Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung

Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung
Chapter 231 : Kepungan


Walau langit terlihat cerah bagi Law yang melihatnya semuanya kelabu, tentu saja itu hanya sebuah perumpamaan, dia telah gagal menyelamatkan ibukota termasuk kehilangan satu-satunya keluarga yang tersisa baginya.


Dan sekarang dia harus melindungi semua hal yang ada di kota ini, tepat ketika memikirkannya muncul sebuah jam raksasa di langit.


"Apa itu?"


Ketika suaranya menggema Law yang berdiri di atas tembok sepanjang kota dikejutkan dengan 10 tengkorak raksasa yang muncul di depannya, tengkorak itu mulai berpencar dan masing-masing hendak merobohkan tembok, satu tengkorak mengarah ke arah Law dimana keduanya saling bertatapan secara langsung.


Dia mengirimkan tangannya yang mana ditebas oleh Law dengan mudah, potongan jari berjatuhan ke bawah, sebelum tengkorak itu kembali bergerak pedang Law telah menghancurkan kepalanya.


Di tempat lain beberapa orang yang tidak seberuntung dengannya dijatuhkan dari tembok tinggi, dihancurkan layaknya nyamuk.


"Tidak! Hentikan... gwaaah."


"Apa-apaan ini semua?"


Hampir semua pasukan yang bersiaga di tembok telah dihabisi, Stella yang berada di bawah bahkan harus naik ke atas selagi merobohkan satu tengkorak paling dekat darinya sebelum berlari pada Law.


"Ini buruk, mereka tidak datang dari depan... mereka menggunakan saluran bawah tanah untuk menyerang kita."


"Mereka melakukannya sejauh itu."


Law berjaga di luar namun sejujurnya musuh telah melewatinya sejak lama. Dari 10 tengkorak tersisa 8 lagi dan Law memutuskan untuk mengalahkan mereka dulu.


"Biar aku yang mengatasinya, kau lawan yang ada di dalam saja."


"Dimengerti."


"Tembak!"


Peluru api dari beberapa tentara diarahkan pada salah satunya, Law yang jatuh dari langit menghancurkannya dengan pedang.


"Komandan?"


"Semua orang jauhi tembok, musuh ada di dalam kota jika kalian menemukannya langsung bunuh."


"Kami mengerti."


Untuk pertama kalinya Law bertindak di luar dari kesatria, dia selalu berharap bisa menangkap mereka dengan hukuman adil namun kondisi seperti ini hanya memiliki dua pilihan. Dibunuh atau membunuh.


Tepat saat dia akan beralih ke tengkorak lain, seorang juga jatuh di depannya.


Dia seorang pria mengenakan seragam merah muda, tubuhnya kurus dan wajahnya pucat, berbeda dari seorang yang bertarung dengan senjata ia membawa suling di tangannya.


"Kau jadi lawan pertamaku, menarik."


"Dua belas kesatria suci."


"Tepat."


Ketika dia meniup serulingnya sebuah tekanan dirasakan Law yang mana menariknya ke bawah.


"Owh, menarik... kau bisa menahan tekanan, harusnya tubuhmu sudah hancur."


Pedang Law dibuat secara khusus dan diisi berbagai mantra dari penyihir rembulan, ia biasa mengatur pedangnya di berat satu ton sebagai latihan dan paling berat sampai mencapai gunung raksasa.


Pria di depannya tertawa selagi menutupi wajahnya.


"Namaku Lian, kurasa aku menemukan lawan yang bagus.. hibur aku kesatria."


Law melesat maju dengan pedangnya, tanpa menghilangkan senyuman di wajahnya Lian menahan pedang tersebut dengan suling.


"Auman raja hutan."


Dari suling tersebut menciptakan sebuah suara yang menghempaskan Law mundur ke belakang, saat dia mencoba kembali memperkuat kuda-kudanya, tendangan menghantam wajahnya hingga dia menukik jatuh ke bawah, bukan ke dalam kota melainkan keluar tembok yang permukaannya hanya diisi rerumputan hijau.


Sebuah kaki tengkorak menginjaknya hingga menyemburkan tanah ke udara. Lian yang turun mengikuti memiringkan kepalanya.


"Apa sudah selesai?"


Bersamaan itu tengkorak yang menginjak law hancur.


"Jadi begitu, kau yang mengendalikan makhluk-makhluk menjijikan ini."


"Itu adalah karya seni, orang sepertimu tidak akan mengerti apa itu seni."


Law menyeringai.


"Seorang petualang di kota kami lebih tahu apa itu seni."


"Apa maksudmu?"


Entah Law atau Lian keduanya mengalihkan pandangan ke seorang penyihir yang berdiri di atas tembok, dia mengenakan jubah panjang serta topi runcing di kepalanya dan tak lupa tongkat di tangannya.


"Hanya orang-orang bodoh yang berani menyerang kota ini saat aku datang dan sedang mager, aku Undine seorang penyihir yang melalui jalur ledakan tak terhitung jumlahnya, siapapun musuhnya akan kuledakan semuanya tanpa sisa, rasakan ini para bedebah sialan!"


"Orang itu?" tanya Lian bingung.


"Baginya seni adalah ledakan."


Setelah Undine menyelesaikan rapalan brutalnya, lingkaran sihir raksasa bermunculan tepat di kepala tengkorak yang tersisa, para penjaga serta petualang yang ikut melawannya mulai ketakutan di dalam tembok.


"Semuanya lari, tidak salah lagi ini sihir dari si penyihir gila."


"Orang itu ingin meledakan kita juga."


"Hoho, kalian ketakutan wajar saja, karena aku penyihir terkuat. Flame Burning Explosion."


Dan ledakan menggema ke seluruh penjuru wilayah.


"Ya ampun, ada orang gila di kota ini."


"Tapi dia cukup bisa diandalkan."


Law mengayunkan pedangnya dan Lian melompat menghindarinya.