Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung

Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung
Chapter 229 : Jam Raksasa Di Atas Kota


"Lebih tepatnya kami berbagai tubuh yang sama."


"Pandora kamu berbicara tidak sopan, biar aku saja yang menjelaskan."


"Aku ingin kita terlihat keren."


"Itu tidak perlu kamu tahu."


"Ugh."


Lugunica menimpali diantara perdebatan tersebut.


"Dia seperti seorang yang berbicara sendiri, bikin merinding disko."


Bagi Souma, ada dua Pandora di dunia ini yang jelas tidak mirip satu sama lain, yang satu penyihir dan satu lagi sepertinya seorang yang tidak sopan.


Setelah berdebat Pandora atau Heart memilih mundur dan duduk di kursi dengan tenang, Heart yang menang lalu menjelaskan.


"Sebenarnya kami diminta menunggu di dunia sana untuk kedatangan Souma, tapi Eris bilang bahwa kami boleh pergi ke dunia ini jika mau, menurutnya Souma memiliki beberapa hal yang menghambatnya jadi akan lebih baik membantunya juga lebih dulu."


Souma mengerti apa yang coba dijelaskan Heart singkatnya mereka hanya datang untuk membantu, seperti dirinya Pandora atau Heart seorang penjelajah dunia.


"Apa ada yang salah?"


"Tidak, aku berterima kasih karena sudah datang hanya saja, di sini ada yang memiliki nama Pandora yang sama jadi aku akan memanggil kalian berdua Heart saja."


"Aku tidak keberatan."


"Hal seperti itu memang tidak aneh."


Souma dan Lugunica terdiam saat melihat mata kiri Heart tiba-tiba berubah menjadi jam dengan angka romawi.


"Matamu?"


"Mataku."


Selanjutnya sebuah dentingan dari sebuah suara nyaring terdengar dari luar. Souma mengecek ke luar dan melihat jam raksasa yang berada tepat di atas kota.


"Apa itu?"


"Itu kekuatan kami, aku memasangnya di sana untuk mengawasi jika ada sebuah hal janggal, jika di dekatnya ada orang bertarung maka dia akan berbunyi."


"Dengan kata lain kita diserang sekarang."


"Um."


Astrea muncul secara tergesa-gesa setelah membanting pintu.


"Souma?"


"Aku tahu."


"Aku serahkan pada kalian."


Sambil berlari Souma menarik pedang Lugunica di punggungnya, sementara Heart menarik pedang di pinggangnya.


"Jumlah mereka sangat banyak, mereka benar-benar serius untuk menghancurkan kota ini."


"Bukannya itu bagus semakin banyak orang datang semakin banyak juga yang dibunuh," ucap Pandora.


"Dia benar-benar haus darah, sebaiknya kau tidak boleh dekat dengan orang ini, Souma."


"Pandora sedikit kasar tapi dia gadis yang baik."


"Berhenti berbicara aneh-aneh Heart, kita tidak boleh merendah. Apa kau tahu gara-garamu selalu lembut terkadang beberapa pria menggoda kita."


"Kurasa mereka mencoba untuk dekat saja."


Bagaimanapun melihatnya mereka seperti berbicara sendiri dan dari sudut orang yang tidak mengetahuinya mereka sudah jelas digolongkan orang aneh.


Keduanya mendarat tepat di dekat kumpulan orang berjubah putih, bertudung.


"Kita diperintahkan untuk membunuh siapapun yang kita lihat, serang mereka," kata salah satunya namun dia sendiri orang yang mati lebih dulu oleh tebasan Heart yang menggorok lehernya.


Bersamaan itu Souma juga memberikan serangan yang sama.


"Gwaaah."


Dia membelah kepala mereka kemudian memotong tubuh mereka hingga tergeletak di tanah.


Beberapa menggunakan sihir hingga Souma membenturkan semuanya dengan satu sihir bola api.


"Mustahil? Sihir gabungan kita hanya ditangkisnya oleh satu sihir rendah."


"Jangan lupakan aku," Pandora atau Heart yang muncul di belakang menebas satu persatu orang tanpa kesulitan.


Beberapa orang muncul kembali.


"Tak ada habisnya."


Mereka melompat menyergapnya dari atas namun saat mereka melihat matanya, mereka semua mati seketika.


"Kemampuanmu?"


"Ini Death Bell, jika orang yang tidak abadi melihatnya mereka akan mati seketika."


"Begitu, sebaiknya jangan gunakan itu di depan orang biasanya ataupun rekan."


"Tentu saja, aku tidak begitu ceroboh untuk melakukannya."