Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung

Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung
Chapter 325 : Sebuah Dungeon


Daging yang dibeli Riel, adalah daging yang mirip seperti daging unggas, Souma memikirkan untuk menggorengnya di wajan setelah melumurinya dengan berbagai bumbu. Setelah bagian daging luarnya masak dia memasukan berbagai sayuran dan kembali menumisnya.


Lugunica menatap dengan pandangan bersinar.


"Aromanya sangat harum, apa masih belum matang?"


"Sebentar lagi."


Riel dan Karina juga sedikit tertarik dengan aromanya hingga pandangan keduanya juga tidak bisa lepas dari wajan.


"Kalian bertiga benar-benar terlihat tidak sabaran."


Souma memberikan jatah masing-masing hingga ketiganya terlihat bahagia.


"Enak sekali, tolong tambah."


"Aku juga."


"Bagaimana denganmu Karina?"


Karina dengan malu-malu mengulurkan tangannya yang memegang mangkuk.


"Aku juga kalau masih ada."


Itu membuat Souma terkejut.


Ternyata kau juga bisa bersikap seperti itu yah? Katanya dalam hati.


Setelah selesai mereka pergi ke dungeon, itu mengingatkan tentang masa lalu saat beberapa monster keluar dari sana untuk menghancurkan desa. Entah desa atau tempat ini semuanya selalu mengalami perubahan.


Riel dan Karina sama-sama memegangi sabit di tangannya sedangkan Lugunica masih mengemil dengan roti di tangannya.


"Enak sekali."


Souma memilih untuk tidak berkomentar apapun kecuali melangkah masuk ke dalam dungeon. Mereka bertemu gerombolan goblin yang segera dilenyapkan oleh penjaga makam.


"Hmm apa goblin rasanya enak?"


Mereka bertemu Orc yang ditebas cepat oleh Souma.


"Hmm apa Orc rasanya enak?"


Mereka bertemu dengan Ogre, menyerupai Orc namun memiliki tubuh lebih besar dan kuat.


"Hmmm apa Ogre rasanya enak?"


Tak lama mereka menemukan zombie.


"Hmmm apa zombie rasanya enak?"


"Apa hanya itu yang kau katakan Lugunica?"


"Memangnya apa lagi yang harus kukatakan selain itu."


Dia berubah menjadi naga rakus.


Naga memiliki perut besar jadi itu hal yang wajar.


Mereka bergerak dengan kecepatan tinggi hingga mencapai pertengahan dungeon yang di dindingnya diisi oleh berbagai tanaman yang bercahaya. Souma memetiknya untuk dibawa pulang.


"Aku tidak suka tanaman karena rasanya tidak enak."


Semua orang memilih mengabaikan Lugunica soal dia menilai sesuatu dengan bagaimana mereka terasa di mulutnya.


"Biar aku bantu Souma."


"Maaf merepotkan."


"Jangan khawatir, aku senang bisa membantu.. jika kau tiba-tiba bergairah tolong gunakan tubuhku untuk meredakannya."


"Bukannya perkataanmu sangat berbahaya."


"Eh benarkah? Aku pikir gadis kota selalu mengatakan itu."


Dia mungkin bertemu salah satu pelayan Souma di kota.


Lugunica dan Karina hanya duduk di batu mengawasi dinding atas gua yang bersinar seperti langit malam.


Sinar itu berasal dari cacing bintang jadi tidak aneh jika beberapa dungeon terlihat seperti itu.


"Sebentar lagi tugas kalian selesai, setelah kota penyihir kembali apa yang akan kalian berdua lakukan?"


"Tidak ada lagi yang harus kami lakukan jadi kurasa kami berdua akan tinggal di kota penyihir."


"Begitu, aku senang mendengarnya. Vanitas telah banyak memberikan rasa sakit di dunia ini walau tidak seutuhnya aku bersyukur bahwa kita masih bisa melakukan sesuatu."


"Aku tidak ingin mengakuinya tapi semuanya juga berkat Souma."


"Aku setuju dengan itu."


Setelah mereka berhasil mengumpulkan banyak tanaman mereka melanjutkan kembali perjalanan, di lantai terakhir mereka bisa melihat tumpukan batu raksasa yang hanya diam dan bergerak saat mereka dekati.


Matanya bersinar terang lalu mengirimkan tinju ke arah mereka.


Riel dan Karina melesat maju untuk memotong kedua tangan tersebut dan di saat yang sama Lugunica melompat ke atas wajah golem tersebut, dengan satu pukulan, golem itu meledak dahsyat dan tumbang.