
Dunia dimana dipenuhi dengan pepohonan yang rimbun yang masing-masing akarnya bisa bergerak untuk menyerang mereka berdua. Stella menebas beberapa yang tertuju padanya namun dia melewati satu hingga mengikat kakinya kemudian menjatuhkannya menembus tanah. Walau itu dimensi buatan rasa tanah serta aroma pohon semuanya adalah sama. Sementara itu Undine telah dilumpuhkan dengan berbagai akar yang mengikat kaki dan tangannya.
Tidak ada hal seperti tindakan senonoh yang dapat digambarkan dari tempat ini, kemampuan ini ditunjukkan hanya untuk satu hal.
Yaitu untuk membunuh.
Stella keluar dari lubang dengan dorongan kuat seolah dia bisa terbang ke langit, menggunakan pedangnya dia melepaskan ikatan Undine kemudian menebas pohon yang paling dekat sebelum mendarat dengan baik di tanah bersamanya.
"Aku tertolong."
Stella adalah seorang pahlawan yang tidak tercatat di dalam sejarah singkatnya memang ia sengaja tidak mencatatkan hal itu supaya keluarga Duke tidak mengambil mata penduduk kerajaan hingga menciptakan sebuah kesenjangan di antara para bangsawan. Hal itu terkadang bisa menjadi boomerang untuk melakukan kudeta bagi orang-orang yang menginginkan jabatan. Kendati demikian kudeta tetap terjadi saat kekaisaran hendak memperluas kekuasaan.
Jika sedikit memutar waktu ia bersama Risela lah yang menghadapi sosok Anna saat invasi besar-besaran yang dilakukan ras iblis, saat itu jika bukan karena Souma yang meminta untuk melepaskan Anna, mungkin semua tidak akan terjadi seperti sekarang dimana ras manusia ataupun ras iblis memilih untuk berdamai tanpa peperangan. Demi menjaga kedamaian itu dia juga harus mampu mengalahkan kesatria suci ini.
Undine merapalkan sihir ledakan yang keluar dari tongkatnya hingga meledakan beberapa titik pepohonan.
Musuh mereka telah bersembunyi di tempat tak terlihat dan ini tugas mereka untuk mencari tahu. Stella menusukkan pedangnya menciptakan retakan tanah yang membuat pepohonan tersebut amblas ke bawah dan di saat yang sama ia mengulurkan tangannya ke atas menciptakan lingkaran sihir yang menjatuhkan kilatan petir untuk membunuh pohon demi menciptakan area kosong di sekitar keduanya.
Undine memusatkan dirinya untuk merasakan keberadaan musuh, tepat saat ia mengetahuinya ia membuat bola api raksasa yang mana meluncur menerobos pepohonan, Armor yang telah ketahuan terhantam langsung dari depan, menciptakan ledakan ke udara.
Dia sebelumnya gosong dan sekarang meledak, itu menjadi serangan vital untuknya.
Dia berusaha bangkit kembali namun Stella telah muncul di depannya dan dengan ringan memenggal kepalanya. Ini kemenangan keduanya, akan tetapi belum seutuhnya.
"Kita masih belum kembali?" tanya Undine.
"Magic Creator adalah kekuatan untuk menyeret siapapun ke dalam dimensi ciptaannya, tergantung orangnya kekuatannya selalu berbeda-beda, terkadang meski membunuh penggunanya kita tidak akan bisa keluar kecuali menghancurkan setiap musuh di dalamnya."
"Pohon ini terlalu banyak untuk kita hadapi."
"Hanya dua pilihannya untuk kita bertarung atau mati."
"Aku pikir aku akan memilih yang pertama."
Keduanya saling bahu membahu untuk menyerang pepohonan melalui sihir mereka.
Sementara di tempat lain Laura van Arslam yang tengah menggendong gadis kecil sedang dikejar-kejar sepuluh orang berjubah putih.
Jebakan itu tak lain tak bukan dibuat oleh Asetasius yang bersembunyi bersama Naysia di dalam gang, Naysia adalah pelayan Souma di kediaman mansion yang diberikan oleh pak tua Jean yang telah meninggal dunia.
"Mereka menyerang kita besar-besaran, bagaimana menurutmu Asetasius?"
"Hanya orang-orang bodoh yang berani melakukannya saat kitalah yang menjaga kota ini."
Asetasius melirik ke atas gang, tepatnya di atap-atap rumah dimana di sana telah dipenuhi banyak wanita berpenampilan Maid, dengan Naysia mereka semua berjumlah 300 orang dan semuanya adalah vampir yang melayani Souma.
Naysia mengangkat tangannya.
"Kita tunjukan bahwa mereka tak boleh meremehkan kita, bergerak."
Semuanya menghilang dalam sekejap.
"Kalian berubah menjadi vampir apa tak masalah?"
"Tidak apa, kami ingin terus melayani tuan Souma, ini adalah keputusan yang terbaik."
"Kalian sangat mencintainya."
"Benar, kapan saya bisa melayaninya juga di atas ranjang."
"Maid memang dipekerjakan juga seperti itu."
Para pelayan mulai berpencar untuk menyisir seluruh kota, hal itu bisa dilihat jelas oleh Lilith yang berdiri di atas menara bersama Beatrix.
"Mereka semua sangat bersemangat, lebih baik aku juga pergi, bagaimana denganmu nona Lilith?"
"Pertarungan ini tidak menarik, aku hanya akan memilih yang kuat saat aku menemukannya."
"Kalau begitu sampai nanti."
Lilith jelas tidak ingin repot untuk mengalahkan orang-orang lemah.