Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung

Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung
Chapter 169 : Pertempuran Para Bangsawan


Waktu saat ini.


Pandora yang telah menemukan lokasi setiap musuh mengirim semua orang menghilang dengan sihir teleportasinya, ada tiga pasukan di mana masing-masing berjumlah 50 orang setiap anggotanya.


Pasukan satu yang akan dipimpin oleh Law beserta dua penyihir bersamanya.


Pasukan kedua melalui kepemimpinan Stella Evergarden.


Dan pasukan ketiga bersama Risela Lockhart.


Sementara yang melindungi ibukota hanyalah dua orang yang berdiri di tanah lapang luas yang mana bersiap menantang 10.000 pasukan.


Souma duduk berseiza dengan mengenakan hakama yang ditutup kembali dengan haori dengan warna hitam gelap, sementara sebuah katana diletakkan di sampingnya.


"Aku senang bertemu denganmu lagi Souma, hanya saja apa kau jadi aneh."


"Siapa yang kau bilang aneh oi, aku mengenakan sesuatu untuk memudahkanku untuk bergerak."


"Begitukah."


"Sudah lama aku tidak mengenakannya terakhir kali kukenakan untuk membantai banyak orang."


"Kau pasti bercanda, bukannya kau orang yang lembut... waktu mengumpulkan tanaman kau sedih karena tanamannya sudah layu, kemudian saat kakimu tertusuk duri kau bilang, aku akan mati."


"Sudah jelas kan, kita sudah jauh-jauh mendaki gunung namun tanamannya sudah layu.. Itu duri beracun sudah jelas aku akan bilang begitu sebelum benar-benar mengobatinya."


"Haha yah itu masa-masa yang menyenangkan, kalau saja gereja Harmonia yang jahat tidak mengganggu, aku mungkin akan memiliki masa indah bersama Souma."


Souma mengibaskan tangannya berulang kali.


"Kau hanya membuat masalah untukku, surat yang kau kirimkan padaku juga kebanyakan hal mesum."


"Itu pasti, aku ingin Souma tahu bagaimana aku tumbuh."


"Tumbuh menjadi orang busuk."


"Ugh... aku terluka."


Historia membelai leher kuda miliknya lalu memintanya untuk terbang menjauh, Lilith yang melihat sekitar muncul di dekat Souma. dia membawa topeng iblis dengan tanduk yang diberikan pada Souma.


"Maaf menyusahkanmu Lilith."


"Ini bukan hal yang serius."


"Kenapa kau mengenakannya?"


"Kita sedang diawasi oleh kekaisaran aku tidak ingin melibatkan banyak orang hingga orang yang dekat denganku malah dalam bahaya."


Historia menggigit ujung mulutnya.


"Souma aku sudah memikirkan banyak hal tentang waktu itu, alasan kenapa kau kalah oleh Vanitas dan memilih segera kembali ke desamu sendiri, apa itu salahku? Awalnya kenapa waktu itu kau sangat sedih dan mulai berusaha membuatku seaman mungkin, aku..."


"Tidak Historia, semua salahku karena tidak menyadarinya... terlebih saat itu aku benar-benar tidak bisa keluar dari mimpi buruk dari masa lalu, yah.. sekarang juga aku merasa demikian. Aku hanya tidak ingin kehilangan orang berharga lagi karena itu tak perlu mengkhawatirkannya, padahal kau membutuhkan seseorang di dekatmu tapi aku malah meninggalkanmu begitu saja di tempat asing harusnya aku yang meminta maaf."


Keduanya tertawa bersama sebelum akhirnya Souma mengenakan topengnya.


"Sebenarnya bagaimana kekaisaran mengawasi kita?"


"Dengan melihat dari bola sihir, bola tersebut memiliki batasan di mana hanya akan menampilkan situasi yang ada di sekitar anak buahnya."


"Jadi begitu, kekaisaran ternyata pengecut... dia bahkan menyusupkan mata-mata bangsawan ke negera kita."


"Tuan, apa aku harus bertarung juga?" potong Lilith.


"Lawannya hanya manusia aku rasa itu tidak akan cukup menantang untuk Lilith."


"Tuan memang benar tapi cukup bosan juga hanya berdiri."


"Bagaimana jika pergi ke kota dan beli sesuatu di sana."


"Dimengerti."


"Souma kau memiliki pelayan yang cukup bahenol boleh aku menyentuhnya."


"Akan kubunuh jika kau melakukannya."


"Kau ini, tak bisa diajak bercanda."