
Oriana hanya bisa diam saat sebuah tombak raksasa telah menembus tubuhnya dan menancapkannya di dinding.
"Kau memasukan penyusup ke kota ini, sungguh berani," yang mengatakan itu adalah seorang iblis dengan mata merah terang serta memiliki tubuh tegap berwarna gelap.
Ia memiliki rambut acak-acakan berwarna abu metalik sepanjang pinggul serta dua tanduk yang menyeruak dari kepalanya.
"Terserah, jika pun dia seorang kesatria kavaleri aku akan membunuhnya sebagai raja iblis dari pilar neraka, Asferow."
Sementara itu Dorothy memutar belatinya untuk membunuh para penjaga kota, dia sebenarnya tidak ingin terlibat namun demi menyelamatkan beberapa gadis yang hendak dinodai dia akhirnya melakukan semua ini, di hadapan satu pria yang masih hidup dia menendang dadanya jatuh lalu menekan tubuhnya untuk membuatnya tersentak.
"Ampuni aku, aku akan melakukan apapun yang kau inginkan."
"Perkataan seperti itu hanya berlaku jika korbannya seorang wanita, jangan khawatir ketika manusia mati hanya ada dua tempat yang akan mereka kunjungi, surga dan neraka dan aku yakin kau akan masuk ke pilihan ke dua."
Dorothy melemparkan belatinya dan itu menembus tulang tengkoraknya sebelum akhirnya dia mencabutnya kembali.
Dia melirik ke arah para wanita yang diselamatkannya.
"Kalian pergilah, cari tempat yang aman."
"Terima kasih banyak."
Tepat saat kepergian mereka sosok pria muncul dari balik bangunan, dia memiliki rambut ungu dengan rapier sebagai senjata. Jika dilihat dengan baik dia termasuk golongan pria cantik.
"Kau cukup baik membiarkan mereka lebih dulu melarikan diri."
"Kau?"
"Tidak sopannya diriku, namaku Fury salah satu pilar pelayan atas."
"Heh, seorang banci kah... sebenarnya aku tidak ingin terlibat jauh dengan ini, tapi kurasa aku tidak bisa memilih mundur setelah membunuh banyak anak buahmu"
"Benar sekali, jika kuperhatikan wajahmu sangat tidak asing... ah, kau memotong rambutmu hingga aku tidak menyadarinya. Kau, Feostina komandan kesatria kavaleri bukan."
"Seorang kesatria jadi pencuri, haha apa ini sebuah lelucon,?"
"Terserah bagaimana tanggapanmu tapi itulah kenyataannya, sekarang namaku Dorothy jadi jangan salah menyebutnya lagi."
"Begitu, apapun itu tidak masalah karena pada akhirnya kau akan mati dengan keindahan serangan milikku."
Fury menunjukkan sikap elegan dengan pedang tipisnya, untuk Dorothy dia memosisikan diri bertarung dengan dua belatinya.
Saat keringatnya jatuh ke tanah dia bergerak maju.
Ia memulai dengan dua tebasan ganda yang diblokir baik ke samping, rapier adalah senjata yang diperuntukan untuk menusuk lawan karena itulah untuk melakukannya Fury akan menariknya sedikit ke belakang sebelum melepaskan tusukan.
Dorothy menangkis dengan menyilangkan belatinya, kemudian berputar untuk mengirim tebasan menyamping yang mana melukai sedikit pipinya saat dia menghindarinya.
Dengan gerakan cepat Fury menendang perut Dorothy hingga ia memuntahkan cairan dari mulutnya sebelum dia dikirim terbang menjauh.
"Kau melukai wajah indahku, biarlah aku akan membalasnya dua kali lipat."
Sebelum Dorothy bangkit, Fury telah mengumpulkan energi di ujung senjatanya lalu mengirimkannya bagaikan sebuah laser, yang mana menembus setiap bangunan yang dilewatinya.
Jika Dorothy tidak tepat waktu menghindari tubuhnya jelas akan berlubang seperti apa yang dialami bangunan tersebut.
"Barusan nyaris saja," katanya tersenyum pahit.
"Kulihat kau hanya seorang diri, apa kau benar-benar datang kemari untuk menghancurkan kota ini?"
"Lebih tepatnya hanya tiga orang."
Ledakan menggema di berbagai tepat di waktu bersamaan.
"Mereka sepertinya sudah memulainya."