Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung

Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung
Chapter 183 : Tebasan


Setiap kapal perang menembakan bola api dari moncong meriam yang terletak di bagian depan, beberapa juga menembakan ujung tombak yang disatukan dengan rantai-rantai yang menusuk setiap pulau.


Salatiga dan Serena muncul dari belakang Souma.


"Kalian tidak apa-apa?"


"Bukan masalah."


"Tak kusangka kekaisaran telah bergerak mendahului kita, mereka mengerahkan armada seperti ini."


"Apa kalian tahu sesuatu tentang benda itu?" Souma bertanya hal demikian saat seluruh pasukan malaikat mulai menyerang secara bersamaan.


"Ini salah satu benda yang mereka miliki, karena kekaisaran memiliki seorang Alchemist mesin yang disebut God Machine benda-benda seperti ini bermunculan."


"Hoh, itu menarik, Serena tarik seluruh pasukanmu biar aku menebas kapal perang mereka dari sini."


"Itu tidak mungkin, benda itu tidak mungkin bisa ditebas, dari sini juga jaraknya terlalu jauh."


Salatiga mengkonfirmasi hal itu pada Serena, namun dia membalas dengan anggukan kecil untuk menyetujuinya.


"Saya mengerti."


Salatiga mengangkat tangannya dan itu membuat seluruh pasukannya mundur.


Adapun Historia dia juga sedikit penasaran dengan kekuatan Souma. Saat pertempuran di ibukota Diamond dia sedang bertarung jadi dia sepenuhnya melewatkan beberapa detail dari kemampuan Souma.


Souma berjalan beberapa langkah ke depan selagi membawa pedang di tangannya tanpa melepaskan sarungnya, dia memosisikan diri menyamping dan hembusan angin berhembus ke sekelilingnya.


Bunyi dentingan terdengar namun Souma bahkan tidak terlihat menarik pedangnya, dia hanya membetulkan posisi setelahnya.


"Sudah selesai," katanya santai.


"Apa yang barusan?"


Saat semua orang menatap ke arah seluruh armada di atas langit mereka menyadari bahwa semuanya terbelah menjadi dua bagian lalu meledak dan jatuh, para awak tampak terlihat panik namun mereka tidak bisa berbuat banyak kecuali kematian yang dapat diterimanya.


"Tuan Souma, siapa Anda sebenarnya?" tanya Serena.


"Aku hanya menarik pedangku seperti biasa."


"Mana mungkin biasa, dari kami bahkan tidak melihat pedangmu keluar dari sarungnya."


"Kalian mungkin melamun."


"Mustahil."


Tepat Souma menyangkal kekuatannya sesuatu jatuh dari langit, itu adalah sebuah zirah besi berbentuk manusia yang diisi oleh bara api di dalamnya, sekilas menyerupai robot.


Dia bukan manusia dia adalah mesin, dia melancarkan sebuah pukulan kuat yang ditahan Souma hanya dengan satu tangan kosong.


"Aku tidak ingin membiarkan para gadis terluka jadi aku yang akan melawannya."


"Tiba-tiba saja Souma menjadi terlihat keren," teriak Historia.


"Bukannya Souma seperti ini?"


"Kalian tidak tahu, Souma itu pemalas bahkan saat bertarung dia tidak memiliki niat seperti itu."


Ini adalah pengaruh dari perasaannya yang telah kembali.


"Mungkinkah dia bangkit setelah menyentuh dadaku."


Air menyembur dari mulutnya sebelum Souma mendorong tubuh robot itu hingga terlempar ke sisi ujung pulau. Ia bisa melihat bagaimana Salatiga dan Serena menatapnya dengan pandangan sinis.


"Kalian salah paham, lebih dari itu cepatlah menjauh."


Souma tidak yakin dia bisa menjaga nama baiknya mulai sekarang. Dibandingkan memikirkan hal itu ia kini fokus dengan makhluk di depannya.


Ia berfikir bahwa teknik Alchemist yang digunakan untuk membuatnya seperti teknik pada golem, yang membedakannya golem selalu dibuat dengan material batu dan tanah sementara di depannya besi dan api.


Menggabungkan dua unsur elemen menjadi satu kemudian menerapkan perintah ke dalam tubuhnya adalah sesuatu yang sedikit abnormal. Souma bisa yakin bahwa Alchemist yang berada di kekaisaran bukan hanya isapan jempol sebagai seorang jenius.


Robot tersebut berlari dengan kekuatan cepat, Souma menghindarinya dan sebuah tangan tepat muncul di depan matanya, sebelum mengenainya tangan itu terpotong ke udara, robot itu menjaga jarak lalu membuka mulutnya untuk menembakan nafas api.


Api yang meluncur pada Souma dibelah menjadi dua bagian termasuk robot tersebut hingga tumbang ke tanah.


"Barusan bukan pertarungan yang sulit," para malaikat yang memperhatikan di sekeliling pulau berteriak akan kemenangan mereka yang diraih dengan mudah.