
Jauh-jauh hari sebelum Souma bertemu Anna untuk pertama kalinya
Di sebuah bukit tinggi Souma sedang mengumpulkan tanaman yang berada di bawah kakinya, udara di sana cukup dingin dan itu cukup untuk membuat seseorang keluar dengan pakaian tebal serta syal yang dililitkan di lehernya.
Souma menarik satu persatu tanaman yang ditemukannya ke dalam tas kecil yang menggantung di tubuhnya sebelum menatap langit yang kini telah berubah kelabu sesuai dengan perasaannya sekarang.
Hembusan angin tampak menyibak di antaranya menerbangkan beberapa dedaunan ke udara yang terproyeksikan dengan sedikit cahaya redup. Saat ia menatap daun itu lekat-lekat mereka tidak bergerak ataupun jatuh, singkatnya mereka melayang seolah waktu telah terhenti seutuhnya.
Souma bangkit dan berbalik saat ia menemukan seorang wanita berdiri di depannya dengan penampilan serba putih yang menarik bunga ke tangannya selagi tersenyum kecil.
"Lama tak bertemu Souma, kau sehat-sehat saja."
Ia memiliki mata biru yang digabungkan dengan rambut putih yang mengikutinya sepanjang kaki, kontras dengan kulit porselennya yang seputih salju.
"Dewi?"
"Meski menggunakan wujud berbeda kamu bisa menyadarinya, apa mungkin kamu mengenaliku dengan aromaku atau mungkin dadaku."
"Tolong berhenti mengunakan candaan vulgar."
"Gomenne Souma," balasnya kecil dan itu jelas terlihat sangat imut bagaimanpun kau melihatnya.
Ia melanjutkan.
"Aku senang akhirnya Souma memutuskan untuk bersantai tapi kamu yakin akan hidup di dunia ini, dibanding dunia yang telah kau lalui dunia ini lebih mengerikan dan kejam dari yang kau duga karena pada dasarnya ini adalah dunia terakhir yang olehmu harus selamatkan."
"Apa ini soal dewa jahat?"
"Tidak ada namanya dewa jahat di dunia ini, yang ada hanyalah Pe-nyi-hir," tepat di kalimat terakhir sang dewi Souma membuka matanya saat sesuatu menamparnya. Itu bukan berasal dari tangan yang lembut melainkan sebuah kaki dari seorang yang dia kenalnya bernama Astrea.
"Selamat pagi Souma, apa yang sedang kau lakukan?"
"Harusnya aku yang menanyakannya."
Mereka mengenakan pakaian biasanya yang kemudian ditutup mantel coklat bertudung, keduanya akan pergi meninggalkan desa dengan sebuah penyamaran meskipun tidak ada bedanya dengan kenyataannya.
Astrea menarik kereta kuda yang mereka gunakan sementara Souma menguap lebar di sampingnya.
Mereka akan berkeliling ke beberapa tempat sebagai pedagang keliling, itu hanya perjalanan yang tidak jauh berbeda seperti Souma lakukan di masa lalu yang berbeda sekarang dia memiliki misi di dalamnya.
Desa keduanya telah tertinggal jauh di belakang dan mereka baru melewati padang rumput landai hingga akhirnya sampai di kota sebelah.
"Ngomong-ngomong Astrea, seperti apa gejala yang mereka terima?"
"Mereka mengalami sesak nafas dan akhirnya mati begitu saja."
Itu adalah penyakit yang jelas sangat berbahaya, Souma mengambil dua ramuan yang berada di dalam sebuah tabung kaca panjang yang memiliki cairan biru di dalamnya.
"Apa ini?"
"Obat yang meningkatkan metabolisme mu agar tidak mudah terkena penyakit, obat ini bekerja cukup lama jadi kita bisa meminumnya lagi setelah tiga hari."
"Owh, ramuan yang menarik... pantas saja kau disebut dewa Alchemist."
"Aku hanya manusia biasa yang kau temukan di manapun kau berada."