Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung

Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung
Chapter 185 : Pertemuan Dua Alchemist


"Ini buruk, para kekaisaran menggunakan teknik piramida," suara itu berasal dari Serena yang menempatkan bidak musuh di atas sebuah peta raksasa membentuk segitiga.


Viyane menambahkan.


"Mereka mengirim pasukan pertama untuk menghadapi kita dan dua kelompok pasukan lagi akan dikerahkan sebagai bantuan, dengan kata lain mereka memasang orang-orang yang kuat untuk menahan stamina pasukan kita dan menyelesaikan di gelombang kedua."


"Kita bisa melakukan taktik yang sama namun jelas kita masih berada di kelompok yang tidak diuntungkan, berkat Alchemist itu peralatan mereka lebih baik di atas kita."


"Apa lebih baik kita serang saja dua kelompok di belakangnya lebih dulu, sejauh ini mereka pasti berfikir bahwa mereka masih belum terdeteksi."


"Itu ide bagus, dan kita serang sekaligus kelompok di depan tapi sayangnya jumlah pasukan kekaisaran tetaplah banyak kita tidak akan berhasil."


"Lalu bagaimana jika aku membantu."


Tepat di antara percakapan para pemimpin itu sosok Lilith muncul di meja selagi berdiri dengan pakaian pelayannya.


"Iblis?" keduanya tersentak secara bersamaan.


"Aku bukan iblis, aku seekor naga."


Tanduk terkadang bisa salah diartikan.


"Namaku Lilith, tuanku Souma bilang mungkin aku bisa membantu di tempat ini, jika aku suruh mengalahkan dua kelompok di belakang ini, itu mudah jadi kalian tidak perlu membagi orang untuk gelombang pertama."


"Kau yakin?"


"Tentu, biasanya aku petarung solo."


"Kalau begitu aku mengandalkanmu."


Lilith menghilang dalam sekejap.


"Serena bukannya yang barusan benar-benar mengerikan, apa dia semacam tingkat bencana atau hal lainnya."


"Bagaimana aku mengatakannya tapi aku pikir dia bisa menelan keberadaan dunia jika dia mau, wajar saja Souma begitu dekat dengan sang dewi ia juga memiliki bawahan yang kekuatannya tidak masuk akal."


Keduanya mulai meragukan diri mereka sendiri sebagai ras terkuat.


Lilith muncul di atas dahan pohon selagi melihat banyak prajurit berjalan di bawahnya.


Ketika para prajurit itu menengadah, semuanya telah berakhir, kawah raksasa tercipta di sana dengan abu yang bertebaran terbuat dari manusia.


"Tinggal satu tempat lagi."


***


Souma berjalan di sekitar kota sembari melihat bagaimana semua orang hidup pada umumnya, tidak ada hal yang terasa aneh atau mencurigakan semuanya hidup damai.


Terlepas bagaimana kaisar dari wilayah ini mencoba menginvasi negara lain, dia jelas bukan tipe yang mengabaikan penduduknya sendiri.


Semua orang memiliki kehidupan baik, itu seperti memiliki dua ukiran koin berbeda untuk menggambarkannya. Di sisi lain dia dihormati sebagai orang yang membawa kemakmuran pada penduduknya sendiri dan disisi lain membawa keburukan bagi orang lain.


Hal seperti ini mungkin sesuatu yang terjadi diperang dunia 1 dan 2 dimana setiap negara berlomba-lomba untuk mengambil wilayah orang lain dan mencoba memanfaatkan sumber daya yang bukan milik mereka seenaknya.


Apapun alasannya mengambil hak orang lain adalah hal salah dan Souma jelas tidak akan segan membunuhnya.


Meski dia sudah tidak terikat dengan dunia pertama ia selalu mendengarkan bagaimana dunianya tumbuh hingga sekarang dari sang dewi, baginya itu adalah seperti dongeng pengantar tidur.


Ia ingat saat ditunjuk sebagai seorang komandan batalion di sebuah negara di dunia tertentu, menjadi penjahat untuk menggulingkan orang-orang yang mengatasnamakan keadilan serta lainnya.


Walau terkesan hal merepotkan yang banyak dilaluinya, semuanya terasa nostalgia. Souma berhenti di depan toko makanan bersamaan saat seseorang dengan mantel dan kacamata mendekat ke arahnya.


Ia memiliki rambut panjang putih acak-acakan menyerupai landak.


Tangannya terjulur ke tanah dan dalam sekejap sebuah tombak tercipta melalui sebuah pasir besi ke tangannya.


Tombak itu ditusukan ke depan memaksa Souma menahannya dengan pedangnya.


"Menarik sekali, kau bisa menyadariku dengan mudah."


"Itu bukan hal sulit, jadi kau Alchemist jenius tersebut."


"Aku lebih suka dengan nama God Machine."


Dan ledakan menelan keduanya.