
Avelin, Sera ataupun Yuna masing-masing dari mereka memiliki kesulitan berbeda.
Avelin sebelumnya bergabung di sebuah kelompok petualang, saat menjelajah dungeon dia ditinggalkan begitu saja sebagai umpan dan sejak itu dia seperti ini.
Sera penyihir kuat namun karena terlalu gugup dia selalu mengacaukan dirinya.
Sementara Yuna, dia terlalu mengerikan untuk jadi seorang pendeta ataupun pengajar.
Mengesampingkan masalah yang terjadi pada mereka, ketiganya suatu hari mungkin akan sedikit lebih baik.
Souma mengaduk sup buatannya kemudian mengisinya ke dalam mangkuk sebelum memberikan ketiganya.
"Ini pertama kalinya ada seseorang yang baik padaku, aku ingin mati."
"Kenapa ke arah sana," balasnya pada Avelin.
"Enak sekali... kalau saja aku tidak gugup aku pasti bisa menunjukan kekuatanku."
"Souma sepertinya kamu punya warna darah yang indah, boleh aku melihatnya, satu tetes yah yah."
Souma mencengkeram kepala Yuna.
"Sakit, sakit, sakit... kepalaku bisa pecah."
Kalau orang ini vampir semua manusia pasti dalam bahaya, apa yang dipikirkan Souma sekarang.
"Makanlah dengan baik lalu setelah itu mari lakukan sesuatu pada kalian, aku tidak mau mengatakannya tapi kalian masih harus diubah sebelum melatih para petualang baru."
"Apa kami akan dipecat, aku ingin kembali ke ruanganku."
Souma jelas membantahnya setelah dia melepaskan Yuna.
"Tentu saja tidak, singkatnya kalian akan cuti sementara waktu.. Risela dan Stella akan menggantikan kalian besok."
"Um."
Avelin memucat, sampai segitunya dia tidak ingin bekerja.
Di sisi lain Sera yang paling optimis.
"Kalau saja aku bisa sedikit percaya diri maka aku akan menjadi lebih kuat."
Dia terus mengulang mantera aneh seperti itu.
"Itu awal baik, lalu denganmu Yuna?"
"Sudah sejauh ini apa boleh buat, tapi sistem mengajarku sudah bagus."
"Tidak sama sekali, kau yang paling menakutkan."
"Tidak sopan menyebutku begitu."
Souma menjatuhkan bahunya dan kembali menyuapi dirinya dengan masakannya sendiri, ia mendirikan tenda untuk mereka tinggali.
"Saat malam hari mereka sangat agresif, sesekali aku ingin menghabiskan waktu dengan tenang."
Ketiganya memiringkan kepala.
"Maksudnya apa?"
"Entahlah."
Dan Yuna yang lebih dulu mengerti.
"Pasti berat hidup dikelilingi banyak wanita."
Souma malah dikasihani.
Souma mengerenyitkan alisnya, dia hanya perlu menghubungi Lilith dan Lilith akan mengatakan pada yang lainnya bahwa dia tidak bisa pulang.
Rencana seperti ini selalu berhasil.
Sekitar 50 orang pelayan tampak menjatuhkan bahunya lemas saat Lilith mengutarakannya.
"Aku pikir ini terlalu berlebihan, kalian seharusnya mulai membuat jadwal dengan hanya 10 orang setiap malam."
"Aku pikir itu ide bagus, mari mengundi urutannya."
Lilith terlihat senang bahwa idenya diterima baik.
Beatrix yang berada di sebelahnya hanya menggelengkan kepalanya lelah.
Pagi berikutnya untuk meredakan trauma Avelin, Souma mengajak ketiganya untuk mengunjungi sebuah dungeon yang dulu pernah dikunjunginya.
"I-ini."
Kaki Avelin tampak gemetaran, bagi Souma jika dia bisa mengalahkan dungeon ini pasti akan mampu menghilangkan traumanya.
Yuna mendengus selagi menyibakkan rambutnya. Dia menunjukan wajah serius.
"Dibandingkan cara ini, lebih baik kita bunuh petualang yang dulu pernah meninggalkan Avelin dan biarkan dia mandi dengan darah mereka."
"Permisi, kau seorang pendeta loh."
"Aku hanya menyarankan cara tercepat."
"Tidak, aku pikir ini patut dicoba... mari lakukan."
Sera mengangguk dengan semangat sebelum memimpin jalan di depan, ketika seekor monster melompat padanya dia memanggangnya dengan sihir api tingkat atas.
"Bukannya kau sangat hebat, kau juga tidak gugup saat kami melihatnya?" ucap Yuna.
"Jika dengan kalian aku tidak masalah, tapi jika dengan para petualang, aku sangat gugup."
Itu jelas tidak masuk akal.