
Stella Evergarden telah muncul di toko Souma dengan wajah tanpa ekspresi, dia membuka pintu membuat lonceng yang diletakkan di atasnya berdenting indah.
Biasanya toko akan selalu sepi di jam seperti ini namun seiring wilayah ini berubah menjadi kota hampir seluruh loket telah terisi. Stella menyerobot antrian dan masuk ke lewat meja kasir kemudian berlutut di depan Celestrial yang kebingungan.
Semua orang termasuk Souma turut memperhatikan.
"No-nona Stella, ada apa?"
"Aku datang untuk menjemput Anda tuan putri."
"Tapi aku tidak ingin pergi."
"Anda harus pergi karena yang mulia telah meninggal."
Seisi ruangan gempar termasuk Celestrial sendiri, semenjak ayahnya disembuhkan oleh Souma, raja telah mendapatkan kesehatan yang baik hampir mustahil dia tiba-tiba meninggal begitu saja.
Souma merangkul Celestrial dan berkata.
"Aku dan Risela akan ikut juga, apa tak masalah Stella?"
"Aku mengerti."
Beberapa menit sebelumnya.
Law dan dua penyihir di belakangnya telah menerobos ruang makan raja tanpa sopan santun.
Stella yang mengikuti di belakang berusaha menghentikannya.
"Law, tunggu sebentar... apa yang terjadi denganmu?"
Dengan kasar Law meletakan kertas yang dia dapatkan di kediaman Testarosa.
"Kenapa catatan keluarga Testarosa harus dihilangkan?"
Stella hendak menarik pedangnya namun raja sendiri mengangkat tangannya untuk menghentikannya.
"Mereka sudah terlibat pemberontakan pada kerajaan, bukti dan juga tindakan mereka telah dilaporkan padaku."
Law mengebrak meja.
"Law?"
Stella ditangkap oleh dua penyihir hingga tubuhnya terkunci.
"Lebih baik kau tidak ikut campur, Law membawa kabar buruk untuk kerajaan jadi cukup dengarkan saja."
"Yang dikatakan Pandora benar. Kau mungkin akan marah jika berada di posisinya juga."
Dengan perkataan itu Stella memutuskan menyerah.
"Apa tuan Law memiliki hubungan dengan kepala keluarga Testarosa, mereka sudah dihukum mati sebelum kamu lahir jadi tidak mungkin ada sangkut pautnya... semua pemberontak itu telah diurus oleh gereja Harmonia dan semua buktinya telah resmi diberikan sebagai kebenaran."
"Gereja dan para keluarga bangsawan telah bersekongkol dari awal, keluarga Testarosa tidak pernah mengkhianati kerajaan."
"Dengan kata lain kau ingin bilang bahwa aku menghukum orang yang salah."
"Sayangnya begitu."
"Mustahil, ini tidak masuk akal?"
"Itulah kenyataannya, selain bangsawan Duke, bangsawan dibawahnya semuanya berkhianat dengan gereja, mereka menyetujui soal pembentukan negara lain yang disebut sebagai Ortodoks Suci."
Stella tercengang.
"Bagaimana bisa? Bukannya mereka sudah memiliki wilayah masing-masing setelah kita mengalahkan empat kerajaan."
"Ini tidak sesimpel itu, pengkhianatan ini sudah jauh lama direncanakan oleh bangsawan Marquess, Count, Viscount dan juga Baron."
"Jadi apa tujuan mereka?" tanya kembali Stella.
"Menjual kerajaan ini pada kekaisaran," pernyataan Law penuh keseriusan bahkan dia terlihat tidak seperti dirinya sebelumnya.
Dia melanjutkan dengan wajah pucat.
"Aku terlalu sibuk untuk mengawasi pergerakan bangsawan yang kita taklukan hingga ceroboh, kita juga seharusnya memiliki unit kesatria berbeda mengingat wilayah kita semakin luas... tidak ada jalan lagi, ini akan menjadi perang saudara dari sekarang."
Raja tiba-tiba saja memuntahkan darah dari mulutnya, sebelum dia tumbang Law bergegas menangkapnya di bawah.
"Yang mulia, yang mulia?"
"Dia diracuni," ucap Pandora selagi menggelengkan kepalanya.
"Tidak mungkin, setiap makanan selalu dicicipi oleh pelayan."
Law melirik ke arah pelayan yang dimaksud dan dia tersenyum dengan menakutkan.
"Meski kalian sudah mengetahuinya sayang sekali kalian sudah terlambat."
"Kau."
Stella melangkahkan kaki dengan sebuah ayunan pedang, pelayan itu menghindari tebasan tersebut dengan mundur ke belakang.
"Aku akan senang kalau bisa bertarung dengan salah satu pahlawan namun sayang sekali aku harus mundur sekarang."
Pelayan itu merobek wajahnya yang merupakan topeng dan menampilkan wajah cantik dengan mata merah serta rambut hitam berponi.
"Dia Vampir."
Dia menabrakkan dirinya ke jendela dan di momen jatuh sepasang sayap kelelawar muncul di punggungnya lalu terbang ke atas langit.
Dia menjulurkan lidahnya dengan erotis.
"Hanya menunggu waktu sampai kerajaan ini juga jatuh, sampai jumpa."
"Sial... Law bagaimana dengan keadaan yang mulia?"
"Racunnya terlalu kuat, raja sudah meninggal."
"Aku akan menjemput tuan putri."
"Bawa juga Souma, dia mungkin bisa membantu."
"Aku mengerti."