
Itu adalah sebuah reruntuhan yang ditinggalkan, setiap lantainya telah hancur bangunannya tertutup lumut dan tanaman Ivy menjalar di sekitarnya, tidak ada tempat untuk beristirahat yang jelas semua itu tadinya adalah sebuah kota.
Janet memperhatikan sekelilingnya dengan pandangan berbinar, entah apa yang ingin dia lakukan namun ia jelas tidak bisa menahan dirinya untuk menyelidiki, sementara Souma hanya menghela nafas panjang memperhatikan dari belakang khususnya soal tubuhnya yang menggeliat tak karuan.
Dia berbalik.
"Ngomong-ngomong Souma, kamu belum memberitahukan alasanmu datang kemari?"
"Soal itu, aku datang untuk memperbaiki kota ini."
Janet memiringkan kepalanya, memperbaiki bagaimana seorang mampu melakukannya terlebih?
Sebelum dia menanyakan lebih jauh Souma lebih dulu menjelaskan.
"Mungkin ini aneh, tapi seseorang bilang bahwa suatu hari penduduk di kota ini akan kembali, kurasa aku hanya ingin membantu keinginannya dengan mengembalikan situasi kota sedia kala."
Sebenarnya yang mengatakan itu adalah dua orang kembar penjaga makam Sanctuary.
"Mustahil kamu melakukan hal itu, kau perlu banyak orang melakukannya terlebih tanpa bayaran."
"Aku sudah cukup, terlebih anggap saja ini kerja amal."
"Hanya demi seseorang kamu melakukan itu, kamu pasti menyukai orang itu, siapa wanita itu?"
Souma mengibas-ngibaskan tangannya.
"Kami hanya teman lagipula aku sudah menikah."
"Di usia muda sudah menikah... aku sudah 30 tahun tapi belum menikah. Yah terserahlah, aku akan mulai memeriksanya, pastikan untuk tidak melakukan apapun sebelum aku selesai."
"Dimengerti," jika menghitung kelahiran Souma jelas paling tua di sini.
Untuk pertama, Souma hanya akan mencoba memperbaiki tembok yang mengelilingi kota ini. Lugunica menguap lebar yang menandakan dirinya baru bangun tidur.
"Tidurku sangat nyenyak, apa kita sudah sampai?"
"Aah, aku baru memulai untuk memperbaiki kota ini."
"Apa itu?"
"Cairan pembasmi hama."
"Benar-benar efektif, lalu bagaimana cara mengembalikan bagian yang berlubangnya."
"Mudah saja."
Souma mengulurkan tangannya dan setiap reruntuhan yang berserakan menyusun kembali sedia kala.
"Sihir waktu."
"Jadi begitu."
Souma kembali menyemprotkan cairan pembunuh hama dan setelah sore hari dia akhirnya selesai melakukannya, tentu bagian sisi lain tembok masih belum dikerjakan, tak lama sebuah teriakan menggema hingga membuatnya berlari untuk memeriksa.
Itu berasal dari tengah kota dan dari suaranya jelas adalah Janet, dia terikat oleh beberapa sulur membuatnya terlihat tidak senonoh.
"Pahaku diregangkan, jangan melihatnya."
"Jika aku tidak melihatnya bagaimana aku menyelamatkanmu?" jawab Souma acuh tak acuh.
Souma melompat ke udara lalu memberikan beberapa tebasan untuk membebaskannya sebelum melompat mundur selagi menggendongnya di depan.
"Kau baik-baik saja?"
"Hatiku yang tidak baik-baik saja."
Souma melepaskan tangannya sehingga tubuh Janet jatuh ke bawah.
"Sakit, lakukan dengan lembut."
"Tidak ada waktu, dia datang."
Tanaman yang menyerang Janet adalah sebuah tanaman mirip bunga dengan mulut di bagian bawahnya, jika disebut tanaman rasanya kurang pas maka gambaran monster adalah hal yang tepat.
Souma mengayunkan pedang katananya dan itu membelah monster tersebut dengan rapih.
"Tunggu, dari mana pedangmu itu muncul? Dan juga bukannya menggunakan pedang di punggungmu lebih efektif."
"Fufu, aku ini barang special aku hanya digunakan di waktu-waktu tertentu," balas Lugunica sombong.
Sejauh ini Souma belum pernah menggunakannya meski demikian dia yakin bahwa kekuatan dan ucapan sombong Lugunica adalah hal sebenarnya.
"Kalau begitu boleh aku mencoba pedangmu, aku yakin aku bisa menebas sesuatu dengan itu."
"Bagaimana Lugunica?"
"Aku tidak keberatan, aku mengizinkannya."
Souma memberikan pedang Lugunica pada Janet dan ia seketika merasakan perpindahan pedang besar tersebut.
"Berat sekali."
"Ada satu monster lagi yang datang."
"Ini waktunya aku bersinar, anggap saja ini balasan karena melecehkanku barusan."
Janet mengarahkan pandangannya pada monster yang bergerak mendekatinya, dengan susah payah ia mengangkat pedang ke atas lalu menjatuhkannya ke bawah, hanya dengan itu entah monster atau bangunan di belakangnya terbelah menjadi dua bagian menciptakan garis lurus dengan kehancuran tak tertandingi.