku Gorgon, jadi apa yang sedang kalian lakukan di sini? Di saluran pembuangan limbah."
"Tempat ini sudah mencemari sungai kami berniat menghancurkannya."
"Janet, kenapa kau mengatakannya begitu saja?"
"Tak apa, tidak perlu ditutup-tutupi, mari bunuh dia."
"Kau, kau, kau ingin membunuh pak tua ini?" teriak Lugunica.
"Aku hanya bercanda."
Sementara Dwarf yang dimaksud tampak menarik nafas lega, baginya barusan bukanlah sebuah lelucon.
"Jika itu yang kalian mau maka libatkan aku."
"Kau yakin, itu... siapa namamu?"
"Gorgon, paling tidak coba ingat namaku."
"Apa alasan kau ingin membantu kami?" tambah Lugunica.
"Seperti yang kukatakan kami ini sebenarnya pengrajin, kami hanya dipaksa bekerja di sini... jika tempat ini hancur maka kami bisa pulang."
Janet menatap dengan pandangan serius.
"Tolong jelaskan secara terperinci."