Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung

Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung
Chapter 156 : Keluarga Testarosa


Sebuah gerbang berkarat menyambut kedatangan kelompok Law. Di belakang gerbang yang sepenuhnya telah tertutup tanaman Ivy tampak sebuah rumah yang berdiri megah.


Meski bangunan itu megah dan luas semuanya telah terbengkalai, Law mendorong gerbang tersebut agar ketiganya bisa masuk dengan mudah.


"Ini rumahku?"


"Iya, sepertinya kau telah melupakannya."


Law secara sengaja bertanya ke banyak orang tentang keluarga Testarosa.


Marinna memang melupakannya namun tidak berlebih bahwa ingatannya juga akan mulai mengalir kembali sebanyak tempat yang dilihat sepanjang langkah mereka.


Ada sebuah ayunan di sana yang mana membuat Marinna mengingat dirinya dan kakaknya yang sedang bermain bersama.


"Aku benar-benar melupakannya."


Pandora hanya mengawasi dengan pandangan tidak tertarik sebelum mengikuti masuk ke dalam mansion, banyak perabotan yang dibiarkan begitu saja dan di sana beberapa album foto ditempel dengan baik.


Law cukup terkejut dengan penampilan Marinna dahulu kala, ia adalah gadis kecil yang sehat dengan mata besar serta senyuman polos. Tubuh Marinna sekarang bukan tubuh aslinya jadi itu benar-benar tidak mirip dengannya.


"Ini mengejutkan, orang mengerikan seperti Marinna bisa berekspresi seperti itu juga," kata Pandora.


"Apa maksudnya mengerikan, aku tetap sama."


Law meragukannya.


"Jadi apa yang kita lakukan di sini?"


"Kita akan mencari sebuah informasi, aku merasa bahwa gereja dan keluarga Testarosa memiliki sangkut pautnya."


"Aku hampir melupakan masa lalu karena itu aku tidak bisa membantu."


"Tak perlu khawatir, dengan ini juga sudah cukup."


Mereka menjelajahi setiap ruangan sampai akhirnya menemukan sebuah ruangan kerja satu-satunya di sana.


Law mencari tumpukan berkas di atas meja dan menemukan satu hal yang mengejutkan.


"Ini mustahil."


"Hey ada apa Law, kau telihat terkejut?"


"Marinna... Keluargamu bangsawan Marquess."


"Bagaimana bisa?"


"Ini juga mengejutkan aku tidak pernah mendengar ini bahkan membaca sejarahnya dalam buku."


"Kita akan kembali ke kerajaan Diamond."


"Kau yakin Law, bukannya kau bilang ingin mengurus soal gereja?" tanya Pandora yang mendapatkan gelengan kepala darinya.


"Aku mendapatkan firasat buruk tentang semua ini."


Seminggu semenjak pesta teh digelar Souma menjalani hidupnya kembali dengan santai, dia berbaring di atap toko selagi memandang awan di atas kepalanya.


"Kau sedang bermalas-malasan Souma."


Ia terkejut bahwa Astrea telah ada di sampingnya, dari posisinya dia bisa dengan jelas mengintip ke dalam roknya.


"Warna putih kah."


"Jangan mengatakannya tanpa dorongan seksual, aku juga bisa sedikit terluka sebagai seorang wanita."


Souma membetulkan tubuhnya untuk duduk bersebelahan dengannya.


"Apa ada sesuatu yang terjadi?"


"Tidak ada, aku hanya ingin menemui adikku yang pemalas."


"Pemalas, kupikir aku telah banyak melakukan sesuatu belakangan ini."


"Kurasa kau benar soal itu," balasnya tersenyum pahit.


Keduanya melihat bagaimana desa tempat tinggal mereka telah berubah menjadi sebuah kota besar dengan tembok mengelilinginya, lebih dari itu sebuah menara yang disebut sebagai The Tower Of Goddess berdiri menjulang ke langit.


"Apa kau masih ingat apa impianku semenjak datang ke tempat ini?"


"Kau ingin membuat tempat ini terkenal dan membuat banyak orang tinggal di sini. Beberapa kali kau juga memaksaku untuk berbuat sesuatu untuk itu."


"Haha itu benar, kurasa berkatmu impianku telah terwujud.


Astrea melirik ke arah Souma dengan senyuman di wajahnya. Rambut peraknya terayun tertiup angin dan untuk pertama kalinya Souma merasa bahwa orang ini bisa tersenyum seperti itu juga.


"Ternyata kau cantik saat tersenyum Astrea."


Telinga runcing Astrea memerah.


"Kau tidak akan mendapatkan apapun meskipun kau memujiku."


Dia malah bertingkah seperti gadis pada umumnya dan Souma mulai takut karenanya.