Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung

Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung
Chapter 38 : Mencari Serangga


Di ruangan sempit itu kepala desa mulai menjelaskan, untuk keluarga Lulu mereka diminta untuk tetap di rumah dan pulang lebih awal.


"Sebenarnya semua ini terjadi karena ulah Profesor bernama Ban Aspal, dia adalah ilmuwan gila yang terobsesi membesarkan apapun dengan penemuannya."


"Membesarkan apapun, bukannya seseorang bisa salah paham dengan itu aah, aah."


Anna memotong perkataan Risela selagi menepuk bahunya dengan punggung tangannya.


"Hentikan, jangan kumat di saat seperti ini."


Disusul Undine.


"Ban Aspal bukannya namanya itu terdengar aneh?"


Risela yang pulih melanjutkan.


"Tidak, di ibukota masih banyak nama-nama aneh. Aku juga pernah mendengar nama Katel Spinger dan juga Panci Bolong Berlubang."


"Itu nama orang kah?" komentar Anna mendapatkan anggukan kecil.


Kepala desa membungkuk rendah ke arah mereka.


"Tolong selamatkan desa kami, kami sekarang tidak bisa berbuat apapun sebagai balasannya tapi kami akan membayar kalian nanti."


"Soal itu kami sudah dibayar oleh Lulu maka sudah kewajiban kami untuk menyelesaikan pekerjaan."


"Benar yang dikatakan Anna, kami akan melakukannya sebelum itu tolong beri kami makanan."


"Undine bukannya perkataanmu tidak sopan."


"Ah, kebiasaanku... tolong lupakan yang barusan."


Risela yang mendengarkan angkat bicara.


"Pokoknya untuk sekarang tunjukan kami ke arah tempat persembunyian mereka."


"Tentu saja ueeeh."


"Tolong berhenti menangis juga, jika dibiarkan desa ini akan tenggelam,"ucap Undine yang akhirnya mulutnya ditutup oleh Anna.


Selepas pembicaraan singkat tersebut, Risela memimpin jalan di depan dengan tangan memegang pedang yang diayun-ayunkannya dengan sembarangan.


"Menurutku apa profesor itu juga memperbesar gurita, bayangkan seperti apa pelecehan yang akan kita didapatkan, tentakel mereka akan menggerayangi sekujur tubuh kita memenuhi kita dengan lendir menjijikkan... aku jadi pahlawan untuk merasakan hal itu."


"Hey Undine apa kamu memiliki mana cadangan sekarang?"


"Tentu beberapa hari ini aku belum meledakan apapun."


"Tunggu, tenanglah kalian berdua... jika ledakan terdengar nanti para belalang akan segera menyerbu kita."


"Sepertinya begitu, jadi kemana kita pergi?" tanya Anna.


"Kurasa kita ke sini, bukan atau ke sana."


Anna dan Undine menatap curiga pada Risela hingga dia bersujud selagi mengangkat tangannya.


"Maafkan aku, sebenarnya kita tersesat.... lagipula kepala desa hanya menjelaskannya sekali."


"Mau bagaimana lagi, bagiku hutan ini sama saja," balas Anna membuat semua situasi menjadi terkendali.


Para belalang akan tinggal di hutan ini selama beberapa bulan dan saat penduduk desa memasuki musim panen, mereka akan turun ke ladang dan melahap semuanya.


Musim panen sebelumya para penduduk tidak bisa menjual apapun, jika sekarang panen mereka gagal lagi mereka akan mati kelaparan saat musim dingin.


Kisah ini tidak jauh berbeda dari belalang yang mengambil hasil kerja keras para semut, Itulah yang dipikirkan Anna sekarang.


"Sekarang bagaimana?" tanya Undine pada Anna yang diam memikirkan sesuatu.


"Kepala desa bilang bahwa mereka tinggal di dekat pohon besar di antara pepohonan ini maka dari itu kita bisa melihatnya dari atas."


"Sesuai yang diharapkan dari iblis peringkat tinggi."


"Aku pergi."


Anna memunculkan sayap kelelawar di belakang punggungnya lalu terbang ke atas, dari tempatnya melayang ia bisa dengan jelas melihat pohon tersebut. Dari awal Anna bisa pergi secara terbang namun jika dilakukan itu juga akan memancing para belalang untuk menyerang.


Rencananya sendiri adalah meledakan mereka secara diam-diam lalu pulang seolah tak terjadi apapun sementara untuk permintaan Souma yang membawa beberapa tubuh mereka ke desa diabaikan.


Lagipula jika dia memiliki uang dia akan berubah menjadi pemalas lagi.