
Suara ledakan menggeru dari berbagai arah, teriakan semangat yang dikeluarkan dari pasukan kerajaan Diamond telah lenyap bersamaan tubuh mereka yang tumbang, tak hanya pihak mereka pihak musuh juga mengalami hal sama namun perbedaannya tetaplah jauh berbeda. Pihak lawan masih unggul.
Dia jalanan ibukota yang dialiri darah segar, sesosok wanita berjalan dengan sepatu haknya, dia mengenakan seragam militer berwarna merah muda di balik mantelnya, sementara rambut panjang berwarna putihnya dibiarkan terurai sampai pinggul dan berayun setiap kali dia berjalan.
Topi juga melekat di atas kepalanya.
Langkahnya terhenti saat seorang dengan penampilan pelayan berdiri di depannya selagi mengacungkan pedang ke arahnya, matanya yang berwarna biru lapis tampak sedikit terkejut dengan sosok pria tua tersebut.
"Ibukota tampak dalam bahaya sekarang, tak kusangka ternyata kau juga ada di sini Erza."
"Mantan komandan kesatria Sebastian von Hoster, kudengar anakmu yang menggantikan posisimu dan sekarang kau hanya pelayan sementara di keluarga Duke."
"Seperti itulah adanya, jadi kenapa salah satu dari 12 kesatria suci datang menyerang kemari."
Erza mengangkat kedua bahunya dengan ringan.
"Karena kau pernah mengajariku di masa lalu jadi akan kukatakan semuanya... kami ingin mengambil gerbang Geonova."
"Kau, bagaimana kau tahu tentang itu?"
"Meskipun pihak kerajaan berusaha menyembunyikannya sayangnya tidak akan ada hal yang terlewat dari uskup Agung."
"Vanitas."
Sebastian menggumamkan nama itu, dia seharusnya sejak lama membunuhnya terlebih saat masalah keluarga Testarosa terjadi, saat itu Sebastian tidak memiliki cukup bukti untuk melakukannya, walau demikian jika saja dia mampu membuang nama kesatria yang melekat padanya maka kejadian ini tak akan terjadi.
Erza melanjutkan.
"Gerbang Geonova adalah gerbang yang dibuat penyihir bencana saat membuat festival naga, maka dari itu jika kami mendapatkannya maka bencana itu bisa kami gunakan sebagai kebaikan."
"Kami akan membunuh para pendosa dan menciptakan dunia ideal yang diisi oleh para penganut Dewi Harmonia."
"Kau sudah rusak, sebagai mantan gurumu lebih baik aku yang membunuhmu."
Sebastian melangkah maju dengan sebuah tebasan, Erza tidak menahannya melainkan melompat menghindarinya kemudian mengayunkan dua jarinya menciptakan tebasan bulan sabit dari cahaya.
Sebastian menundukkan kepalanya hingga setiap bangunan di belakangnya terpotong-potong dengan rapih. Erza menyeringai lalu menerjang ke depan untuk mempersempit jarak, dengan satu tendangan dia menendang perut Sebastian hingga menabrak reruntuhan dengan bunyi ledakan.
Tanpa membuat lawannya menunggu Erza memberikan tendangan mematikan berikutnya dan melihat bahwa Sebastian mampu menghindarinya sebelum akhirnya menebaskan pedangnya di udara untuk mengirim serangan tebasan sama yang digunakan oleh Erza, namun dengan satu jari dia berhasil memantulkannya ke samping.
'"Serangan seperti itu tidak akan bisa melukaiku Sebastian, kau harus menggunakan kemampuan yang tidak pernah kau ajarkan padaku."
"Aku melatihmu untuk melindungi kerajaan tapi sekarang malah berbalik seperti ini."
Erza menarik topinya ke depan.
"Manusia selalu berubah, kuharap kau bisa mengerti... dunia ini telah dipenuhi berbagai hal, kejahatan, kebohongan serta kerusakan. Hanya menunggu waktu bahwa dunia ini akan tertelan dalam kegelapan, sebelum hal itu terjadi lebih baik dunia ini hancur dan selanjutnya membuat ulang kembali."
"Dan jika kalian gagal maka kalian akan membunuh mereka dan mencoba membuat dunia lagi yang baru."
"Tepat."
"Jangan konyol, di tempat ini akan kuhentikan semuanya."
"Aku sudah menduganya."