Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung

Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung
Chapter 164 : Konferensi Meja Bundar


Di dalam ruangan Historia sedang memeluk seorang pelayan di depan jendela, itu gerakan yang tidak senonoh yang tidak pantas dilakukan seorang gadis.


"Jangan, hentikan."


"Punyamu cukup besar, tak apa hanya kita yang ada di ruangan ini."


"Ahn... ahn...huuuft.. huuuft."


"Sekarang bagian bawah."


Souma menerobos masuk memukul Historia hingga mengerang kesakitan sebelum menyeretnya keluar dari ruangan.


"Permisi."


"Ah ya."


"Tunggu Souma, barusan bagian terbaiknya biar aku lakukan sebentar lagi."


"Orang sepertimu harusnya dipenjara, bisa bebas berkeliaran harusnya sudah bersyukur."


"Heh."


"Kita ada rapat jadi aku sudah tahu hal seperti barusan akan terjadi."


"Kau sudah menduganya, menyebalkan."


Souma memaksanya duduk dan berkumpul dengan semua orang yang disebut sebagai konferensi meja bundar, ada Stella, Law, tuan putri dan Risela juga.


Celestrial mendapatkan persetujuan Souma untuk memulai.


"Seperti yang sudah diketahui penduduk kerajaan, kita mendapatkan beberapa ancaman serius, pertama dari bangsawan yang mengkhianati ayahku, kedua dari pihak kekaisaran dan terakhir dari gereja Harmonia. Karena itulah kita semua berkumpul untuk membahas hal demikian... soal tahta kerajaan aku yang akan maju sebagai ratu, kalau kalian punya usul jangan ragu untuk mengatakannya."


Law yang berkata lebih dulu.


"Semua ini terjadi karena kecerobohanku, maka dari itu aku yang akan bertanggung jawab untuk memulai peperangan ini, dari yang aku dapatkan para bangsawan itu memutuskan untuk menetap di kota pegunungan bersama semua pasukan pengkhianat, aku akan membawa pasukan kita untuk mengalahkannya."


Kota yang dimaksud adalah kota yang sudah ditinggalkan penduduknya yaitu sebuah kota yang dulu pernah dihancurkan oleh Pandora dan dimana Law mendapatkan bahan untuk membuat pedang sebelumnya.


"Itu masih belum benar, ada kemungkinan mereka para bangsawan memisahkan diri dan mengambil tempat tinggal berbeda, jadi aku akan melacak di kota yang ditinggalkan lainnya" ucap Risela.


Souma cukup terkejut bahwa Risela berkata normal, dia adalah super M satu paket dengan Stella.


Tapi tak terlihat di sini.


"Aku juga berfikiran sama, mereka bahkan meninggalkan keluarga mereka di kota sebelumnya seolah mereka tahu bahwa kita tidak akan menghukum mereka."


Stella juga keluar dari karakternya.


"Untuk keluarga mereka aku hanya akan mencabut gelar kebangsawanan mereka jadi tidak masalah untuk melepaskan mereka."


"Dimengerti."


"Aku siap bertarung terutama melawan kultus Harmonia yang jahat, bunuh, bunuh dan bunuh mereka huahaha."


"Itu bukan perkataan yang pantas dikatakan seorang Arc Priest," kata Souma lemas selagi menyikut perutnya hingga dia duduk kembali.


"Kenapa kau selalu kasar padaku, perutku."


Souma melanjutkan.


"Sejujurnya kita tidak perlu bergerak dari sini, lagipula aku yakin merekalah yang akan melakukannya lebih dulu."


Suara Lilith masuk ke dalam kepala Souma, secara diam-diam ia sudah meminta Lilith untuk mengawasi beberapa Km dari ibukota.


(Tuan, aku melihat pasukan dengan jumlah besar tengah bergerak, mereka membawa persenjataan lengkap dan jumlahnya sekitar 10.000)


(Kerja bagus Lilith, bisakah kau awasi terus)


(Tidak masalah)


Souma memberikan informasi tersebut pada semua orang.


"Sesuai yang diharapkan dari Souma, dengan ini kita bisa dengan mudah mengantisipasinya."


"Sementara kita menahan mereka pasukan Law, Risela dan Stella akan sama-sama bergerak."


"Bukannya itu sama saja dengan mengurangi pasukan utama di ibukota," ucap Stella.


"Kalian hanya akan bergerak dengan sedikit pasukan, bukannya kita punya penyihir di kelompok kita.. minta saja Pandora mengirim kalian secara langsung ke tempat musuh biar aku dan Historia yang berada sebagai pertahanan ibukota."


Pandora secara tiba-tiba muncul lalu merangkul Souma dari belakang.


"Kau seenaknya saja meminta penyihir terlibat, apa menurutmu aku akan mau melakukannya."


"Kau membuat semua orang takut Pandora."


"Ini ciri khas dari penyihir kau tahu."


"Kesukaan Law terhadapmu mungkin akan berkurang apalagi jika kau menolak."


"Ah benar, aku harusnya tampil imut di depannya."


Puluhan Pandora lainnya bermunculan lalu menghilang dengan sihir teleportasinya.


"Mereka semua sedang mencari tempat keberadaan musuh, mari tunggu beberapa jam dan aku akan melaporkannya."


"Bukannya itu bagus Law, sebaiknya kau memberikan hadiah pada Pandora."


"Kau telihat sedang menjualku, sialan."