
"Souma yang dulu bukanlah Souma yang sekarang, dia banyak berubah," potong Lugunica.
Penyihir bencana mendecapkan lidahnya sebelum melompat jatuh.
"Saat pesta teh, kupikir kau sepertiku yang menyukai hal membunuh, sungguh mengecewakan bahwa kau jadi orang menyedihkan yang naif."
"Terserah apa yang kau pikirkan tapi akan buat kau tidak bisa melakukan apapun kecuali ikut denganku."
"Aku ingin lihat seberapa besar kau bisa melakukannya."
Kini Souma memilih untuk mengambil jalan berbeda dari yang selalu dia ingin raih, menjadi kuat bukan melibatkan dirinya dalam pertarungan seorang diri tanpa membayar apapun sebagai balasan.
Melainkan arti menjadi kuat adalah....
"Tetap bersama semua orang yang berharga untukmu dan bersama-sama saling bahu membahu."
Ia mengetahui hal itu dari Shiji, berbeda darinya. Shiji di masa lalu hanya orang yang lemah yang terus dibantu oleh sekitarnya.
Pertama dia menyeret Dewi Eris untuk ikut bersamanya ke dunia manusia, bertemu dengan Rosalin dan kemudian bertemu dengan lainnya. Setiap pertemuan membuatnya menjadi kuat dan kuat tanpa kehilangan apapun.
Dalam hati Souma, dia merasa kalah darinya, dia memang pantas disebut pahlawan dibandingkan dirinya.
Souma menahan gempuran dari tebasan penyihir bencana, itu gerakan yang sangat kuat yang menciptakan kerusakan skala besar, seluruh bangunan runtuh bahkan tanah pijakan mereka hancur berkeping-keping.
Sebuah jaring laba-laba menjerat kaki Souma, lalu melemparkannya ke udara sebelum menghempaskannya ke dalam tanah, semburan material berhamburan bersamaan asap debu yang tertiup angin.
Souma bangkit dengan tubuh babak belur sedangkan penyihir bencana terlihat mengatur nafasnya, luka di tubuhnya tidak bisa terobati dan satu hal yang terlihat jelas juga bahwa secara perlahan staminanya berkurang.
"Bagaimana bisa, tubuhku?"
"Kau menyadarinya wanita sialan, pedangku akan terus mengikis kekuatanmu. Kau berfikir bahwa memiliki kekuatan naga membuatmu tidak terkalahkan, namun di sisi lain kekuatan naga yang akan membuatmu kalah."
"Kau sampai memikirkannya sejauh itu."
"Benar sekali, apa kau tahu bagaimana melihat rasku menjadi gila karena ulahmu, aku sangat putus asa dan sekarang aku ingin kau merasakannya juga sebelum kau mati."
"Lugunica?" panggil Souma.
"Maunya seperti itu, tapi Souma memiliki sesuatu yang lain untuk kalian para penyihir."
Di saat yang sama penyihir bencana meraung menghasilkan suara yang mengerikan yang membuat seluruh hutan bergetar.
Dia telah memakan banyak monster jadi bukan hanya kekuatan naga saja yang tersimpan dari tubuhnya.
"Akan kuhancurkan semuanya."
Dia kembali menyerang dengan lebih brutal, ia menggunakan kecepatan monster berkaki empat, Golem, laba-laba bahkan jenis-jenis yang belum pernah Souma temui.
Yang harus dilakukan Souma hanyalah menghindarinya selagi mengirim sedikit demi sedikit tebasan padanya hingga akhirnya dia akan menyerah. Namun di luar ekspetasinya tiba-tiba saja penyihir bencana mulai berubah, tubuhnya semakin membesar hingga akhirnya menjadi seekor naga hitam.
"Ini benar-benar merepotkan."
Dia menyemburkan nafas apinya lalu membakar seluruh kota.
"Dia kehilangan kendali Souma, apa yang akan kita lakukan?"
"Apa boleh buat, aku akan melakukan itu."
Souma memunculkan lingkaran sihir di sekeliling penyihir bencana dan secara serempak menembakan berbagai api berbeda, tak berhenti di sana seiring waktu lingkaran itu akan bertambah banyak dan banyak dan terus menerus membombardirnya.
Baru setelah 30 menit, penyihir bencana kehilangan seluruh tenaganya dan kemudian ambruk menghantam bangunan sebelum berubah menjadi sosok sedia kala.
Ketika dia kehilangan semuanya, wajah Souma sudah mendekat padanya.
"A-apa yang ingin kau lakukan?"
"Mengembalikanmu."
Souma menempatkan tangannya di dada penyihir bencana dan saat dia menariknya berbagai tulisan terbuat dari sihir keluar dari tubuhnya.
"Ini."
"Ini adalah Grimore yang kau gunakan, Fram memberikannya bukan dan sekarang aku akan menariknya kembali."
Perlahan tulisan itu berkumpul lalu berubah menjadi buku lalu terbakar oleh api.
"Dengan ini kau bukan lagi penyihir."