
Dua Minggu berikutnya Souma hanya menopang dagunya selagi menatap Erina yang berkunjung ke tokonya.
"Lihat ini, aku jadi boing-boing."
Souma memperhatikan bagaimana kedua gunung kembar itu memantul dengan seharusnya.
"Baguslah, kalau begitu sana pergi hus-hus."
Erina mengembungkan pipinya dengan sedikit kesal.
"Mana ada pemilik toko yang mengusir pelanggannya?"
"Lalu apa yang kau inginkan, apa aku harus menyentuhnya."
"Tidak," Erina segera menyembunyikannya dengan tangannya sebelum Anna keluar dari dapur.
"Souma tolong jangan menjahilinya, silahkan minum teh."
"Terima kasih, Anna sangat perhatian aku tidak tahu bagaimana kamu bisa betah di sini?"
"Souma sebenarnya baik, hanya saja dia sedikit menyembunyikannya."
"Menyembunyikannya?" Erina menatap ke arah Souma meski dia bilang baik dia hanya melihat wajah malas di sana.
Lonceng dari pintu berbunyi saat sosok Risela masuk ke dalam toko.
"Aku kembali."
"Terima kasih atas kerja kerasnya," Souma yang lebih dulu berkata demikian bagaimana pun Risela keluar untuk mengirim barang.
"Selamat datang kembali," tambah Anna.
"Iya, ada Erina juga... wow... dadamu sangat besar sekarang."
"Hehe."
"Kalau bisa jangan membahas hal seperti itu di depanku terlebih apa yang kau butuhkan lagi di tokoku?"
"Sebenarnya beberapa hari ini akan ada festival di tempat kelahiranku, aku ingin mengundang kalian ke sana."
"Begitukah, apa tidak masalah kami bukan elf?" tanya Anna mewakili semuanya.
"Tidak, tidak, aku sudah bertanya pada kepala desa ia bilang tak masalah untuk mengundang Dewa Alchemist serta temannya."
"Souma?"
"Baiklah, kita akan pergi."
"Yataa."
Souma hanya tersenyum sebagai balasan.
Seperti dijanjikan ketiganya pergi ke hutan elf yang berada tak jauh dari desa, di luar tampak Erina sedang bersandar menunggu.
"Kalian sudah datang, mari ikuti aku."
Ketiganya mengangguk mengiyakan, di hutan ini ada semacam sihir yang mencegah siapapun yang bukan elf untuk masuk ke dalam, dengan memakai kalung yang diberikan Erina ketiganya bisa masuk dengan mudah hingga mereka sampai di sebuah pemukiman elf yang terdiri dari rumah-rumah kayu yang indah.
Semua elf berkumpul menjadi satu di mana Souma akhirnya mengerti sesuatu hal penting.
Semua elf wanita berdada besar.
Sekilas dia akhirnya paham kenapa Erina datang menemuinya dengan frustasi dan meminta obat untuknya.
Kepala desa untuk ras Elf mendekat.
"Kami sangat senang Dewa Alchemist datang berkunjung ke tempat kami, kudengar berkat obat yang diberikan Dewa Alchemist Erina kini memiliki dada besar."
"Kalian, aku ini bukan dewa panggil saja Souma dan juga apa semua elf wanita itu dada sebesar itu."
"Hoho, itulah kebanggaan dari elf sejati."
"Kau ini pria dan kau malah terlihat senang," kata Souma datar.
"Mari silahkan ikuti saya, kalian bisa beristirahat sebentar sebelum festivalnya di mulai," atas usulan kepala desa Souma mengangguk mengiyakan sebelum akhirnya mereka menerima sebuah kamar untuk tamu.
Erina yang berdiri di depan pintu menjelaskan.
"Sebenarnya para elf di sini sangat berterima kasih padamu, walau elf wanita terlahir seperti itu terkadang ada elf yang berakhir sepertiku sebagai papan cucian dan mereka biasanya tidak kuat dan akhirnya memilih pergi dari desa... dengan adanya Souma masalah yang menghantui desa kami telah teratasi."
Bagi Souma itu hanya masalah konyol.
Dia tahu bahwa akan ada lebih banyak elf yang datang padanya mulai sekarang.
"Masalah kalian teratasi karena masih ada aku, kalau aku mati kalian akan bingung lagi loh."
"Meski Souma bisa menyembunyikannya dari orang lain tapi aku tahu bahwa Souma sebenarnya abadi bahkan lebih tua dari kami semua."
Entah Anna maupun Risela keduanya sangat terkejut.