
Di tempat lain di sebuah kedai, tepatnya di pojokan jauh dari hiruk pikuk banyak orang, Souma memesan dua cangkir teh untuk dirinya dan Stelfania, Lugunica mengeluh karena tidak dibelikan namun dia sebuah pedang, dia tidak minum sesuatu ataupun makan jadi hal itu wajar untuk melewatkannya.
Setelah berdeham sekali, Lugunica mulai menceritakan dirinya. Semua itu dimulai saat dia meninggalkan kota naga dan hidup sebagai manusia paling tidak dia ingin dianggap demikian.
"Lugunica, cepat ambil piring-piring kotor itu dan cuci di dapur."
"Baik."
Seorang gadis berambut emas bernama Lugunica telah disibukkan dengan pekerjaan restoran yang diambilnya, ini sudah tiga bulan semenjak dia bekerja sampai saat ini ia masih belum memutuskan untuk keluar.
Lugunica dari awal tidak berniat menetap di satu tempat namun sayangnya dia butuh uang untuk berpergian, ia bisa saja merubah dirinya menjadi naga dan hidup di alam bebas tanpa uang namun ketertarikannya pada kehidupan manusianya membuatnya terus bertahan.
Beberapa pria sering menggodanya dan ia hanya tersenyum kecil, bahkan fakta bahwa ia memiliki tanduk dan ekor tidak membuat semua orang takut. Naga bisa menyembunyikan kedua hal itu namun Lugunica tidak berniat melakukannya, entah hasil apa yang bisa diraihnya dia akan bangga hidup sebagai naga.
"Seperti biasa Lugunica sangat manis, aku jatuh cinta padanya, aku ingin memegang dadanya yang besar," seorang yang mengatakan itu adalah wanita pelayan rekan kerjanya sendiri.
"Kau serius mengatakan itu, kau akan ditangkap karena melanggar peraturan perlindungan loli di kota ini loh."
"Aaah soal itu.. kenapa harus ada peraturan seperti itu."
"Agar melindungi mereka dari orang sepertimu."
Selepas bekerja Lugunica akan kembali ke rumah yang disewanya, sayangnya hari ini dia tidak akan kembali sendirian, di pagar itu dua orang berpakaian suster hitam dan putih tampak duduk dengan darah menetes dari sekujur tubuhnya.
"Kalian?"
"Menjauhlah dari kami berdua, kami penyihir."
"Memangnya kenapa, aku akan membantu kalian berdua."
Bagi Lugunica membawa mereka sangatlah mudah.
"Karina apa yang akan dia lakukan pada kita?" tanya wanita berpakaian putih dan yang hitam menjawab dengan nada malas.
"Mungkin dia akan membakar kita dan memberikan daging kita pada hewan ternak."
"Tidak berkeprimanusian."
"Aku tidak akan melakukan itu oke, meski aroma kalian tercium enak aku bisa menahan diri, yah kalau 'tidak' apa boleh buat."
Keduanya terdiam senyap.
"Saat naga bercanda aku tidak tahu mana perkataan benar dan salah."
"Itu artinya naga pandai berbohong."
Lugunica tersenyum masam, kepribadian orang dibawanya sungguhlah aneh tapi dia yakin keduanya bukan orang jahat, buktinya mereka malah mengusir Lugunica agar dia tak terkena masalah.
Lugunica membiarkan mereka duduk di sofa lalu mengambil alat p3k untuk menyembuhkan luka mereka, dia membiarkan mereka untuk melakukannya sendiri sementara dirinya pergi untuk mandi, setelah selesai dia menemukan bahwa keduanya telah terikat perban di mana-mana.
"A-aku tidak bisa bergerak."
"Bagaimana aku menggunakan ini."
"Kalian serius."
"Um."
Lugunica menghela nafas panjang sampai-sampai ia melupakan handuk yang melorot dari tubuhnya yang mana menampilkan pucuk dada indah dari warna bunga sakura, karena baru mandi kulitnya terlihat berwarna serupa.
"Ugh, tubuh yang indah dan boing-boing."
"Uwaaah... kalian melihatnya?" Lugunica buru-buru memperbaiki handuknya.
"Kita sama-sama wanita jadi tak masalah pamer."
"Aku tidak pamer," jawab Lugunica mengembungkan pipinya.
"Ngomong-ngomong aku ingin minum, apa tidak ada sesuatu yang bisa diberikan pada kami?"
"Karina kamu tidak sopan, aku minta makan saja"
"Kalian benar-benar menyebalkan."
"Kalau membantu orang jangan setengah-setengah loh."
"Um um."
"Baik, baik, biarkan aku ganti pakaian dulu dan sebaiknya kalian menceritakan apa yang terjadi pada kalian berdua."
Mereka mengangguk setuju.